Harga Emas Dunia Terperosok Akibat Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Global
WASHINGTON - Banderol emas internasional tergelincir mendekati 1 persen pada penutupan sesi perdagangan Selasa (18/8/2026) waktu setempat atau Rabu (19/8/2026) pagi WIB.
Daya tarik investasi emas terhimpit oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang hingga menyentuh angka tertinggi dalam rentang puluhan tahun.
Melansir dari Sumbernya, harga spot emas terpangkas 1,1 persen ke posisi 4.364,90 dollar AS per ons.
Sedangkan harga emas futures Amerika Serikat untuk penyerahan Desember tergerus 1,2 persen ke tingkat 4.420,60 dollar AS per ons.
"Kurva imbal hasil (obligasi) yang semakin menanjak menjadi hambatan bagi emas, sementara harga minyak yang lebih tinggi juga turut menjadi faktor di balik pelemahan kali ini," ujar Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.
Mespi begitu, dirinya masih melihat kans penguatan harga emas ke depannya.
Menurut penilaiannya, arena perdagangan emas barangkali wajib melewati masa konsolidasi sebelum gairah pembelian kembali terpacu.
"Terlepas dari koreksi saat ini, kami tetap optimistis terhadap emas dan melihat potensi kenaikan lebih lanjut," kata Grant.
Tarif pinjaman jangka panjang di sejumlah wilayah, mulai dari Amerika Serikat, Jepang, sampai Jerman, mencapai angka teratas dalam kurun beberapa dekade.
Keadaan ini memberatkan pergerakan harga emas mengingat logam mulia tidak membagikan imbal hasil atau bunga laiknya produk obligasi.
Di sisi berbeda, tarif minyak mentah merangkak naik untuk hari ketiga secara beruntun di tengah kian menguatnya kekhawatiran inflasi akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Peluang perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran pun tersendat usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan Teheran tampaknya tidak bakal menerima ketentuan yang disyaratkan untuk mengakhiri perselisihan.
Iran pun menegaskan bakal menerapkan respons militer yang "sepenuhnya ofensif" dan memastikan kawasan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Washington mengabulkan syarat dalam kesepakatan interim.
Kenaikan harga bahan bakar makin memperkuat dasar bank-bank sentral untuk mempertahankan tingkat suku bunga tinggi demi memukul mundur inflasi.
Hal ini terjadi walaupun sederet laporan ekonomi Amerika Serikat terkini memperlihatkan melemahnya bursa tenaga kerja, tingkat inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, serta catatan penjualan ritel Juli yang lesu.
Para investor saat ini tengah menunggu dokumen risalah rapat arah kebijakan moneter terkini bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) yang bakal dirilis pada Rabu waktu setempat.
Rincian risalah ini diharapkan memberikan petunjuk mengenai tren suku bunga Amerika Serikat ke depannya.
Sementara itu, harga berbagai komoditas logam mulia lainnya juga terpantau melorot.
Harga perak spot menyusut 2,8 persen menuju 63,96 dollar AS per ons.
Harga platinum terperosok 2,5 persen menuju 1.725,41 dollar AS per ons, sedangkan palladium anjlok 3,1 persen pada level 1.291,78 dollar AS per ons.