Waskita Karya Sukses Tuntaskan Restrukturisasi Utang & Perpanjang Tenor
JAKARTA - Pemilik obligasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk menyepakati perpanjangan tenor sebagai bagian dari alur restrukturisasi utang.
Sejalan dengan tindakan tersebut, besaran utang perusahaan pun sukses dikurangi secara bermakna dalam rentang waktu empat tahun terakhir.
Komitmen tersebut diraih melalui Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada Kamis (3/9/2026).
Para pemilik obligasi menyetujui seluruh opsi restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2019, termasuk poin perpanjangan tenor.
"Kami akan terus konsisten memenuhi kewajiban yang tersisa. Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus apresiasi atas dukungan mitra yang telah membantu kami menyelesaikan berbagai proyek infrastruktur," ujar Direktur Keuangan Waskita Karya (WSKT), Wiwi Suprihatno, Jumat (4/9/2026).
Restu RUPO ini sekaligus membuka jalan pencabutan suspensi saham WSKT.
Wiwi menegaskan perseroan bakal terus melanjutkan penguatan struktur keuangan dengan mengedepankan asas transparansi dan tata kelola yang baik.
Sebagai informasi, restrukturisasi utang WSKT berhubungan dengan Master Restructuring Agreement (MRA) yang sebelumnya telah disepakati oleh 21 bank.
Sejak akhir 2023, WSKT berhasil menekan utang sebesar 20,8%, dari Rp 84 triliun menjadi Rp 66,5 triliun.
Di samping itu, perseroan sukses memangkas tunggakan utang vendor (past due) yang tercatat pada 2022 hingga 97,1%.
Dalam kurun waktu empat tahun, angkanya merosot tajam dari Rp 2,13 triliun menjadi tersisa Rp 48 miliar pada semester I 2026.
Kewajiban tunggakan pajak pun sudah dirampungkan 100%, sehingga sejak 2024 Waskita Karya tidak lagi memikul utang pajak past due, yang turut mendongkrak kepercayaan para pemangku kepentingan.
Dari sisi performa keuangan, Waskita mencatat pendapatan usaha sejumlah Rp 4,92 triliun secara year-on-year (yoy) pada semester I 2026.
Angka ini melonjak 58,49% dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang cuma mencapai Rp 3,1 triliun.
"Peningkatan pendapatan ini didorong oleh produksi dari proyek Sekolah Rakyat (SR) dan jaringan irigasi Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Pencapaian ini membuktikan bahwa restrukturisasi finansial berjalan seiring dengan perbaikan kinerja operasional," jelas Wiwi.
Proyek yang dikerjakan Waskita saat ini meliputi bendungan, rumah sakit, LRT Jakarta Fase 1B, hingga Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato di Timor Leste.
Perolehan Nilai Kontrak Baru (NKB) yang terkumpul hingga Juni 2026 menembus Rp 5,1 triliun, didominasi oleh pekerjaan konektivitas (45,6%) dan infrastruktur air (21,7%).
"Sebagai bagian dari manajemen risiko, kami lebih selektif memilih proyek. Waskita Karya kini menghindari proyek turnkey maupun investasi, dan beralih fokus pada proyek berskema monthly payment yang memiliki uang muka," tuturnya.
Ke depannya, Waskita Karya bakal tetap fokus memulihkan operasional dengan kembali ke bisnis inti (core business) sebagai kontraktor murni.
Perseroan juga gencar berkomunikasi dengan Daya Anagata Nusantara (Danantara) selaku pengelola investasi negara.
"Kehadiran Danantara memberikan perspektif baru bagi pemulihan dan pertumbuhan Waskita, termasuk optimalisasi aset tol dan dukungan terhadap peta jalan konsolidasi BUMN Karya," tambah Wiwi.
Ia optimis seluruh langkah strategis ini mampu memperkuat kinerja berkelanjutan serta daya saing Waskita Karya, sehingga perseroan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.