Harga CPO Sawit Turun Dua Hari, Peluang Kenaikan Masih Terbuka
- Selasa, 30 September 2025
JAKARTA - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali mengalami penyesuaian pada perdagangan kemarin, menandai dua hari berturut-turut mengalami penurunan.
Penurunan ini terjadi seiring dengan dinamika pasar minyak nabati global yang saling memengaruhi satu sama lain. Pada kontrak pengiriman Desember, harga CPO ditutup di MYR 4.384 per ton, turun 0,27% dibanding akhir pekan lalu.
Dalam dua hari perdagangan terakhir, total penurunan mencapai 1,26%, sementara secara mingguan turun 1,31%. Faktor eksternal seperti harga minyak nabati lain, termasuk minyak kedelai yang melemah 0,53% dan minyak rapeseed yang turun 1,21%, menjadi beban bagi harga CPO.
Baca JugaIndonesia Raih Kemajuan Signifikan Dalam Pendanaan Energi Bersih Lewat JETP
Persaingan antar-komoditas membuat peluang beralih ke CPO menjadi sedikit berkurang.
Sentimen Nilai Tukar Ringgit
Selain faktor harga minyak nabati, pergerakan nilai tukar ringgit juga memengaruhi CPO. Mata uang Malaysia terapresiasi 0,17% terhadap dolar Amerika Serikat, membuat kontrak CPO yang dibanderol dalam ringgit menjadi lebih mahal bagi investor dengan mata uang lain.
Penguatan ringgit secara tidak langsung menekan permintaan dari pasar internasional, sehingga memberi tekanan negatif pada harga CPO. Kondisi ini menjadi salah satu alasan penurunan dua hari berturut-turut meski secara fundamental pasar masih menunjukkan tren positif.
Meski demikian, analisis pasar menunjukkan sentimen bullish tetap dominan, karena faktor-faktor jangka panjang seperti permintaan global untuk minyak nabati masih cukup tinggi.
Analisis Teknikal dan Peluang Harga
Dari sisi teknikal, harga CPO masih bertahan di zona bullish meski terjadi penurunan. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di angka 55, menunjukkan aset ini masih memiliki momentum beli yang cukup kuat.
Indikator Stochastic RSI juga berada di 71, menempatkan harga CPO di area beli yang menunjukkan potensi penguatan lebih lanjut. Target resistensi terdekat berada di MYR 4.408 per ton, yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika MA-10 di MYR 4.427 per ton berhasil ditembus, target harga bisa lebih tinggi.
Target paling optimistis atau resistensi terjauh berada di MYR 4.522 per ton, menunjukkan potensi kenaikan signifikan jika sentimen positif kembali menguasai pasar.
Support, Risiko, dan Prospek Ke Depan
Di sisi support, harga CPO terdekat berada di MYR 4.375 per ton. Penembusan di titik ini berisiko menurunkan harga menuju MYR 4.351 per ton. Investor disarankan memantau pergerakan pasar dan indikator teknikal secara cermat.
Meskipun ada tekanan jangka pendek, peluang harga CPO bangkit tetap terbuka. Dukungan dari permintaan global, termasuk untuk biodiesel dan kebutuhan industri, menjadi faktor fundamental yang menjaga stabilitas pasar.
Dengan kombinasi analisis teknikal dan sentimen fundamental, CPO masih dianggap aset bullish meski mengalami koreksi dua hari berturut-turut. Pasar diharapkan tetap stabil dengan peluang kenaikan dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Juara Kelas Bulu UFC Ilia Topuria Isyaratkan Segera Kembali Bertarung Di Oktagon
- Jumat, 06 Februari 2026
Real Madrid Terobsesi Rekrut Bintang Premier League Dana Rp27 Triliun Disiapkan
- Jumat, 06 Februari 2026
Astra Hadirkan Karya Seni Kreatif Bersama indieguerillas di Stasiun MRT Setiabudi
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Zulkifli Hasan Jelaskan Penyesuaian Program MBG Menyambut Bulan Ramadhan
- Jumat, 06 Februari 2026
Pencapaian Proyek JETP Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Perkuat Transisi Energi
- Jumat, 06 Februari 2026
Dewan Energi Nasional Sebut Biodiesel Berperan Strategis Dalam Mewujudkan Swasembada Energi
- Jumat, 06 Februari 2026











.jpeg)
