Rupiah Makin Perkasa Buat Nilai Tukar Dolar AS Turun di Rp17.570

Rupiah Makin Perkasa (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 10 September 2026 | 10:47:28 WIB

JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah dibuka melesat mengungguli dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi pasar pagi ini.

Mengutip data Refinitiv, waktu pembukaan bursa Rabu (9/9/2026), rupiah menguat 0,31% menginjak level Rp17.570/US$.

Kenaikan ini meneruskan tren cerah pada sesi perdagangan Selasa (8/9/2026), sewaktu rupiah mampu berbalik arah dari pelemahan sesi pagi dan sukses finis menguat 0,03% pada kisaran Rp17.625/US$.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang memetakan performa mata uang greenback atas enam mata uang utama dunia, pukul 09.00 WIB terlihat merangkak naik tipis 0,01% ke level 98,795.

Dinamika rupiah hari ini berjalan sewaktu para pelaku pasar menanti publikasi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia.

Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis angka tersebut pada pukul 10.00 WIB.

Nilai IKK diproyeksikan menguat tipis berada di angka 117 untuk periode Agustus, dibanding angka 116,8 pada Juli.

Tingkat kepercayaan publik sebelumnya terus melorot selama tiga bulan beruntun hingga berada di level terendah sejak April 2025.

Kelesuan ini dipicu melemahnya pandangan publik terhadap iklim ekonomi, aktivitas belanja barang tahan lama, dan ketersediaan lapangan kerja.

Kendati susut, angka IKK tetap berada di atas batas 100.

Angka tersebut menandakan bahwa konsumen tanah air masih bertahan di zona optimistis.

Lompatan IKK menuju atau melampaui perkiraan 117 sanggup mendongkrak kepastian atas daya beli dan roda pertumbuhan ekonomi domestik.

Dinamika tersebut berpotensi memperkuat sentimen positif pada instrumen keuangan Indonesia, termasuk rupiah.

Sebaliknya, penurunan yang terus berlanjut bisa memperbesar kekhawatiran terkait tingkat daya beli serta percepatan ekonomi nasional.

Dari panggung global, mata uang dolar AS bergerak cenderung stagnan saat para pelaku pasar mengamati kenaikan harga minyak dunia serta imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Yield surat utang negara AS tenor 10 tahun naik dua basis poin ke angka 4,804%.

Lonjakan imbal hasil sanggup memelihara daya tarik aset berdenominasi dolar dan menahan ruang gerak penguatan rupiah.

Meski begitu, laju dolar tertahan oleh penguatan pesat mata uang yen Jepang.

Yen telah melonjak nyaris 5% sejak pekan lalu dan sempat menyentuh level 152,89 yen/US$, kisaran terkuatnya sejak Februari.

Kenaikan yen dipicu oleh ekspektasi peningkatan suku bunga Bank of Japan (BOJ), penarikan modal investor Jepang dari pasar luar negeri, serta aksi unwind carry trade.

Para pelaku pasar meramal BOJ akan mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% dalam rapat tanggal 17-18 September.

Penguatan yen ikut menekan DXY lantaran mata uang Jepang merupakan salah satu bobot utama dalam keranjang indeks dolar AS.

Atensi pasar selanjutnya tertuju pada rilis indikator inflasi produsen dan konsumen AS yang akan diumumkan pekan ini.

Keluarnya data tersebut menjadi deretan indikator pamungkas sebelum bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menyelenggarakan agenda FOMC pada 15-16 September mendatang.

Pelaku pasar saat ini memprediksi peluang sebesar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan ini, setelah rilis data pasar tenaga kerja AS bulan Agustus tercatat lebih kuat dibanding perkiraan.

Eskalasi geopolitik di kawasan Teluk ikut menyita atensi lantaran berisiko menjaga laju tekanan inflasi tetap tinggi.

Harga minyak mentah Brent bertengger di kisaran level tertinggi dalam rentang waktu enam minggu, mendekati angka US$98 per barel.

Tingkat inflasi AS yang lebih tinggi serta kenaikan harga minyak dapat memperbesar kans kenaikan suku bunga The Fed sekaligus melambungkan dolar.

Kondisi ini berpotensi membatasi apresiasi rupiah dalam transaksi perdagangan berikutnya.

Reporter: Moch Febrianto