Rabu, 04 Februari 2026

Peningkatan Produksi Pertanian Warnai Awal Tahun, Kesejahteraan Petani Jadi Sorotan

Peningkatan Produksi Pertanian Warnai Awal Tahun, Kesejahteraan Petani Jadi Sorotan
Peningkatan Produksi Pertanian Warnai Awal Tahun, Kesejahteraan Petani Jadi Sorotan

JAKARTA - Awal 2026 dibuka dengan kabar positif dari sektor pertanian nasional, terutama pada peningkatan produksi padi. 

Data menunjukkan hasil panen tumbuh signifikan dan memperlihatkan potensi besar ketahanan pangan. Namun, peningkatan produksi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kondisi kesejahteraan petani di lapangan.

Kesejahteraan petani umumnya tercermin melalui Nilai Tukar Petani atau NTP. Pada Januari 2026, angka NTP justru tercatat menurun ke level 123,60. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengapa produksi meningkat, tetapi daya beli petani melemah.

Baca Juga

Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Mengalami Kenaikan Di Tengah Dinamika Pasar

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan NTP terjadi akibat pergerakan harga yang tidak seimbang. 

“Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima oleh petani turun sebesar 1,85%, lebih tajam dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani yang hanya turun 0,45%,” ujarnya. Situasi tersebut menekan pendapatan petani meskipun aktivitas produksi berjalan baik.

Tekanan Harga Komoditas di Tingkat Petani

Penurunan indeks harga yang diterima petani menjadi faktor utama melemahnya NTP. Harga jual sejumlah komoditas pertanian mengalami koreksi yang cukup dalam. Kondisi ini berdampak langsung terhadap penerimaan petani di berbagai daerah.

Ateng menyampaikan bahwa beberapa komoditas menjadi penyumbang tekanan terbesar. Cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan gabah tercatat sebagai komoditas yang paling dominan menekan harga. Penurunan harga ini terjadi secara bersamaan sehingga efeknya semakin terasa.

Subsektor hortikultura tercatat mengalami tekanan paling dalam dibandingkan subsektor lain. Penurunan NTP hortikultura mencapai 13,76%. Hal ini menunjukkan bahwa petani hortikultura menghadapi tantangan besar meskipun produksi tetap berjalan.

Hortikultura Jadi Subsektor Paling Tertekan

Tekanan di subsektor hortikultura terjadi akibat penurunan tajam indeks harga yang diterima petani. “Indeks harga yang diterima petani hortikultura turun 14,08%, sementara indeks harga yang dibayar hanya turun 0,37%,” jelas Ateng. Perbedaan ini memperlebar tekanan terhadap kesejahteraan petani hortikultura.

Komoditas hortikultura utama menjadi penyumbang terbesar penurunan tersebut. Cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan wortel menjadi faktor yang paling memengaruhi. Fluktuasi harga pada komoditas ini berlangsung cukup signifikan.

Kondisi tersebut menggambarkan tantangan struktural dalam tata niaga hasil pertanian hortikultura. Saat pasokan melimpah, harga cenderung jatuh di tingkat petani. Hal ini membuat peningkatan produksi belum otomatis meningkatkan pendapatan petani.

Harga Beras Naik di Berbagai Tingkat Pasar

Di sisi lain, harga beras justru menunjukkan tren kenaikan di berbagai lini pasar. Pada Januari 2026, harga beras di tingkat penggilingan naik 0,75% secara bulanan dan 6,19% secara tahunan. Kenaikan ini terjadi pada berbagai jenis kualitas beras.

Beras premium mengalami kenaikan cukup tinggi secara bulanan dan tahunan. Sementara itu, beras medium sempat mengalami penurunan bulanan namun masih mencatatkan kenaikan tahunan. Pergerakan harga ini menunjukkan dinamika pasar beras yang kompleks.

Di tingkat grosir dan eceran, inflasi beras juga tercatat terjadi. “Harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata yang mencakup berbagai jenis kualitas dan seluruh wilayah Indonesia,” kata Ateng. Kenaikan harga beras ini memberi dampak berbeda bagi produsen dan konsumen.

Produksi Padi Tumbuh dan Prospek Awal Tahun

Di tengah dinamika harga, kinerja produksi padi nasional menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Produktivitas padi nasional mencapai 63,5 kuintal per hektare untuk gabah kering panen dan 53,18 kuintal per hektare untuk gabah kering giling. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Luas panen padi juga mengalami peningkatan signifikan. Total luas panen sepanjang 2025 mencapai 11,32 juta hektare dan tumbuh dua digit. Kondisi ini mencerminkan peningkatan aktivitas budidaya padi secara nasional.

Ateng menyampaikan bahwa kondisi tanaman padi menunjukkan prospek panen yang baik. “Sebanyak 47,33% lahan sedang berada pada fase ditanami padi atau standing crop. Ini mengindikasikan potensi panen yang cukup besar pada awal 2026,” ujarnya. Produksi padi diproyeksikan terus meningkat pada periode awal tahun.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Tinjauan Strategis Urgensi Implementasi Program Biodiesel B50 Saat Indonesia Surplus Solar

Tinjauan Strategis Urgensi Implementasi Program Biodiesel B50 Saat Indonesia Surplus Solar

Dinas Kumpp Kabupaten Banjar Awali Dua Ribu Dua Puluh Enam Dengan Tera

Dinas Kumpp Kabupaten Banjar Awali Dua Ribu Dua Puluh Enam Dengan Tera

BPH Migas Dorong Fasilitas Floating Storage Regasification Unit Perkuat Pasokan Gas Jatim

BPH Migas Dorong Fasilitas Floating Storage Regasification Unit Perkuat Pasokan Gas Jatim

Langkah Strategis PGN Area Medan Perkuat Edukasi Keselamatan Penggunaan Gas Bumi

Langkah Strategis PGN Area Medan Perkuat Edukasi Keselamatan Penggunaan Gas Bumi

Daftar Tarif Tenaga Listrik Per Kilowatt Hour Terbaru Berlaku Februari Dua Ribu Dua Puluh Enam

Daftar Tarif Tenaga Listrik Per Kilowatt Hour Terbaru Berlaku Februari Dua Ribu Dua Puluh Enam