WARTAFINANSIAL.COM — Angka itu diungkapkan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9). Ia menjelaskan, nilai impor sapi hidup tersebut setara USD 331 juta dan menjadi salah satu komponen penting dalam rantai pasok daging nasional.
Sapi Masuk, Daging Lembu Juga Ikut
Bukan cuma sapi hidup yang mengalir dari luar negeri. BPS mencatat, impor daging jenis lembu dalam periode yang sama mencapai 85,1 ribu ton dengan nilai transaksi USD 373,3 juta.
Berbeda dengan sapi hidup yang 100 persen berasal dari Australia, daging lembu impor datang dari tiga negara sekaligus. "Negara asalnya yang pertama dari Australia, kemudian dari India, dan juga dari Brasil," ungkap Ateng.
Kenapa Harus Australia?
Pilihan Indonesia untuk menggantungkan pasokan sapi hidup ke Australia sebenarnya bukan tanpa alasan. Kedekatan geografis membuat biaya pengiriman lebih efisien, sementara kapasitas produksi negeri Kanguru tersebut tergolong besar.
Sapi-sapi yang masuk umumnya diarahkan untuk penggemukan di dalam negeri. Setelah digemukkan, barulah sapi-sapi tersebut dipasarkan ke konsumen dan pelaku usaha, termasuk rumah potong hingga pedagang daging di pasar.
Dampaknya ke Impor Nasional
Masuknya sapi maupun daging lembu ikut mendongkrak total nilai impor Indonesia. Pada Juli 2026 saja, nilai impor mencapai USD 26,09 miliar—melonjak 27,02 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat USD 20,54 miliar.
Secara kumulatif Januari–Juli 2026, total impor juga naik 19,94 persen secara tahunan, dari USD 136,18 miliar menjadi USD 163,33 miliar.
Besarnya volume impor sapi ini setidaknya menjelaskan satu hal: kebutuhan konsumsi daging dalam negeri masih sangat tinggi, dan harga daging di lapangan ikut dipengaruhi oleh kebijakan serta kondisi pasokan dari luar.