Rupiah Diprediksi Melemah Dipicu Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 24 Juli 2026
Rupiah Diprediksi Melemah Dipicu Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Rupiah Diprediksi Melemah (FOTO: NET)

PALEMBANG - Pemerhati pasar dari Doo Financial Futures meramalkan nilai tukar rupiah bakal mengalami kecenderungan penurunan terhadap dolar AS dalam transaksi Kamis, berbarengan dengan eskalasi hubungan geopolitik di kawasan Timur Tengah antara AS dan Iran yang kian memanas.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucapnya kepada dari sumbernya di Jakarta, Kamis.

Kendati demikian, menurutnya, penurunan mata uang nasional ini diprediksi tidak akan terlalu dalam menyusul tren pemulihan sentimen dalam negeri pada belakangan ini.

“Dari RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang di antaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, diharapkan bisa mendukung rupiah,” ungkap dia.

Di samping itu, pergerakan nilai tukar rupiah sewaktu sesi awal perdagangan Kamis pagi sempat menguat sebanyak 3 basis poin atau 0,02 persen menuju posisi Rp17.914 per dolar AS bila dibandingkan dengan posisi penutupan sesi sebelumnya pada Rp17.917 per dolar AS.

Bank sentral mengambil opsi penyediaan stimulus bagi kalangan pemodal melalui peningkatan dan perluasan insentif pemotongan premi demi memicu datangnya dana investasi portofolio luar negeri ketimbang mendongkrak BI-Rate pada Juli 2026.

Kemudahan tersebut diwujudkan lewat penguatan insentif swap jual lindung nilai (swap beli lindung nilai kepada BI) yang naik dari 10 persen menjadi 12,5 persen, disertai perluasan cakupan insentif DNDF (domestic non-deliverable forward) jual lindung nilai sampai 15 persen.

Maka dari itu, pihak pengamat menganggap ketetapan BI dalam membiarkan tingkat suku bunga tetap pada posisinya sangat dapat dipahami sebab gejolak dari dalam negeri mulai berkurang walaupun iklim global sedang memburuk.

“Apabila perkembangan di Timteng tidak membaik, BI mungkin akan baru menaikkan kembali dalam pertemuan berikutnya,” katanya.

Mengutip laporan Sputnik, pihak AS tercatat memindahkan kembali armada jet tempur siluman F-35 generasi kelima berikut pesawat tempur F-16 milik mereka dari wilayah Eropa menuju Timur Tengah.

Dalam jangka waktu seminggu belakangan, Washington dikabarkan turut menerjunkan unit pasukan khusus sekaligus skuadron udara tambahan menuju wilayah tersebut. Pada saat bersamaan, pesawat pengebom tipe B-1 yang ditempatkan di Inggris dilaporkan telah bersiap dalam status siaga tempur guna mengantisipasi skenario operasi militer masif.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua