WARTAFINANSIAL.COM — Amazon Web Services mengakui data pelanggan yang tersimpan di pusat data Bahrain dan Uni Emirat Arab hilang permanen setelah serangan drone Iran. Kerusakan yang ditimbulkan melampaui batas yang dirancang AWS untuk ditanggung, sehingga pemulihan data tidak lagi mungkin dilakukan.

Amazon Web Services (AWS) menyatakan tidak mampu memulihkan akses ke sejumlah sumber daya dan data pelanggan yang tersimpan di pusat data kawasan Timur Tengah. Pengakuan itu muncul sekitar setengah tahun setelah serangan drone Iran melumpuhkan beberapa fasilitas milik perusahaan teknologi Amerika Serikat tersebut.

Informasi ini terungkap melalui pembaruan dasbor AWS yang dipublikasikan pada 15 September. Reuters lebih dulu melaporkan perkembangan tersebut.

Zona Ketersediaan di UEA Jadi Titik Kerusakan Terparah

Data pelanggan hilang permanen di salah satu dari tiga zona ketersediaan AWS di wilayah Uni Emirat Arab. Zona yang dimaksud adalah mec1-az2.

Setiap zona ketersediaan AWS dilayani oleh satu atau lebih pusat data. Kerusakan pada satu zona berdampak langsung pada layanan yang bergantung padanya.

Dalam pembaruan itu, AWS menyebut dirinya "tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya dan data" yang berada di sejumlah pusat data yang rusak akibat perang. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa skala kerusakan fisik melebihi standar ketahanan yang dirancang perusahaan.

Kerusakan Melampaui Rancangan Ketahanan AWS

Pusat data AWS umumnya dirancang untuk menahan gangguan operasional, mulai dari pemadaman listrik hingga bencana alam. Namun, dampak serangan drone bersenjata dinilai berada di luar skenario yang bisa diantisipasi sistem tersebut.

Kondisi ini memaksa AWS mengakui bahwa sebagian data pelanggan tidak bisa dikembalikan. Pemulihan data yang hilang permanen menjadi tidak mungkin karena infrastruktur fisiknya sudah rusak parah.

Pengakuan ini menjadi salah satu contoh langka ketika penyedia layanan komputasi awan besar gagal menjamin integritas data pelanggannya akibat konflik bersenjata.

Implikasi bagi Pelanggan di Kawasan Timur Tengah

Kehilangan data permanen berdampak serius bagi pelanggan AWS yang mengandalkan zona ketersediaan di UEA. Bisnis yang menyimpan data kritis di wilayah tersebut harus menghadapi kemungkinan kehilangan informasi yang tidak bisa dipulihkan.

Peristiwa ini juga menyoroti risiko geopolitik yang dihadapi penyedia layanan awan global ketika beroperasi di kawasan rawan konflik. Infrastruktur pusat data, sekuat apa pun rancangannya, tetap rentan terhadap serangan militer langsung.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari AWS mengenai jumlah pelanggan yang terdampak maupun nilai kerugian yang timbul. Perusahaan juga belum mengumumkan langkah kompensasi bagi pelanggan yang kehilangan data.

Reporter: Redaksi