Sabtu, 21 Februari 2026

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia Diprediksi Tembus 5,7 Persen Tahun Ini

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia Diprediksi Tembus 5,7 Persen Tahun Ini
Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia Diprediksi Tembus 5,7 Persen Tahun Ini

JAKARTA - Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi syariah Indonesia tumbuh antara 4,9% hingga 5,7% pada 2026. 

Proyeksi ini didorong oleh kinerja sektor halal dan pembiayaan perbankan syariah yang semakin menguat. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional.

Imam Hartono, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, menyatakan bahwa sektor keuangan syariah terus berkembang seiring meningkatnya rantai nilai syariah. 

Baca Juga

Broker Properti Tingkatkan Layanan dan Kompetensi Profesional Demi Kepuasan Klien

“Pertumbuhan ekonomi syariah menunjukkan tren positif dan kontribusi signifikan terhadap PDB nasional,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya dukungan kebijakan untuk memperkuat sektor ini.

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11% year on year (yoy). Sementara sektor halal value chain (HVC) mencatat pertumbuhan lebih tinggi yakni 6,2% yoy. Kinerja ini didorong oleh makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta busana muslim.

Kontribusi Sektor Halal

Kontribusi HVC terhadap PDB meningkat sebesar 155 basis poin. Dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025. Hal ini menegaskan peran sektor halal sebagai penggerak utama ekonomi syariah nasional.

Imam menambahkan bahwa penguatan HVC tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga membuka peluang lapangan kerja. “Pertumbuhan sektor halal menunjukkan bagaimana nilai budaya dan agama bisa menjadi penggerak ekonomi,” katanya. BI mendorong integrasi HVC dengan pembiayaan syariah agar lebih inovatif.

Peningkatan kinerja sektor halal juga sejalan dengan pengembangan ekosistem UMKM dan startup syariah. Integrasi ini menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi berbasis syariah. Dengan demikian, manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Pembiayaan Perbankan Syariah

Pada akhir 2025, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66% yoy. Pertumbuhan ini didukung penyaluran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun. Hal ini setara 4,49% dari batas 5,5% per Desember 2025.

Ayahandayani Kussetyowati, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah OJK, menyebut total aset perbankan syariah mencapai Rp1.067,73 triliun. 

Angka ini tumbuh 8,92% yoy dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Penyaluran pembiayaan syariah mencapai Rp705,22 triliun atau tumbuh 9,58% yoy, sementara penghimpunan dana pihak ketiga mencapai Rp892,99 triliun, tumbuh 10,14% yoy.

Ia menambahkan, pencapaian ini menjadi indikasi sehatnya perbankan syariah nasional. “Pertumbuhan aset dan pembiayaan menandakan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan syariah semakin tinggi,” jelasnya. BI menekankan pentingnya inovasi untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan.

Program Bulan Pembiayaan Syariah (BPS)

Program BPS menunjukkan hasil positif sepanjang tahun lalu. Realisasi pembiayaan mencapai Rp939 miliar, 60% melampaui target Rp589 miliar. Tahun ini, BI memperluas BPS dengan melibatkan sektor keuangan sosial, startup, dan Industri Keuangan Nonbank (IKNB).

Kick-Off BPS 2026 ditandai penandatanganan komitmen sinergi bersama 10 kementerian dan lembaga. Pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah oleh perbankan meningkat 86,5% yoy menjadi US$466 juta. Sementara itu, penyaluran zakat, infak, dan sedekah melalui Baznas mencapai Rp52,5 triliun hingga kuartal II 2025, naik 43% dibandingkan 2024.

Instrumen Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22% yoy dengan outstanding Rp1,4 triliun. Literasi masyarakat terhadap ekonomi syariah kini mencapai 50,18%, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023. Hal ini menunjukkan keberhasilan upaya edukasi dan sosialisasi sektor keuangan syariah.

Tantangan dan Strategi Ke Depan

Meski tren positif, industri keuangan syariah menghadapi tantangan struktural. Terutama skala permodalan yang rendah dan infrastruktur layanan yang belum optimal. BI berharap inklusi keuangan syariah mencakup instrumen syariah sebagai katalisator bagi ekosistem halal.

Ayahandayani menegaskan dukungan terhadap kebijakan spin-off dan munculnya bank syariah berskala besar. “Kami tetap mendorong pengembangan bank syariah untuk memperkuat pembiayaan HVC dan UMKM,” ujarnya. 

Proyeksi pertumbuhan ekonomi syariah 2026 ditopang sektor unggulan HVC serta pembiayaan perbankan syariah yang diperkirakan tumbuh 8% hingga 12%.

Blueprint Ekonomi dan Keuangan Syariah 2030 mendorong integrasi HVC dengan pembiayaan syariah yang lebih inovatif. Hal ini bertujuan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. 

Imam menambahkan, implementasi Asta Cita dan ekonomi syariah sebagai pilar strategis RPJPN dan RPJMN akan semakin mengokohkan peran ekonomi dan keuangan syariah dalam pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Wajib Pajak Kini Semakin Mudah Lapor SPT Tahunan Secara Online

Wajib Pajak Kini Semakin Mudah Lapor SPT Tahunan Secara Online

KUR BCA 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Lewat Pinjaman Fleksibel

KUR BCA 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Lewat Pinjaman Fleksibel

Cara Bayar Kartu Kredit BCA dengan Mudah dan Cepat

Cara Bayar Kartu Kredit BCA dengan Mudah dan Cepat

PTFI Siap Tambah Investasi Dan Jaga Kontribusi 90 Triliun Tahunan

PTFI Siap Tambah Investasi Dan Jaga Kontribusi 90 Triliun Tahunan

Tenaga Pemasar Asuransi Menanti Kejelasan Regulasi Perpajakan Demi Keadilan Dan Kepastian

Tenaga Pemasar Asuransi Menanti Kejelasan Regulasi Perpajakan Demi Keadilan Dan Kepastian