WARTAFINANSIAL.COM — Tim penyelamat pada Minggu masih berupaya memadamkan kebakaran dan ledakan susulan di lokasi gudang amunisi yang diserang militer Rusia. Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam unggahan Telegram menyebut tim penjinak bom juga dikerahkan untuk membersihkan area tersebut, sementara empat warga dilaporkan masih hilang.
Gudang Amunisi Kembali Jadi Sasaran di Dekat Pemukiman
Serangan ini merupakan kali kedua dalam dua bulan terakhir gudang amunisi di dekat Kyiv menjadi target Rusia. Otoritas setempat menyuarakan kemarahan karena persenjataan masih disimpan terlalu dekat dengan kawasan residensial. Jaksa Ukraina telah membuka penyelidikan terkait dugaan kelalaian kriminal dalam pengelolaan fasilitas tersebut.
Korban tewas sebanyak 38 orang menjadikan insiden ini sebagai serangan paling mematikan di Ukraina sepanjang tahun berjalan, melampaui berbagai serangan lain yang terjadi sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada Februari 2022.
Rusia Umumkan Rencana Serangan Besar ke Infrastruktur Energi
Di tengah operasi penyelamatan, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan pasukannya bersiap melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap infrastruktur energi Ukraina. Langkah ini disebut sebagai respons atas kampanye drone Ukraina yang menargetkan Wildberries—platform e-commerce yang dijuluki "Amazon-nya Rusia"—serta sektor minyak dan gas yang menurut Kyiv mendanai perang Moskow.
Militer Ukraina mengaku melancarkan serangan malam ke kilang minyak di wilayah Leningrad dan pangkalan militer di wilayah Krasnodar. Sementara itu, satu orang tewas dalam serangan terpisah Ukraina terhadap sebuah tambang di wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia, menurut Gubernur Leonid Pasechnik yang ditunjuk Moskow.
Musim Dingin Diprediksi Jadi Ujian Terberat
Pada musim dingin sebelumnya, Rusia secara sistematis menghancurkan jaringan listrik Ukraina, membuat ribuan warga kehilangan pemanas dan penerangan di tengah suhu beku. Pejabat Ukraina berulang kali memperingatkan musim dingin mendatang berpotensi menjadi yang paling berat sejak invasi dimulai, dengan infrastruktur energi yang semakin rapuh akibat serangan beruntun.
Upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik—perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II—masih menemui jalan buntu selama berbulan-bulan. Rusia menuntut konsesi teritorial dan politik besar-besaran dari Ukraina, yang ditolak Kyiv karena dianggap setara dengan menyerah.
Belum ada perkembangan baru mengenai kemungkinan pembicaraan damai, sementara intensitas serangan di kedua sisi justru meningkat menjelang musim dingin.