GIAMM Jelaskan Sederet Hambatan yang Ganggu Pertumbuhan Industri Otomotif
- Rabu, 04 Februari 2026
JAKARTA - Perjalanan industri komponen otomotif nasional sepanjang 2025 diwarnai berbagai dinamika yang menuntut adaptasi kuat.
Pelaku usaha di sektor ini menghadapi tekanan seiring perubahan kondisi pasar kendaraan domestik. Meski demikian, peluang penguatan industri masih terbuka melalui strategi yang tepat.
Industri komponen otomotif memiliki peran strategis dalam rantai pasok kendaraan nasional. Ketika industri kendaraan bermotor mengalami perlambatan, sektor komponen turut terdampak. Kondisi tersebut mendorong perlunya langkah penyesuaian yang terencana.
Baca JugaTransformasi Energi Nasional Dimulai, Nuklir Jadi Pelengkap Energi Terbarukan
Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor memandang tantangan ini sebagai momentum evaluasi. Pelaku industri diharapkan mampu membaca arah pasar secara lebih luas. Fokus pada keberlanjutan menjadi kunci menjaga daya saing.
Tekanan Produksi Kendaraan Nasional
Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki menjelaskan tekanan utama berasal dari penurunan produksi kendaraan. Penurunan tersebut terjadi seiring melemahnya permintaan pasar domestik. Kondisi ini langsung berdampak pada volume pasokan industri komponen.
Adapun produksi mobil nasional tercatat sebesar 1,14 juta unit sepanjang 2025. Angka tersebut turun 4,1 persen dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 1,19 juta unit. Penurunan produksi ini menjadi indikator melemahnya aktivitas industri otomotif.
"Karena jumlah produksi mobil 2025 turun sekitar 4% dibandingkan dengan 2024, otomatis suplai industri komponennya juga menurun," ujar Basuki.
Lesunya Penjualan Domestik Berkepanjangan
Selain produksi, penjualan kendaraan juga menjadi tantangan utama industri komponen. Basuki menyampaikan bahwa penurunan penjualan mobil telah berlangsung hampir tiga tahun terakhir. Selama ini, pasar domestik menjadi penopang utama penjualan komponen otomotif.
Data penjualan mobil wholesales sepanjang 2025 tercatat 803.687 unit. Angka tersebut turun 7,2 persen dibandingkan periode sebelumnya sebesar 865.723 unit. Penurunan ini menekan permintaan komponen dari produsen kendaraan.
Penjualan ritel dari dealer ke konsumen juga mengalami kontraksi. Total penjualan ritel mencapai 833.692 unit, turun 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan daya beli masyarakat yang masih tertahan.
Dampak terhadap Ketenagakerjaan Industri
Tekanan penjualan dan produksi turut berdampak pada tenaga kerja. Basuki mengonfirmasi bahwa sejak pertengahan 2025 terjadi pemutusan hubungan kerja di sejumlah perusahaan komponen. Langkah tersebut diambil sebagai penyesuaian terhadap penurunan permintaan.
PHK terjadi seiring dengan penurunan utilisasi pabrik. Beberapa perusahaan harus menyesuaikan kapasitas produksi agar tetap bertahan. Situasi ini menjadi tantangan sosial yang turut diperhatikan pelaku industri.
Meski demikian, GIAMM menilai kondisi ini perlu disikapi secara strategis. Penguatan pasar alternatif dinilai mampu mengurangi tekanan domestik. Upaya diversifikasi menjadi penting untuk menjaga stabilitas industri.
Ekspor Jadi Penopang Kinerja Industri
Di tengah tekanan domestik, pasar ekspor menjadi penopang utama kinerja industri komponen. Permintaan ekspor relatif stabil sepanjang 2025. Nilai ekspor komponen otomotif tercatat sekitar US$7,5 miliar.
Stabilitas ekspor memberikan ruang napas bagi pelaku industri. Pasar luar negeri membantu menjaga kesinambungan produksi. Hal ini membuktikan daya saing komponen otomotif nasional di pasar global.
Basuki menegaskan pentingnya memperluas penetrasi ekspor. Pelaku industri didorong memanfaatkan peluang pasar internasional secara maksimal. Strategi ekspor menjadi solusi untuk menutup tekanan domestik.
Strategi Menghadapi Proyeksi 2026
Menghadapi 2026, GIAMM memproyeksikan kondisi industri relatif sama dengan 2025. Namun peluang peningkatan tetap terbuka dengan strategi yang tepat. Fokus ekspor dan pasar suku cadang menjadi andalan utama.
"Untuk proyeksi 2026 diperkirakan akan sama dengan 2025, dan bisa untuk naik asalkan industri ini mulai perbanyak ekspor dan penetrasi replacement part atau aftersales," pungkasnya.
Penguatan segmen aftersales dinilai memiliki potensi besar. Permintaan suku cadang pengganti cenderung stabil meski penjualan kendaraan melemah. Dengan strategi tersebut, industri komponen diharapkan tetap tumbuh berkelanjutan.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Transformasi Energi Nasional Dimulai, Nuklir Jadi Pelengkap Energi Terbarukan
- Rabu, 04 Februari 2026
Berita Lainnya
Presiden Prabowo Perkuat BUMN Transportasi dengan Tambahan PMN Rp4,77 Triliun
- Rabu, 04 Februari 2026
Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Mengalami Kenaikan Di Tengah Dinamika Pasar
- Rabu, 04 Februari 2026
Temuan Karung Berisi Limbah Minyak Hitam Mengotori Kawasan Wisata Pantai Trikora
- Rabu, 04 Februari 2026
Tinjauan Strategis Urgensi Implementasi Program Biodiesel B50 Saat Indonesia Surplus Solar
- Rabu, 04 Februari 2026












