BI Beberkan Tiga Langkah Strategis Transformasi Pengelolaan Uang Rupiah

BI Beberkan Tiga Langkah Strategis Transformasi (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:54:22 WIB

JAKARTA - Pertumbuhan transaksi digital mengubah pola masyarakat dalam mengoperasikan Rupiah. Meskipun demikian, peralihan menuju pembayaran non-tunai tidak secara otomatis membuat pemeliharaan uang fisik ditinggalkan.

Di tengah pergeseran tersebut, Bank Indonesia (BI) merancang transformasi tata kelola mata uang rupiah supaya tetap sanggup memenuhi kebutuhan publik, sekaligus menjamin ketersediaan uang tunai pada seluruh kawasan Indonesia.

Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, memaparkan BI wajib beradaptasi dalam mengurus rupiah.

Terlebih lagi BI turut menghadapi dinamika sektor industri tata kelola mata uang serta tuntutan terhadap praktik yang makin berkelanjutan.

Lantaran hal itu ada tiga taktik yang diterapkan BI pada persoalan ini.

“Bank Indonesia melakukan transformasi pengelolaan uang rupiah (PUR) melalui 3 hal. Pertama, modernisasi jaringan distribusi PUR. Yang kedua, menerapkan digitalisasi PUR secara end-to-end. Dan yang ketiga adalah penerapan prinsip sustainability,” kata Ricky dalam pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

Mengenai taktik pertama, Ricky menuturkan yaitu menjalankan pembaruan jaringan penyaluran rupiah.

Perkara tersebut selaras dengan komitmen BI untuk menyediakan rupiah pada jumlah yang memadai, pecahan yang pas, mutu yang bagus, dan di waktu yang tepat pada seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penyaluran rupiah juga dijalankan melewati kemitraan dengan TNI Angkatan Laut serta TNI Angkatan Udara.

Ricky menyampaikan apresiasi kepada dua lembaga tersebut atas sinergi dalam penyaluran rupiah menuju kawasan 3T.

“Kerja sama Bank Indonesia dengan TNI Angkatan Laut untuk menghadirkan rupiah hingga ke wilayah 3T mendapat penghargaan sebagai Central Banking Award Kategori Currency Inisiatif,” imbuhnya.

Taktik kedua yakni mengimplementasikan digitalisasi pengurusan rupiah secara end-to-end.

Hal ini menjadi salah satu bagian dari perombakan BI dalam merespons pergeseran iklim strategis pengurusan rupiah, termasuk melesatnya pertumbuhan transaksi non-tunai dan digitalisasi pemeliharaan uang.

“Saat ini pengelolaan uang rupiah menghadapi perubahan lingkungan strategis seperti pesatnya perkembangan transaksi non tunai, digitalisasi pengelolaan uang, dinamika industri PUR, serta tuntutan informal sustainability,” jelasnya.

Sementara taktik ketiga yang dijalankan bank sentral yakni mengaplikasikan asas sustainability dalam pemeliharaan rupiah.

Satu di antaranya pemanfaatan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK).

“Terima kasih kepada PLN Indonesia, Indonesia Power, PLN Nusantara Power dan PT Solusi Bangun Indonesia atas sinergi implementasi green fuel, yaitu pemanfaatan LRUK sebagai energi atau konversi waste to energy,” ujarnya.

Program Rupiah Waste to Worth Collaboration yang berkaitan dengan tindakan keberlanjutan tersebut turut memenangkan International Association of Currency Affairs (IACA) Award kategori Best New Environmental Sustainability Project.

Perombakan pemeliharaan rupiah yang dikerjakan BI pun telah mengantongi deretan pengakuan global.

Ricky menyebutkan Rupiah Tahun Emisi 2022 meraih predikat Best New Banknote Series pada IACA Award 2023.

Di samping itu, nominal rupiah Rp50.000 Tahun Emisi 2022 memperoleh pengakuan sebagai salah satu pecahan uang kertas dengan tingkat pengamanan terbaik di dunia.

“Yang kedua, pecahan rupiah Rp50.000 tahun emisi 2022 juga mendapat pengakuan sebagai salah satu uang kertas dengan tingkat keamanan terbaik di dunia,” ujar Ricky.

Perombakan pemeliharaan rupiah tersebut menjadi salah satu poin yang diusung BI pada penyelenggaraan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 yang dilaksanakan pada 14-16 Agustus 2026.

FERBI telah dihelat tiap tahun sejak 2022 dan tahun ini menjadi gelaran yang kelima.

“FERBI tahun 2026 ini mengusung tema Rupiah Berdaulat Indonesia Bermartabat. Tema itu menegaskan bahwa kami perlu menjaga kedaulatan rupiah agar Indonesia semakin bermartabat di mata dunia,” ujar Ricky.

Pada gelaran FERBI tahun ini, BI turut memperkenalkan lambang baru sebagai simbol spirit untuk memperkokoh kolaborasi, inovasi, dan persatuan dalam merawat kedaulatan Rupiah.

Selain itu, BI juga memprakarsai Bridge, forum diskusi dan kolaborasi antara bank sentral, pelaku serta asosiasi dalam ekosistem pemeliharaan Rupiah, beserta para pakar dari dalam dan luar negeri.

“Bridge membuka berbagai isu strategis PUR seperti desain uang, strategi pemberantasan uang palsu, modernisasi dan digitalisasi infrastruktur, hingga inovasi pengelolaan uang ke depan,” jelasnya.

Di samping mengupas perombakan pengurusan rupiah, FERBI 2026 turut menghadirkan ruang edukasi, diskusi panel, pameran, kompetisi, dan beragam agenda lainnya yang dapat diikuti publik.

“Saya berharap FERBI 2026 ini tidak berhenti sebagai sebuah festival, namun juga menjadi momentum untuk memperkuat rasa memiliki terhadap rupiah, memperkuat jejaring kolaborasi, dan membangun ekosistem PUR yang semakin modern, aman, inklusif, serta berkelanjutan,” kata Ricky.

Reporter: Moch Febrianto