WARTAFINANSIAL.COM — Menjelang acara "surprise and shine" Apple yang tinggal lebih dari sepekan lagi, spekulasi mengenai harga iPhone Ultra kian memanas. Berdasarkan pantauan selama beberapa bulan terakhir, analis memperkirakan ponsel lipat ini akan dibanderol di rentang USD 2.000 sampai USD 2.500 untuk model dasar. Namun, sejumlah prediksi lain bahkan menyebut angka yang lebih tinggi lagi.

Perkiraan Harga iPhone Ultra per Varian Penyimpanan

Belum ada laporan resmi yang merinci harga untuk setiap kapasitas penyimpanan. Sebagai gambaran, berikut estimasi harga yang beredar di pasar jika Apple menerapkan pola kenaikan sekitar USD 200 per jenjang, mirip seperti struktur harga iPhone 17 Pro Max.

  • 256 GB: estimasi terendah USD 2.100, menengah USD 2.300, tertinggi USD 2.500
  • 512 GB: estimasi terendah USD 2.300, menengah USD 2.500, tertinggi USD 2.700
  • 1 TB: estimasi terendah USD 2.300, menengah USD 2.700, tertinggi USD 2.900

Jika dibandingkan dengan kompetitor, harga dasar iPhone Ultra kemungkinan besar akan berada di atas Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra yang saat ini dijual mulai USD 2.099 (sekitar Rp 34,6 juta). Google Pixel 11 Pro Fold dibanderol lebih rendah, yakni mulai USD 1.899 (sekitar Rp 31,3 juta).

Mengapa iPhone Ultra Bisa Selibih Itu?

Ada sejumlah faktor teknis yang bisa menjelaskan mengapa ponsel lipat pertama Apple ini pantas berada di segmen harga premium.

Pertama, Apple dikabarkan telah mengembangkan teknologi lipatan layar yang hampir tidak terlihat. Jika benar, ini akan menjadi pencapaian yang belum berhasil diraih pabrikan lain—meski Samsung dengan teknologi Flex Titanium-nya sudah berhasil meminimalkan bekas lipatan pada Galaxy Z Fold 8 series.

Kedua, iPhone Ultra disebut-sebut akan ditenagai chip A20 Pro yang diproduksi dengan proses 2nm. Proses fabrikasi yang lebih kecil ini menawarkan efisiensi daya dan performa yang lebih tinggi, tetapi biaya produksinya juga jauh lebih mahal. Tekanan biaya komponen ini juga dialami Google dan Samsung, yang sama-sama menaikkan harga jual ponsel lipat terbaru mereka sekitar USD 100 dibanding generasi sebelumnya.

Ketiga, faktor software. iOS 27 yang menjadi sistem operasi utama iPhone Ultra diklaim memiliki optimasi sistem yang mumpuni untuk penyesuaian skala aplikasi (app scaling) secara dinamis dan transisi antar-layar yang mulus. Jika Apple berhasil menghadirkan pengalaman multitasking yang konsisten di mode portrait maupun landscape, nilai jual ini bisa menjadi pembeda utama dari ponsel lipat Android yang masih kesulitan merapikan tata letak multi-window.

Pelajaran dari Apple Vision Pro

Apple berada dalam posisi yang sulit dalam menentukan harga. Apple Vision Pro, headset mixed reality miliknya, disebut-sebut gagal menarik konsumen karena harganya yang selangit. Jika iPhone Ultra dirilis dengan harga USD 2.500, bukan tidak mungkin produk ini akan bernasib serupa.

Samsung Galaxy Z TriFold menjadi contoh nyata lainnya. Ponsel lipat tiga tersebut dibanderol USD 2.899, dan harga yang tinggi itu disebut menjadi biang keladi lesunya penjualan.

Dengan pertimbangan tersebut, angka USD 2.300 (sekitar Rp 37,9 juta) dinilai sebagai titik paling realistis. Harga itu masih masuk akal bagi konsumen yang terbiasa membayar di atas USD 1.000 untuk flagship biasa, sekaligus memberi ruang bagi Apple untuk mempertahankan citra premiumnya.

Meski demikian, semua angka ini masih berupa estimasi. Harga resmi dan spesifikasi lengkap iPhone Ultra baru akan terjawab setelah Apple resmi meluncurkannya dalam waktu dekat. Bagi pengguna di Indonesia yang sudah tidak sabar, bersiap-siaplah untuk merogoh kocek lebih dalam—belum termasuk pajak dan biaya impor yang biasanya membuat harga ponsel premium di Tanah Air jauh lebih tinggi dari harga global.

Reporter: Redaksi