IHSG Berpotensi Menguat Lanjutan Ditopang Sentimen Positif Domestik

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 21 Juli 2026
IHSG Berpotensi Menguat Lanjutan Ditopang Sentimen Positif Domestik
IHSG Berpotensi Menguat (FOTO: NET)

PONTIANAK - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan ini meski tekanan dari pasar global belum mereda.

Optimisme tersebut didorong oleh beberapa sentimen positif dari dalam negeri, mulai dari penguatan nilai tukar rupiah, terjaganya peringkat kredit Indonesia, hingga reformasi kebijakan yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selama sepekan terakhir, IHSG menunjukkan tren menguat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks ditutup naik dari 6.037,84 pada Senin (13/7) menjadi 6.175,54 pada Jumat (17/7), atau menguat sekitar 2,28 persen.

Praktisi pasar modal Hans Kwee memperkirakan IHSG akan bergerak pada area support 6.079–6.002 dan resistance 6.226–6.377.

"Tekanan terhadap pasar saham global masih dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Gangguan lalu lintas di Selat Hormuz membuat investor kembali memburu aset safe haven," ujarnya.

Hans menjelaskan, meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengerek harga minyak dunia.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan inflasi global dan membuka peluang bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, pasar domestik justru memperoleh dorongan positif.

Rupiah mampu menguat, sementara S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level investment grade, sehingga menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Sentimen positif lainnya datang dari penyempurnaan metodologi pengawasan saham oleh BEI.

Menurut Hans, kebijakan tersebut dapat meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia sekaligus menjadi nilai tambah dalam evaluasi indeks MSCI pada November mendatang.

Reformasi BEI Tambah 37 Saham HSC

Di sisi lain, BEI terus memperkuat transparansi pasar melalui penyempurnaan metodologi penetapan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC).

Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan, metodologi baru menambahkan indikator price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.

Indikator tersebut mengukur besarnya perubahan harga dibandingkan aktivitas perdagangan atau velocity.

Velocity dihitung berdasarkan perbandingan rata-rata volume transaksi dengan jumlah saham yang beredar di publik (free float).

Evaluasi indikator ini akan dilakukan setiap tiga bulan, sementara faktor pengawasan lainnya tetap diterapkan secara insidental sesuai kebutuhan.

"Dengan metodologi HSC yang telah disempurnakan, terdapat 37 saham baru yang masuk kategori HSC sehingga totalnya menjadi 51 saham," kata Kautsar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua