Tren Valuta Global Berbalik Tertekan Atas RupiahMemasuki Paruh Kedua

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 24 Juli 2026
Tren Valuta Global Berbalik Tertekan Atas RupiahMemasuki Paruh Kedua
Tren Valuta Global Berbalik Tertekan (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan kurs internasional memperlihatkan pembalikan arah pada permulaan Juli 2026.

Setelah di sepanjang semester pertama sebagian besar valuta utama dunia mencetak penguatan atas rupiah, dalam kurun beberapa hari terakhir malah terjadi pembalikan kondisi.

Rupiah mengawali penguatan atas hampir seluruh valuta utama dunia.

Berdasarkan angka Bloomberg hingga 15 Juli 2026, seluruh valuta utama mencatatkan penurunan atas rupiah pada lima hari terakhir.

Dolar Australia (AUD), dolar Selandia Baru (NZD), dolar Amerika Serikat (USD), dolar Singapura (SGD), poundsterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), franc Swiss (CHF), euro (EUR), hingga yen Jepang (JPY) seluruhnya bertengger di zona negatif atas rupiah.

Fenomena tersebut memperlihatkan apresiasi rupiah mulai meluas setelah sempat berada di bawah himpitan pada paruh awal tahun ini.

Meski begitu, potret yang berbeda terlihat bilamana mencermati capaian sepanjang semester I 2026.

Dalam tenggat Januari hingga Juni, seluruh mata uang utama dunia tetap mencatatkan lompatan terhadap rupiah.

Bahkan, dolar Australia menjadi valuta dengan lonjakan paling tinggi, disusul dolar Amerika Serikat, dolar Singapura, poundsterling, sampai euro.

Himpitan terhadap rupiah pada semester awal dipicu oleh kombinasi elemen dalam negeri serta global.

Dari internal, pasar sempat dibayangi kekhawatiran meluasnya defisit fiskal yang memicu aksi jual instrumen keuangan dalam negeri.

Dalam waktu bersamaan, keraguan ekonomi global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya dorongan terhadap aset safe haven semakin menekan kurs rupiah.

Memasuki bulan Juli, himpitan tersebut mulai melandai.

Kestabilan pasar finansial domestik membaik sehingga rupiah dapat memotong sebagian pelemahannya terhadap valuta utama dunia.

Pergeseran arah ini juga terlihat dari capaian month to date (MTD).

Mayoritas valuta utama masih membukukan kenaikan terhadap rupiah, namun besarnya lonjakan mulai berkurang.

Bahkan franc Swiss dan yen Jepang telah berbalik melesu terhadap rupiah, menjadi petunjuk awal bahwa tren kenaikan rupiah mulai merambah ke lebih banyak mata uang.

Sementara secara year to date (YTD) sampai pertengahan Juli, seluruh mata uang utama masih membukukan lonjakan terhadap rupiah.

Kondisi ini memperlihatkan pelemahan yang terjadi pada beberapa hari belakangan belum sepenuhnya menghapus kenaikan yang tercipta sejak awal tahun.

Para pemain pasar sekarang akan mencermati apakah penguatan rupiah ini dapat berlanjut di paruh kedua 2026.

Arah garis kebijakan suku bunga bank sentral dunia, perkembangan dolar AS, kondisi fiskal dalam negeri, serta dinamika geopolitik tetap menjadi faktor kunci yang berpotensi memengaruhi pergerakan kurs dalam beberapa bulan ke depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua