GKSI Dorong Peningkatan Produksi Susu Nasional Kurangi Ketergantungan Impor
- Rabu, 15 Oktober 2025
JAKARTA - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan bahan baku susu di dalam negeri.
Meski menunjukkan perbaikan secara bertahap, produksi susu nasional belum mampu mengimbangi permintaan industri dan konsumsi masyarakat yang terus meningkat.
Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Yusup Munawar, mengungkapkan bahwa hingga saat ini sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari impor, sedangkan produksi dalam negeri baru mencakup sekitar 20 persen.
Baca JugaIndonesia Raih Kemajuan Signifikan Dalam Pendanaan Energi Bersih Lewat JETP
“Secara umum, produksi susu nasional menunjukkan tren stabil dengan sedikit peningkatan hingga kuartal III-2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Yusup.
Menurutnya, peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya jumlah sapi perah impor yang mulai berproduksi, serta perbaikan manajemen pemeliharaan di tingkat peternak dan koperasi. Namun, kenaikan ini masih belum cukup signifikan untuk menekan dominasi impor yang terus mendominasi pasar.
Koperasi Jadi Tulang Punggung Pasokan Susu Segar
Gabungan Koperasi Susu Indonesia mencatat bahwa sebagian besar pasokan susu segar dalam negeri masih berasal dari koperasi anggota GKSI yang berperan penting dalam rantai pasok nasional. Koperasi berfungsi sebagai penghubung utama antara peternak sapi perah dan industri pengolahan susu (IPS).
Namun, Yusup menyoroti bahwa kapasitas produksi koperasi saat ini masih terbatas, sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan susu secara menyeluruh.
“Kami melihat bahwa keterbatasan populasi sapi perah, skala usaha peternak yang kecil, dan minimnya investasi di sektor hulu menjadi penyebab utama masih tingginya ketergantungan pada impor,” jelasnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa meski koperasi telah menjadi tulang punggung produksi susu segar, struktur usaha yang belum efisien dan skala produksi yang kecil masih menjadi tantangan utama dalam membangun kemandirian sektor susu nasional.
Strategi GKSI: Intensifikasi dan Ekstensifikasi
Untuk mengatasi ketimpangan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan nasional, GKSI mendorong adanya sinergi lintas sektor dalam memperkuat produktivitas dan kapasitas peternakan sapi perah. Yusup menilai, terdapat dua pendekatan utama yang perlu segera dijalankan, yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi.
“Dua pendekatan ini penting untuk memperkuat fondasi produksi susu nasional agar mampu bersaing dengan produk impor,” ujarnya.
Pendekatan intensifikasi diarahkan pada peningkatan produktivitas sapi perah melalui perbaikan kualitas pakan, manajemen reproduksi, kesehatan ternak, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat peternak dan koperasi.
Sementara itu, ekstensifikasi mencakup langkah strategis seperti penambahan populasi sapi perah melalui impor indukan unggul, pengembangan pembibitan lokal, serta penyediaan lahan hijauan pakan yang memadai.
Menurut Yusup, kedua pendekatan tersebut harus berjalan beriringan untuk menghasilkan dampak jangka panjang yang signifikan bagi ketahanan produksi susu nasional.
Dorongan Penguatan Kelembagaan dan Kebijakan Industri
Selain peningkatan kapasitas produksi, GKSI menilai pentingnya kebijakan jangka menengah yang berfokus pada penguatan kelembagaan koperasi serta keberpihakan industri terhadap penggunaan susu segar dalam negeri (SSDN).
“Upaya memperkuat kelembagaan koperasi perlu disertai dukungan dari industri dan pemerintah agar tercipta rantai pasok yang sehat dan berkeadilan,” kata Yusup.
Ia menambahkan bahwa komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga peternak, menjadi kunci keberhasilan dalam membangun sistem produksi susu nasional yang berkelanjutan.
Dengan kolaborasi tersebut, GKSI berharap Indonesia mampu menurunkan ketergantungan impor secara bertahap dan memperkuat daya saing peternak lokal.
Selain meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, strategi ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah sentra susu, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani.
Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor susu menjadi tantangan serius bagi sektor peternakan nasional. Meski produksi susu dalam negeri menunjukkan tren positif, kontribusinya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi yang diusulkan GKSI, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada produksi lokal, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat kemandirian di sektor susu.
Kolaborasi antara koperasi, peternak, industri, dan pemerintah menjadi langkah penting menuju ekosistem susu nasional yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Juara Kelas Bulu UFC Ilia Topuria Isyaratkan Segera Kembali Bertarung Di Oktagon
- Jumat, 06 Februari 2026
Real Madrid Terobsesi Rekrut Bintang Premier League Dana Rp27 Triliun Disiapkan
- Jumat, 06 Februari 2026
Astra Hadirkan Karya Seni Kreatif Bersama indieguerillas di Stasiun MRT Setiabudi
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Zulkifli Hasan Jelaskan Penyesuaian Program MBG Menyambut Bulan Ramadhan
- Jumat, 06 Februari 2026
Pencapaian Proyek JETP Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Perkuat Transisi Energi
- Jumat, 06 Februari 2026
Dewan Energi Nasional Sebut Biodiesel Berperan Strategis Dalam Mewujudkan Swasembada Energi
- Jumat, 06 Februari 2026











.jpeg)
