Strategi Bank Indonesia Mengendalikan Stabilitas Rupiah dan Ekonomi

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 28 Juli 2026
Strategi Bank Indonesia Mengendalikan Stabilitas Rupiah dan Ekonomi
Stabilitas Rupiah dan Ekonomi (FOTO: NET)

JAKARTA - Untuk seorang pedagang, tingkat suku bunga dapat menentukan kelayakan mengajukan kredit guna menambah pasokan barang dagangan. Untuk keluarga, suku bunga terasa langsung pada angsuran rumah, kendaraan, atau kebutuhan lainnya. Untuk perusahaan, penyesuaian bunga mempengaruhi keputusan membeli mesin, membuka cabang baru, atau menunda ekspansi.

Ketetapan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen di bulan Juli 2026 mempunyai makna lebih luas daripada sekadar angka yang konstan. Tidak bergesernya BI Rate bukan berarti langkah kebijakan sedang berhenti. Nilai tukar rupiah masih diterpa pelbagai tekanan. Pada 23 Juli 2026, nilainya berada di kisaran Rp17.975 per dolar AS, tidak jauh dari angka posisi akhir Juni.

Bank Indonesia memperluas pelbagai kebijakan untuk memacu masuknya investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas rupiah, memperdalam pasar uang serta valuta asing, dan memperbaiki distribusi likuiditas antarbank. Langkah ini memperlihatkan bahwa mengawal rupiah tidak bisa sekadar mengandalkan kenaikan suku bunga.

Memelihara rupiah ibarat mempertahankan bangunan rumah saat badai menerjang. Menaikkan suku bunga seperti memperkuat satu tiang utama. Langkah tersebut penting agar rumah tidak mudah roboh. Akan tetapi, rumah tidak benar-benar aman jika atapnya bocor, jendelanya rapuh, atau saluran airnya tersumbat.

Di dalam rumah ekonomi, aktivitas perbankan tetap bergerak lumayan cepat. Penyaluran kredit tumbuh 12,67 persen secara tahunan pada Juni 2026, menguat dari 11,51 persen pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, dana pihak ketiga tumbuh 10,21 persen. Data ini menandakan perbankan masih memiliki ketersediaan dana untuk membiayai perekonomian dan tantangannya adalah memastikan likuididad tersebut mengalir ke sektor produktif.

Di sisi lain, suku bunga tidak dapat terus-menerus dinaikkan. Tiang yang diperkuat secara berlebihan malah dapat membuat ruang di dalam rumah kian sempit bagi penghuninya.

Harga dari Stabilitas

Saat suku bunga dinaikkan, instrumen keuangan rupiah menjadi lebih memikat. Kebijakan ini dapat membantu menahan keluarnya modal asing, menjaga nilai tukar, dan mengendalikan laju inflasi. Di sisi lain, kenaikan bunga juga dapat meningkatkan biaya dana perbankan dan pada akhirnya memicu kenaikan bunga kredit.

Di situlah kebijakan moneter menemui dilema. Rupiah perlu dijaga sebab penurunan yang berlebihan dapat meningkatkan biaya impor. Namun, apabila rupiah terus ditopang terutama via bunga tinggi, sektor bisnis dan rumah tangga harus membayar harga stabilitas lewat bunga kredit yang lebih tinggi. Ketetapan menahan BI Rate pada 5,75 persen memperlihatkan usaha agar ongkos tersebut tidak ditanggung sepenuhnya oleh peminjam dalam negeri.

Bank Indonesia sedang memperluas lini pertahanan dengan memperkuat struktur dari “rumah ekonomi Indonesia”. Kebijakan pendalaman pasar valuta asing mampu membuat transaksi valuta asing lebih lancar. Saat pasar lebih ramai dan likuid, satu transaksi besar tidak mudah memicu gejolak harga.

Instrumen lindung nilai juga dapat membantu dunia usaha menghadapi dinamika kurs. Secara sederhana, pelaku usaha dapat menyiapkan “payung” sebelum hujan nilai tukar turun, bukan mencari perlindungan sewaktu hujan telah terjadi.

Di sisi lain, menahan suku bunga bukan tanpa risiko. Saat tekanan pada rupiah tetap tinggi, suku bunga yang tidak dinaikkan dapat dianggap mengurangi daya pikat aset rupiah. Apabila inflasi terus mendekati batas atas sasaran atau modal asing kembali keluar, pasar dapat mempertanyakan apakah respons kebijakan cukup kuat. Keberatan tersebut tergolong masuk akal.

Namun, menaikkan suku bunga juga tidak selalu efektif jika tekanan rupiah terutama bersumber dari gejolak global, harga energi, atau ketidakpastian fiskal. Dalam kondisi seperti itu, kenaikan bunga dapat menambah beban domestik tanpa menyelesaikan sumber tekanan. Persoalan saat ini bukan memilih antara menaikkan atau menahan bunga, melainkan menentukan kombinasi kebijakan dengan biaya paling minim bagi perekonomian Indonesia.

Jangan Bergantung pada Tamu

Terdapat satu risiko yang wajib diperhatikan. Upaya menggaet investasi portofolio asing dapat membantu menopang rupiah, tetapi dana tipe ini sangat fleksibel berpindah. Dana dapat masuk saat imbal hasil memikat, lalu pergi sewaktu risiko global meningkat. Investasi portofolio asing ibarat tamu yang membantu meramaikan rumah. Kehadirannya bermanfaat, namun pemilik rumah tidak dapat menggantungkan seluruh biaya rumah tangga pada tamu yang sewaktu-waktu dapat kembali pulang.

Oleh karena itu, stabilitas rupiah tetap memerlukan sumber devisa yang lebih kokoh dan tahan lama seperti ekspor bernilai tambah, pariwisata, investasi langsung, serta industri domestik yang produktif. Kebijakan keuangan dapat meredam guncangan, namun tidak dapat menggantikan fondasi ekonomi riil.

Ketetapan mempertahankan BI Rate mempertegas bahwa beban menjaga rupiah perlu dibagi ke pelbagai instrumen kebijakan. Ketetapan ini menguji apakah rupiah dapat dijaga lewat bauran kebijakan yang lebih luas. Keberhasilan bauran kebijakan tersebut tercermin dari inflasi yang terkendali, rupiah yang tidak bergejolak berlebihan, likuiditas yang mengalir lebih merata, serta pembiayaan produktif yang tetap tumbuh.

Suku bunga akan selalu menjadi salah satu tiang utama dalam menjaga rumah ekonomi. Namun, rumah yang kokoh tidak berdiri di atas satu tiang saja. Pertanyaannya: Apakah instrumen lain sudah cukup kuat menahan badai tekanan global, atau masyarakat kembali diminta membayar biaya stabilitas lewat cicilan dan biaya usaha yang kian mahal?

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua