JAKARTA - Harga minyak dunia menunjukkan kestabilan meski pekan sebelumnya mengalami penurunan berturut-turut, seiring optimisme meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Kondisi ini menimbulkan harapan bahwa putaran negosiasi dagang terbaru dapat menciptakan kesepakatan yang menguntungkan kedua negara, sekaligus memberi dampak positif bagi pasar energi global. Namun, tekanan dari meningkatnya pasokan minyak tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh investor dan pelaku pasar.
Pergerakan Harga Minyak Saat Ini
Baca JugaIndonesia Raih Kemajuan Signifikan Dalam Pendanaan Energi Bersih Lewat JETP
Harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$61 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sedikit di atas US$57 per barel. Stabilnya harga terjadi di tengah persiapan putaran baru pembicaraan dagang AS-China, yang dijadwalkan berlangsung dalam minggu ini.
Presiden AS menyatakan optimisme bahwa negosiasi tersebut bisa menghasilkan kesepakatan konkret, setelah sebelumnya menilai ancaman tarif tambahan terhadap China tidak layak diterapkan.
Tekanan dari Lonjakan Pasokan
Meski harga menunjukkan stabilitas, pasar minyak tetap menghadapi tekanan akibat proyeksi pasokan global yang meningkat hingga akhir tahun ini dan 2026.
Lonjakan pasokan diperkirakan akan lebih besar dari prediksi sebelumnya, sehingga berpotensi menahan laju kenaikan harga minyak. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pelaku pasar yang mengharapkan harga bergerak lebih tinggi, meski faktor geopolitik terkadang bisa menimbulkan lonjakan harga sesaat.
Faktor Geopolitik dan Risiko Perang
Konflik di Ukraina tetap menjadi faktor yang memengaruhi harga minyak. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia berpotensi memicu kenaikan harga sesekali, walaupun situasi global menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Presiden AS sebelumnya menyatakan akan menggelar pertemuan kedua dengan Presiden Rusia untuk mencari solusi terkait konflik, meski pertemuan pertama belum memberikan hasil signifikan dalam meredakan ketegangan. Apabila terjadi deeskalasi perang, analis memperkirakan harga minyak bisa turun hingga mendekati US$50 per barel.
Harga Terbaru dan Pergerakan Mingguan
Data terbaru menunjukkan Brent untuk pengiriman Desember sedikit berubah di level US$61,18 per barel, sementara WTI untuk pengiriman November stabil di level US$57,49 per barel.
Minggu lalu, harga berjangka Brent turun sekitar 2,3%, mencerminkan fluktuasi yang terjadi akibat kombinasi faktor geopolitik dan pasar. Stabilitas harga saat ini memberikan indikasi bahwa pasar mulai menyesuaikan diri dengan optimisme perdagangan AS-China, meski tekanan dari pasokan tetap menjadi perhatian utama.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap dinamika global, termasuk negosiasi dagang dan perkembangan konflik, karena kedua faktor tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Stabilnya harga minyak di tengah ketidakpastian global menunjukkan bahwa pasar energi semakin adaptif terhadap perubahan geopolitik dan ekonomi internasional.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Juara Kelas Bulu UFC Ilia Topuria Isyaratkan Segera Kembali Bertarung Di Oktagon
- Jumat, 06 Februari 2026
Real Madrid Terobsesi Rekrut Bintang Premier League Dana Rp27 Triliun Disiapkan
- Jumat, 06 Februari 2026
Astra Hadirkan Karya Seni Kreatif Bersama indieguerillas di Stasiun MRT Setiabudi
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Zulkifli Hasan Jelaskan Penyesuaian Program MBG Menyambut Bulan Ramadhan
- Jumat, 06 Februari 2026
Pencapaian Proyek JETP Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Perkuat Transisi Energi
- Jumat, 06 Februari 2026
Dewan Energi Nasional Sebut Biodiesel Berperan Strategis Dalam Mewujudkan Swasembada Energi
- Jumat, 06 Februari 2026











.jpeg)
