Harga Emas Melonjak Tinggi Seiring Harapan Damai AS-Iran yang Meredupkan
NEW YORK - Nilai jual emas global melesat tajam pada sesi perdagangan Selasa (21/7/2026), menyusul timbulnya asa terkait terobosan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) serta Iran yang berpotensi mendinginkan ketegangan di Timur Tengah.
Disadur dari Sumbernya, rasa optimis tersebut diproyeksikan sanggup menekan tarif energi bersamaan dengan memangkas ekspektasi langkah moneter agresif dari Bank Sentral AS.
Nilai emas spot ditutup melambung 1,75% menuju US$ 4.077,81 tiap ons troi.
Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk periode pengiriman Agustus ditutup melesat 1,65% ke angka US$ 4.082,2 tiap ons troi.
Analis Marex Edward Meir mengutarakan reli tak cuma melanda emas, melainkan pula beragam komoditas lain seiring menguatnya ekspektasi bahwa kesepakatan damai di Timur Tengah mulai menemukan titik terang.
"Komoditas bergerak naik karena pasar mulai mengantisipasi kemungkinan tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah," ujar Meir.
Berdasarkan penjelasannya, lonjakan emas turut dipicu aksi pembelian teknikal usai logam mulia tersebut sanggup keluar dari tren kemerosotan jangka pendek yang terjadi semenjak 6 Juli.
Dalam kurun waktu dekat, nilai emas diprediksi tetap bergulir dalam rentang terbatas (range-bound).
Ekspektasi pasar makin kokoh seusai petinggi senior Iran membeberkan kepada Sumbernya bahwa Teheran telah menyetujui tawaran dari penengah terkait penghentian konflik selama 10 hari sebagai langkah mempertahankan kesepakatan temporer yang sedang dirundingkan.
Sebelumnya, lonjakan nilai minyak akibat terhambatnya distribusi dari area Teluk menjadi salah satu pemicu yang menekan nilai emas.
Melonjaknya harga energi menyulut kecemasan inflasi sehingga memperbesar dugaan bahwa tingkat suku bunga AS bakal bertahan tinggi dalam jangka panjang.
Walau emas dikenal sebagai instrumen pelindung nilai terhadap inflasi, kenaikan tingkat suku bunga menyusutkan daya pikat logam mulia lantaran tidak membagikan imbal hasil.
Atensi para pemodal kini beralih pada agenda rapat keputusan moneter The Fed yang dijadwalkan bergulir minggu depan.
Pelaku pasar juga bakal mengamati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh guna mencari petunjuk kebijakan suku bunga berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pemain pasar saat ini memprediksi probabilitas berkisar 68% bahwa The Fed bakal kembali mendongkrak suku bunga pada September.
Analis Commerzbank berpandangan, ambang psikologis US$ 4.000 tiap ons troi tetap menjadi fondasi penopang yang kokoh bagi nilai emas.
Akan tetapi, kekhawatiran atas arah suku bunga AS diprediksi bakal membatasi potensi kenaikan logam mulia dalam masa dekat.
Pada waktu yang sama, komoditas logam mulia lainnya turut mencatatkan kenaikan.
Harga perak spot melesat 4,24% menjadi US$ 58,8 tiap ons, platinum terangkat 1,98% menuju US$ 1.629,18 tiap ons, sedangkan paladium menguat 1,89% ke US$ 1.280,5 tiap ons.