Koreksi Rupiah Tembus Rp18.083 per Dolar AS Akibat Sentimen The Fed BI

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 29 Juli 2026
Koreksi Rupiah Tembus Rp18.083 per Dolar AS Akibat Sentimen The Fed BI
Koreksi Rupiah Tembus Rp18.083 per Dolar AS (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai tukar uang rupiah kembali ditutup merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sesi transaksi Selasa (28/7/2026).

Beban atas mata uang Garuda disebabkan oleh perkiraan pasar bahwasanya lembaga perbankan sentral AS, Federal Reserve (The Fed), bakal membekukan tingkat suku bunga acuannya, di tengah keraguan kondisi finansial global serta pergeseran nakhoda Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data penutupan sesi pasar, kurs rupiah terkikis 74 poin atau 0,41 persen menuju level Rp18.083 per dolar AS, dari patokan sebelumnya sebesar Rp18.009 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi pengamat dinamika uang menyebutkan, para partisipan pasar saat ini sedang menanti hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), yang diramalkan tetap mempertahankan suku bunga acuan.

“Federal Reserve diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga pada hari Rabu (29/7),” ujar Ibrahim.

Ia menerangkan, berdasarkan kalkulasi CME FedWatch, kans The Fed untuk membiarkan tingkat suku bunga tetap berkisar pada level 62 persen.

Meski demikian, garis arah kebijakan finansial AS masih dibayangi ketidakjelasan buntut dari ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah yang sempat menyulut lonjakan harga minyak bumi dunia sekitar 20 persen sepanjang dua pekan pamungkas sewaktu perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran memuncak perihal Selat Hormuz.

Dikutip dari Sumbernya, selain keputusan tingkat bunga, para pemodal turut menunggu penyampaian dari Ketua The Fed Kevin Warsh.

Pihak pasar menyimak dengan saksama pendirian Warsh yang terdahulu memperlihatkan wawasan cenderung hawkish semenjak ketetapan suku bunga pada Juni silam.

Menurut pandangan Ibrahim, Warsh tetap menegaskan ikrar FOMC untuk memelihara kestabilan harga. Ia juga sedang melangsungkan peninjauan secara komprehensif terhadap tata kerja bank sentral via penyusunan lima tim kerja yang menangani bermacam lini, termasuk strategi penyampaian informasi dan pola pengendalian inflasi.

Dari ranah dalam negeri, merosotnya kurs rupiah juga terdorong oleh ketidakpastian usai mundurnya Perry Warjiyo dari tampuk jabatan Gubernur Bank Indonesia.

Ibrahim menilai fase pergantian kepemimpinan pada tubuh BI sempat mendatangkan efek negatif lantaran terjadi di tengah gempuran pada nilai tukar rupiah, pengeluaran dana asing (capital outflow), serta ancaman kenaikan suku bunga dunia.

“Namun, penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan,” katanya.

Dia menuturkan, kecenderungan fokus investor kini bergeser pada tahapan penetapan Gubernur BI definitif. Pihak pasar mendambakan tahapan ini berjalan tanpa kendala sehingga dapat memelihara tingkat kepercayaan dan kemandirian Bank Indonesia dalam mengeksekusi kebijakan moneter.

Di tempat terpisah, lembaga pemeringkat dunia S&P Global Ratings pun mengemukakan respons atas pengunduran diri Perry Warjiyo.

Menurut keterangan Ibrahim, Rain Yin Sovereign Analyst S&P Global Ratings menganggap pergeseran pimpinan ini tidak memberikan pengaruh langsung bagi sovereign rating Indonesia, walaupun berisiko memicu peningkatkan bahaya terhadap arah kebijakan ekonomi masa depan.

Sementara itu, patokan transaksi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa juga memperlihatkan penurunan menjadi Rp18.083 per dolar AS, berselisih dari angka perdagangan lalu sebesar Rp17.995 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua