Pemulihan Harga Batu Bara Terjadi Pasca Penurunan Lima Hari Berturut
- Selasa, 16 September 2025
JAKARTA - Harga batu bara kembali menguat setelah mengalami penurunan berturut-turut selama lima hari. Pada perdagangan kemarin, harga batu bara untuk kontrak pengiriman bulan mendatang tercatat naik menjadi US$ 101,5 per ton, meningkat 0,79% dibandingkan harga sebelumnya. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa batu bara mulai menunjukkan tren pemulihan setelah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Meskipun harga berhasil bangkit, jika ditinjau dari kinerja sebulan terakhir, batu bara masih mencatat pelemahan 8,56% secara point-to-point. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama permintaan yang melemah dari konsumen utama, termasuk China sebagai konsumen terbesar di dunia.
Faktor Penghambat Laju Harga
Baca JugaIndonesia Raih Kemajuan Signifikan Dalam Pendanaan Energi Bersih Lewat JETP
Permintaan yang lemah di China menjadi salah satu penyebab utama tekanan harga batu bara. Data produksi industrial di China pada bulan Agustus menunjukkan pertumbuhan 5,2% year-on-year (yoy), laju pertumbuhan paling lemah sejak Agustus tahun sebelumnya. Penjualan ritel juga melambat menjadi 3,4% yoy dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,7% yoy.
Selain itu, investasi tetap sepanjang Januari hingga Agustus mengalami penurunan 0,5% dibandingkan periode sama tahun lalu. Angka ini menjadi yang terlemah sejak masa pandemi Covid-19. Penurunan aktivitas ekonomi tersebut turut menekan permintaan energi, termasuk batu bara, sehingga memengaruhi harga global.
Analisis Teknikal Harga Batu Bara
Dari perspektif teknikal, harga batu bara masih berada dalam zona bearish meski menunjukkan tanda pemulihan. Indikator Relative Strength Index (RSI) tercatat sebesar 21, menunjukkan posisi oversold atau jenuh jual. Stochastic RSI yang berada di angka 17 juga memperkuat indikasi bahwa batu bara mengalami tekanan penjualan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi oversold ini biasanya menjadi sinyal potensi rebound harga. Secara teknikal, target resisten terdekat berada di level US$ 105 per ton, sesuai Moving Average (MA) 10. Jika harga berhasil menembus level ini, MA-20 di US$ 108 per ton bisa menjadi target kenaikan berikutnya.
Sementara itu, target support atau batas bawah harga tercatat di US$ 96 per ton. Penembusan di bawah level ini bisa membuka potensi penurunan lebih lanjut menuju US$ 93 per ton. Dengan demikian, pergerakan harga batu bara masih akan dipengaruhi oleh dinamika permintaan global dan faktor teknikal jangka pendek.
Pergerakan Pasar dan Respons Industri
Kenaikan harga batu bara ini disambut positif oleh pelaku industri, termasuk PT Bukit Asam yang mengoperasikan tambang terbuka di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Aktivitas pemindahan batu bara menggunakan ban berjalan di tambang menunjukkan kesiapan industri untuk menyesuaikan pasokan dengan permintaan yang mulai membaik.
Industri batubara kini lebih berhati-hati dalam mengelola pasokan agar tidak menimbulkan volatilitas harga yang berlebihan. Produsen juga memperhatikan kondisi pasar internasional, terutama dari China dan negara konsumen besar lainnya, untuk memprediksi tren harga jangka pendek hingga menengah.
Proyeksi Harga dan Peluang Pemulihan
Berdasarkan analisis, harga batu bara masih memiliki peluang untuk naik dalam beberapa hari ke depan, terutama jika tekanan oversold mulai mereda. Investor dan pelaku pasar kini menantikan konfirmasi penguatan harga di atas target resisten pertama.
Faktor fundamental, seperti permintaan global dan produksi industrial, akan menentukan seberapa kuat harga batu bara dapat bertahan di level saat ini. Jika permintaan mulai membaik, terutama dari konsumen besar seperti China, peluang kenaikan harga lebih besar. Sebaliknya, jika permintaan tetap lemah, harga berpotensi kembali terkoreksi.
Kenaikan harga batu bara kemarin menjadi tanda awal kebangkitan setelah lima hari berturut-turut mengalami penurunan. Meskipun tekanan jangka panjang masih ada, kondisi oversold memberi peluang untuk rebound dalam waktu dekat. Produsen dan investor perlu memperhatikan dinamika pasar global dan analisis teknikal untuk memanfaatkan momentum pemulihan.
Kesiapan industri dalam menyesuaikan pasokan, dikombinasikan dengan potensi peningkatan permintaan, menjadi faktor kunci bagi harga batu bara untuk kembali menguat. Dengan strategi pengelolaan yang tepat, kenaikan harga ini dapat memberikan dampak positif bagi pelaku industri dan stabilitas pasar komoditas global.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Juara Kelas Bulu UFC Ilia Topuria Isyaratkan Segera Kembali Bertarung Di Oktagon
- Jumat, 06 Februari 2026
Real Madrid Terobsesi Rekrut Bintang Premier League Dana Rp27 Triliun Disiapkan
- Jumat, 06 Februari 2026
Astra Hadirkan Karya Seni Kreatif Bersama indieguerillas di Stasiun MRT Setiabudi
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Zulkifli Hasan Jelaskan Penyesuaian Program MBG Menyambut Bulan Ramadhan
- Jumat, 06 Februari 2026
Pencapaian Proyek JETP Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Perkuat Transisi Energi
- Jumat, 06 Februari 2026
Dewan Energi Nasional Sebut Biodiesel Berperan Strategis Dalam Mewujudkan Swasembada Energi
- Jumat, 06 Februari 2026











.jpeg)
