WARTAFINANSIAL.COM — Kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang meminta SMV, seperti bank BUMN dan lembaga pembiayaan, mematok bunga simpanan di bawah BI Rate memang bertujuan menekan biaya dana perbankan. Dengan biaya dana yang lebih murah, bank punya ruang menyalurkan kredit dengan bunga lebih rendah ke masyarakat. Kebijakan ini juga diharapkan meredam perang bunga simpanan antarbank yang selama ini membuat biaya dana tinggi.

Namun, Wijayanto Samirin menilai kebijakan tersebut belum menyentuh akar persoalan. Struktur industri perbankan Indonesia yang cenderung terkonsentrasi pada segelintir bank besar justru menjadi faktor dominan yang menjaga suku bunga kredit tetap tinggi.

"Tingginya bunga kredit di Indonesia lebih disebabkan faktor sistemik di antaranya struktur industri perbankan yang oligopolistik, di mana empat pemain besar menguasai hampir 50 persen total aset dan hampir 65 persen net income," ujar Wijayanto kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Nasib Bank Kecil Jadi Kunci

Kondisi oligopolistik itu berdampak pada efisiensi industri dan membuat net interest margin (NIM) perbankan Indonesia lebih tinggi dibanding negara lain. Yang lebih memprihatinkan, ada disparitas NIM yang lebar antara bank besar dan bank kecil.

Jika bank besar dipaksa menurunkan bunga kredit, bank-bank kecil akan menanggung beban lebih berat. "Jika hal ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, berpotensi membuat bank-bank kecil gulung tikar," kata Wijayanto.

Karena itu, konsolidasi bank kecil menjadi langkah awal yang lebih fundamental. Menggabungkan bank-bank kecil akan meningkatkan skala usaha dan efisiensi, sehingga struktur industri perbankan menjadi lebih sehat dan kompetitif. "Mendorong konsolidasi bank-bank kecil merupakan langkah awal untuk mewujudkan industri perbankan yang efisien dan berujung pada bunga kredit yang lebih rendah," tegasnya.

Faktor Lain di Balik Bunga Kredit Tinggi

Selain struktur industri, Wijayanto menyebut BI Rate yang relatif tinggi juga berkontribusi menjaga bunga kredit tetap tinggi. Kondisi itu berkaitan dengan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah ketidakpastian hukum. Hal ini meningkatkan persepsi risiko perbankan dalam menyalurkan kredit, yang pada akhirnya mendorong bank mematok bunga lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.

Kombinasi tiga faktor tersebut — struktur oligopolistik, BI Rate tinggi, dan ketidakpastian hukum — menjelaskan mengapa bunga kredit di Indonesia sulit turun meski kebijakan moneter sudah dilonggarkan. Kebijakan menekan bunga simpanan SMV bisa membantu dalam jangka pendek, tapi tanpa restrukturisasi industri, dampaknya akan terbatas.

Reporter: Redaksi