Arah Pergerakan Rupiah Menguji Tren Penguatan Terhadap Dolar Amerika
JAKARTA - Perubahan mata uang rupiah pada awal pekan berpeluang menguji tren penguatannya di tengah penantian rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed.
Menyadur Bloomberg, nilai tukar mata uang indonesia ditutup naik 37,00 poin atau 0,21% ke level Rp 17.642 per dolar AS pada sesi perdagangan Jumat.
Berdasarkan data Trading Economics, mata uang garuda berada di level Rp 17.631 per dolar AS atau bergeser 6,00 poin (0,03%), sedangkan menurut kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, rupiah berada pada level Rp 17.636 per dolar AS, naik Rp 53 atau sekitar 0,30% dari hari sebelumnya pada level Rp 17.689 per dolar AS.
Kenaikan mata uang Garuda pada perdagangan Jumat tersebut terutama didorong oleh melandainya tekanan dolar AS global seiring sikap waspada pejabat The Fed serta masuknya arus modal asing ke instrumen SBN dan SRBI.
Walau demikian, kenaikan ini dinilai masih bersifat bertahan sebab pasar bersiap menghadapi rilis data penting ekonomi dunia.
Dinamika rupiah pada awal pekan, Senin, akan amat bergantung pada respons pelaku pasar dunia terhadap laporan data tenaga kerja AS bulan Agustus.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menganggap faktor eksternal masih memegang kendali utama pergerakan nilai tukar dibanding dengan faktor dalam negeri.
"Rupiah masih sangat ditentukan faktor global dibandingkan domestik, seperti data tenaga kerja AS, ekspektasi suku bunga The Fed, yield US Treasury, dan harga minyak," kata Rizal dari Sumbernya, Jumat.
Pakar Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi memaparkan bahwa apabila data non-farm payrolls AS memburuk, tingkat pengangguran meningkat, dan pertumbuhan gaji melunak, pasar diperkirakan akan memangkas ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed.
Situasi ini berpotensi menekan indeks dolar AS serta imbal hasil US Treasury, yang pada gilirannya memberikan ruang apresiasi bagi nilai tukar rupiah.
Namun sebaliknya, bilamana data tenaga kerja AS dipublikasikan lebih kuat dari prediksi, mekanisme bakal berbalik memicu penguatan dolar dan menekan mata uang negara berkembang.
Di samping itu, minimnya likuiditas pasar akibat libur Labor Day di AS berpeluang memperlebar rentang pergerakan rupiah di pasar Asia.
Pada sisi domestik, posisi cadangan devisa Indonesia yang berada pada kisaran US$146 miliar serta langkah stabilisasi Bank Indonesia menjadi penahan gejolak, walaupun risiko lonjakan harga minyak Brent dan dinamika geopolitik Timur Tengah tetap mesti diwaspadai.
Terkait arah pergerakan mata uang rupiah pada Senin, Syafruddin memprediksikan rupiah berfluktuasi dalam rentang Rp 17.590–Rp 17.730 per dolar AS dengan titik tengah pada area Rp 17.640–Rp 17.660 per dolar AS.
"Jika data payroll jauh lebih lemah dari perkiraan dan yield UST turun, rupiah dapat menguji Rp 17.540–Rp 17.600," ujar Syafruddin.
Di sisi lain, Rizal menaksir pergerakan kurs mata uang garuda berada di rentang Rp 17.580–Rp 17.720 per dolar AS.
Jikalau sentimen global menyumbang dorongan positif, rupiah berpeluang menguji rentang Rp 17.550–Rp 17.600 per dolar AS, namun jika harga minyak dan data ekonomi AS kembali naik tinggi, rupiah berisiko kembali terkoreksi menuju rentang Rp 17.700–Rp 17.750 per dolar AS.