WARTAFINANSIAL.COM — Penguatan rupiah dalam sepekan terakhir memang terasa menyenangkan. Tapi di balik itu, ada catatan penting yang disampaikan para ekonom: posisi mata uang Garuda ini masih rapuh dan bisa saja berbalik melemah sewaktu-waktu.

Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Fundamental Eksternal Masih Rapuh

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut fundamental eksternal rupiah masih relatif rapuh. Penyebabnya, defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 melonjak menjadi 3,34 persen dari PDB.

Lonjakan ini dipicu oleh penurunan surplus perdagangan dan membengkaknya defisit jasa. Alhasil, meski cadangan devisa masih cukup besar, bantalan bersihnya kini menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan awal tahun.

Ketergantungan pada Dana Asing Jangka Pendek

Penguatan rupiah sepanjang 2026 juga masih sangat bergantung pada arus modal asing berjangka pendek. Dana asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai 9,86 miliar dolar AS.

Kondisi ini kontras dengan pasar saham yang justru mencatat arus keluar sekitar 4,07 miliar dolar AS. Artinya, kepercayaan investor jangka panjang belum sepenuhnya pulih.

Sentimen Global Jadi Pendorong Utama

Josua menambahkan, pendorong utama penguatan rupiah saat ini lebih didominasi oleh faktor global. Pelemahan indeks dolar AS dan langkah stabilisasi Bank Indonesia melalui BI-Rate di level 5,75 persen menjadi katalis utamanya.

"Saya belum melihat Rp 17.600–Rp 17.700 sebagai level yang pasti dapat dipertahankan tanpa dukungan lanjutan dari pelemahan dolar global," jelas Josua kepada kumparan, Minggu (30/8).

Ia menilai penguatan ke level Rp 17.693 ini sehat, tetapi lebih banyak mencerminkan membaiknya kondisi pasar dan arus modal, bukan perubahan fundamental eksternal Indonesia secara penuh.

Tekanan Mereda, Bukan Selesai

Senada dengan Josua, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa pelebaran defisit transaksi berjalan dan terbatasnya pasokan devisa dari perdagangan membuat posisi rupiah masih rentan.

"Penguatan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan yang sedang mereda, bukan tekanan yang sudah selesai," tegas Yusuf.

Ia menambahkan, perbaikan fundamental baru akan lebih meyakinkan jika defisit transaksi berjalan mulai menyempit, cadangan devisa meningkat secara konsisten, dan arus modal jangka panjang semakin kuat. Sampai itu terjadi, perjalanan rupiah masih penuh liku.

Reporter: Redaksi