Pergerakan Pasar Keuangan Menunggu Pidato Prabowo Dan Nota Keuangan RI
JAKARTA - Perdagangan pasar keuangan dalam negeri ditutup bervariasi. Laju IHSG melemah terimbas kabar rebalancing MSCI, sedangkan kurs rupiah dan harga SBN justru menguat terdorong fokus pada agenda sidang tahunan MPR serta nota keuangan pemerintah.
Kondisi pasar keuangan Indonesia diproyeksikan bakal sangat bergantung terhadap rincian kebijakan yang disampaikan dalam sidang tahunan MPR dan nota keuangan di Gedung DPR RI hari ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi dengan koreksi pada perdagangan Kamis (13/8/2026).
IHSG mengalami tekanan sampai hampir bertengger di rentang 6.200-an.
Berdasarkan catatan dari Sumbernya, IHSG ditutup pada level 6.301,77, tergerus 72,08 poin atau 1,13% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.373,85.
IHSG sempat mengawali perdagangan pada level 6.388,23 dan menembus angka tertinggi di 6.390,33.
Namun gelombang aksi jual mendorong indeks menuju titik terendah 6.281,57 sebelum akhirnya ditutup pada level 6.301,77.
Kondisi IHSG yang berbalik melemah kemarin juga dialami mayoritas saham di bursa.
Pada sesi pagi, jumlah saham yang menguat sebenarnya masih lebih mendominasi dibandingkan yang melemah.
Pada akhir transaksi terdapat 186 saham menguat, 474 saham melemah, serta 303 saham lainnya stagnan.
Total nilai kapitalisasi pasar tercatat di angka Rp11.050 triliun.
Aktivitas transaksi kemarin menghasilkan nilai sebesar Rp13,61 triliun dengan volume 26,78 miliar saham.
Adapun frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,91 juta kali.
Dalam sesi perdagangan kemarin, pemodal asing mencatatkan net foreign outflow sebesar Rp1,41 triliun pada seluruh pasar dan membukukan net foreign sell di pasar reguler bernilai Rp1,39 triliun.
Dengan demikian jika dihitung secara year-to-date, pasar saham mencatat net foreign outflow sebesar Rp71,84 triliun di pasar secara keseluruhan dan Rp96,56 triliun di pasar reguler.
Mengenai daftar emiten penekan IHSG, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penahan utama dengan sumbangan negatif 7,48 poin, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 7,14 poin.
Berikutnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan IHSG sebesar 5,25 poin, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 3,93 poin, dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 3,40 poin.
Sementara itu, beberapa saham memberikan kontribusi positif meski secara terbatas.
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) menjadi penopang utama senilai 1,91 poin.
Disusul PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 1,56 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 1,04 poin, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 0,75 poin.
Melihat dari sisi sektoral, tidak seluruh sektor di BEI berakhir di area merah.
Sektor properti mengalami kenaikan 0,24% dan teknologi naik 0,08%.
Di sisi lain, sektor bahan baku mengalami pelemahan paling dalam sebesar 3,18%.
Sektor utilitas merosot 2,62%, energi melemah 1,28%, konsumer non-primer terkoreksi 1,12%, dan industri tergerus 1,01%.
Sektor keuangan juga melemah 0,74%, sedangkan sektor kesehatan menyusut 0,33%.
Tekanan pada IHSG muncul selepas MSCI mengumumkan hasil reviu periode Agustus.
Dalam keputusan tersebut, tidak ada emiten asal Indonesia yang dimasukkan ke dalam MSCI Global Standard Indexes.
Sebaliknya, GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, sedangkan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turun kasta dari Global Standard ke Global Small Cap.
Sembilan saham lainnya juga tereliminasi dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Beralih pada nilai tukar rupiah, mata uang garuda berhasil keluar dari tekanan dan menguat terhadap dolar AS pada transaksi Kamis (13/8/2026).
Berdasarkan data dari Sumbernya, rupiah mengakhiri sesi perdagangan dengan kenaikan 0,03% ke posisi Rp17.860/US$.
Penguatan ini menghentikan tren penurunan yang berlangsung selama dua hari perdagangan sebelumnya.
Rupiah sejatinya mengawali perdagangan di zona merah dengan penurunan 0,06% ke kisaran Rp17.875/US$.
Mata uang Garuda kemudian berbalik arah dan menguat 15 poin dari posisi awal perdagangan hingga penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,03% ke level 99,984.
Penguatan nilai tukar rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS setelah angka inflasi Amerika Serikat memperlihatkan pelandaian.
Tingkat inflasi AS secara tahunan melambat ke 3,4% pada Juli dari 3,5% pada Juni, sementara inflasi inti melandai ke 2,5% dari posisi 2,6%.
Data tersebut menekan peluang bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 40%, turun dari 44% sebelum data inflasi diumumkan dan 55% pada sepekan sebelumnya.
Adapun dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mencatatkan penurunan.
Perkembangan ini mengindikasikan aksi beli lebih mendominasi dibandingkan aksi jual oleh investor di pasar.
SBN bergerak ke level 7.151% pada transaksi kemarin, di mana pada hari sebelumnya yield SBN 10 tahun juga ditutup di level 7.226%.
Menengok bursa saham Amerika Serikat, Wall Street bergerak kompak di zona hijau pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari WIB.
Indeks S&P 500 berhasil mengukir rekor puncak intraday baru pada Kamis, didorong pelemahan harga minyak serta kecenderungan investor mencerna rilis inflasi terbaru.
Indeks S&P naik 0,65% dan untuk pertama kalinya melampaui level 7.800.
S&P 500 juga mencatat rekor penutupan pada level 7.798,99.
Sementara itu, Nasdaq Composite naik 0,81% ke level 26.803,03, ditopang kenaikan harga saham Meta Platforms, Micron Technology, serta Netflix.
Dow Jones Industrial Average terangkat tipis 0,13%, atau 69,72 poin, menuju level 53.839,99.
Harga komoditas minyak terkoreksi lebih dari 2%.
Kontrak minyak Brent merosot melebihi 2% dan mengakhiri perdagangan di posisi US$87,07 per barel.
Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga turun lebih dari 2% ke level US$81,25 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi saat investor menimbang indikasi pelemahan permintaan, di tengah konflik AS-Iran yang masih berjalan.
Tingkat inflasi Amerika Serikat melandai.
Indeks Harga Produsen (PPI) AS bulan Juli tidak mencatatkan perubahan atau 0% secara bulanan.
Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi para ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan PPI naik 0,2%.
Di luar komponen pangan dan energi yang fluktuatif, core PPI terangkat 0,2%, berada sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,3%.
Data PPI yang berada di bawah estimasi ini keluar sehari setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI).
CPI AS bulan Juli naik 0,1% secara bulanan, sesuai dengan perkiraan pasar.
Kondisi inflasi yang relatif melandai tersebut mendorong S&P 500 menguat usai sempat terkoreksi dua sesi berturut-turut.
Keluarnya data tersebut turut membuat investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
"Gambaran inflasi saat ini belum cukup untuk menggagalkan pasar yang pada dasarnya masih didorong oleh kinerja laba perusahaan," kata Bill Merz, kepala riset pasar modal di U.S. Bank Asset Management, dikutip dari Sumbernya.
Menurutnya, pasar masih menunggu bagaimana The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh akan menafsirkan data inflasi tersebut dan menentukan kebijakan selanjutnya.
Namun demikian, ia menilai moderasi bertahap pada angka CPI dan PPI saat ini merupakan perkembangan yang positif bagi pasar.
Saham Cisco mengalami penurunan.
Saham Cisco Systems menjadi salah satu beban utama pasar pada Kamis.
Saham korporasi tersebut merosot lebih dari 8% lantaran laporan keuangan kuartal terbarunya belum berhasil menjawab ekspektasi investor.
Saham Cerebras juga tergerus hampir 12%, sedangkan Coherent turun sekitar 8% usai merilis laporan kinerja terbaru.
Hari ini menjadi momen krusial buat pasar keuangan nasional berikutsertanya agenda besar yakni Pidato Kenegaraan serta pembacaan Nota Keuangan pada Sidang Tahunan MPR RI di Gedung DPR RI yang dijadwalkan pukul 08.30 WIB.
Sidang Bersama DPR, MPR, dan DPD RI ini dipandang penting karena Presiden Prabowo Subianto akan memaparkan Pidato Kenegaraan sekaligus menyampaikan arah kebijakan fiskal pemerintah tahun anggaran 2027.
Berbeda dari agenda tahun-tahun sebelumnya yang rutin digelar tanggal 16 Agustus, Sidang Bersama tahun ini dimajukan dua hari sebab 16 Agustus 2026 jatuh di hari Minggu.
Prabowo dijadwalkan membawakan Pidato Kenegaraan pada pagi hari.
Selanjutnya pada siang hari, Presiden akan membacakan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 serta Nota Keuangan.
Dua pidato tersebut menjadi petunjuk utama bagi pelaku pasar.
Melalui Pidato Kenegaraan, Prabowo bakal memaparkan capaian tahun 2026 dan prioritas pemerintah mendatang.
Pasar menantikan program unggulan apa saja yang dijadikan fokus utama 2027.
Program prioritas semisal Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi poin yang dinanti.
Sebab, program ini tidak sekadar menyangkut belanja negara, melainkan juga memengaruhi daya beli masyarakat, penyerapan produk lokal, hingga geliat ekonomi di daerah.
Meski begitu, perhatian terbesar investor tetap berada pada RAPBN 2027.
Melalui Nota Keuangan, pemerintah memperlihatkan besaran belanja negara, potensi pendapatan, hingga opsi pembiayaan bermacam program unggulannya.
Sejumlah indikator makro juga disorot, mulai dari target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting migas, hingga asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP).
Torehan angka indikator tersebut bukan cuma target formalitas.
Bagi pemodal, angka ini menggambarkan arah kebijakan fiskal pemerintah.
Bagi pelaku usaha, angka tersebut memberi indikasi mengenai proyeksi permintaan, investasi, beban operasional, serta peluang bisnis di tahun 2027.
Sebelumnya pada Rapat Paripurna DPR RI ke-23 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, DPR menyampaikan dalam rapat pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, Badan Anggaran DPR (Banggar) dan pemerintah menyepakati RAPBN 2027, di mana pihaknya menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2027 mencapai sekitar 5,8% hingga 6,5%.
"Dengan sasaran dan indikator pembangunan tahun 2027, telah disepakati, sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 mencapai 5,8% sampai 6,5%," kata Wihadi dalam Rapat Paripurna, dikutip dari Sumbernya.
Usai kesepakatan ini reached, pemerintah nantinya menjadikan acuan angka awal RAPBN 2027 sebagai dasar penetapan angka usulan awal RUU APBN beserta Nota Keuangan pada 16 Agustus 2026.
RUU APBN 2027 tersebut bakal dibahas lebih terperinci bersama Komisi XI DPR sebelum disahkan menjadi UU di akhir Oktober 2026.
Dalam kesepakatan awal, pemerintah dan Banggar DPR menyetujui beberapa acuan awal penyusunan RAPBN 2027, mulai dari asumsi makro, target pembangunan, sampai postur makro fiskal.
Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan juga menjadi ujian penting bagi bursa saham tanah air.
Pelaku pasar ingin mencermati apakah arah kebijakan fiskal pemerintah sanggup memperbaiki sentimen dan menarik kembali modal asing usai net sell besar sepanjang 2026.
Kemarin, MSCI resmi mengumumkan August 2026 Index Review.
Namun reviu ini bukan keputusan akhir penanganan terhadap Indonesia sebab ketentuannya sudah disahkan sejak 6 Juli.
Evaluasi yang lebih menentukan ada di bulan November 2026.
Pada transaksi kemarin, IHSG ditutup melemah 1,13% ke level 6.301,77 setelah sempat menyentuh 6.390,33.
Sejalan dengan koreksi indeks, investor asing mencatatkan net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar serta Rp1,39 triliun di pasar reguler, usai membukukan net buy Rp725,4 miliar pada Rabu sebelumnya.
Selama tiga hari perdagangan usai 10 Agustus, foreign outflow tercatat mencapai Rp1,37 triliun.
Kondisi ini menghapus sinyal positif dari aksi beli dua hari sebelumnya, sementara akumulasi net sell asing sepanjang 2026 sudah mencapai Rp71,84 triliun di seluruh pasar.
Foreign Outflow Masih Menjadi Beban Utama.
Dari total 144 hari perdagangan hingga 13 Agustus, asing cuma mencatatkan net buy dalam 50 hari dan net sell selama 94 hari.
Ini menunjukkan hampir dua dari setiap tiga hari transaksi tahun ini diwarnai aksi jual bersih investor asing.
Bulan Juli membuktikan IHSG mampu menguat tanpa sokongan net buy asing secara menyeluruh.
Indeks terangkat 10,51%, biarpun asing membukukan net sell dalam 16 dari 23 hari perdagangan.
Namun, net buy Juli sangat bergantung pada arus modal masuk senilai Rp8,97 triliun pada 29 Juli.
Tanpa transaksi jumbo tersebut, bulan Juli sebenarnya tetap mencatatkan net sell sekitar Rp7,35 triliun.
Ini berarti likuiditas domestik mampu mendorong penguatan jangka pendek.
Namun untuk mencetak kenaikan yang bertahan lama, IHSG tetap memerlukan foreign inflow yang stabil.
MSCI Agustus Final, Penilaian November Jadi Ujian Utama.
MSCI secara resmi mempublikasikan August 2026 Index Review pada 12 Agustus waktu setempat atau 13 Agustus dini hari WIB yang akan berlaku 1 September.
Hasilnya, tidak ada saham Indonesia yang dimasukkan ke MSCI Global Standard Indexes.
MSCI menetapkan pembekuan penyesuaian Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares bagi emiten Indonesia.
Tidak ada penambahan saham ke Investable Market Indexes maupun kenaikan dari Small Cap ke Standard Index.
Dampak risiko Agustus terlihat secara teknis, yakni GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, CPIN turun level dari Global Standard ke Global Small Cap, serta sembilan emiten dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Perubahan ini berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus atau efektif per 1 September.
Penilaian yang lebih menentukan akan berlangsung di bulan November.
MSCI bakal mengevaluasi pelaksanaan transparansi kepemilikan, pengawasan konsentrasi pemegang saham, serta perbaikan free float.
Jika progress dinilai belum mencukupi, MSCI dapat mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk membuka opsi peninjauan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Namun demikian, Indonesia tidak otomatis mengalami penurunan status pada November.
Oleh karena itu, Nota Keuangan menjadi kesempatan bagi pemerintah guna membangun kepercayaan investor dalam kurun tiga bulan menjelang evaluasi tersebut.
Sektor Domestik Menahan Pasar, Investor Asing Tetap Dibutuhkan demi Reli.
Pasar saham Indonesia tidak melulu disokong oleh investor ritel.
Data transaksi memperlihatkan peran besar lembaga domestik.
Investor lokal terbukti sanggup menahan penurunan serta memicu penguatan rebound.
Akan tetapi, foreign inflow tetap diperlukan mengingat kepemilikan asing pada emiten berkapitalisasi besar masih dominan dan menentukan pergerakan IHSG.
Secara fundamental, kinerja emiten sejatinya cukup kuat.
Dari 763 perusahaan dalam data semester I, sekitar 65,4% mencatatkan kenaikan pendapatan dan 60% mencetak pertumbuhan laba atau berbalik untung.
Kendala utama pasar bukan masalah kinerja emiten, melainkan belum tersedianya modal besar untuk mendorong repricing.
IHSG Melesat ke 8.000 Saat Pidato Kenegaraan 2025, Bagaimana Tahun Ini?
Pengalaman 2025 menunjukkan bahwa pidato Nota Keuangan sanggup memicu optimisme, tetapi tak menjamin tren kenaikan berkelanjutan.
Pada 15 Agustus 2025 persis saat Prabowo menyampaikan Pidato Kenegaraan, IHSG sempat menyentuh level 8.017 secara intraday, sebelum akhirnya ditutup merosot 0,41% ke posisi 7.898,38.
Dari posisi 6.301,77, IHSG memerlukan kenaikan sekitar 2,4% untuk menggapai 6.450 hari ini.
Tingkat tersebut berpeluang dicapai apabila tekanan teknis pasca reviu MSCI mereda, kurs rupiah stabil, serta Nota Keuangan menyajikan program yang kredibel dengan defisit terkendali dan pembiayaan utang yang terukur.
Namun begitu, kunci utama tetap terletak pada foreign inflow.
Pencapaian net buy Rp1,56 triliun sepanjang 1-12 Agustus jadi modal awal yang baik, namun net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar pada 13 Agustus menunjukkan arus modal belum stabil.
IHSG memerlukan foreign inflow masif hari ini agar mampu mengakhiri sesi di atas 6.450 sekaligus membentuk pola candle mingguan yang positif.
Penutupan mingguan di atas posisi tersebut penting guna memperkuat momentum kenaikan dan membuka peluang rally berlanjut, mengingat rekor manis pada momen serupa tahun lalu saat IHSG sempat menyentuh level 8.000 untuk kali pertama dalam sejarah.
Pasar keuangan Indonesia pada Jumat (14/8/2026) akan merespons rilis penurunan inflasi produsen AS, peningkatan klaim pengangguran, serta peninjauan indeks MSCI untuk saham Indonesia.
Fokus selanjutnya tertuju pada angka penjualan ritel AS dan rilis PDB Kawasan Eropa.
Inflasi Produsen Jepang Melandai.
Inflasi produsen Jepang periode Juli yang dirilis Kamis kemarin tumbuh 7,2% secara tahunan, melambat dari 7,3% pada Juni serta berada di bawah konsensus 7,4%.
Secara bulanan, Producer Price Index (PPI) cuma terangkat 0,1%, jauh di bawah proyeksi 0,6% serta melambat dibanding kenaikan 0,5% pada bulan sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan tekanan beban biaya manufaktur Jepang mulai berkurang.
Kondisi ini dapat menekan risiko kenaikan harga ke tingkat konsumen sekaligus meredakan desakan terhadap Bank of Japan untuk segera memperketat kebijakan moneter.
Meski demikian, angka pertumbuhan tahunan sebesar 7,2% tergolong tinggi.
Ini berarti korporasi tetap menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan impor, terutama jika yen melemah kembali.
Bagi pasar, torehan ini cenderung menahan pergerakan yield obligasi Jepang serta membatasi kenaikan yen.
Inflasi Produsen AS Melandai di Bawah Perkiraan.
PPI AS periode Juli yang diumumkan kemarin stagnan atau 0% secara bulanan, lebih rendah dibanding estimasi kenaikan 0,2%.
Data Juni direvisi menjadi minus 0,1%.
Secara tahunan, inflasi produsen melambat ke 4,7% dari 5,5% dan lebih rendah dari perkiraan 4,9%.
PPI inti juga melandai ke 4,2% secara tahunan dari 4,7%, sesuai ekspektasi pasar.
Secara bulanan, PPI inti naik 0,2%, di bawah perkiraan 0,3%.
Harga barang produsen terkoreksi 0,7%, termasuk penurunan harga energi sebesar 3,1%.
Sementara harga sektor jasa tetap naik 0,2%.
Rincian data ini mengindikasikan tekanan harga produsen mulai mereda, biarpun inflasi inti masih berada di level tinggi.
Torehan tersebut direspons positif oleh instrumen berisiko lantaran memangkas kecemasan soal beban biaya yang dibebankan ke konsumen.
Klaim Pengangguran AS Tercatat Meningkat.
Pada saat bersamaan, klaim awal tunjangan pengangguran AS naik ke posisi 209.000 pada pekan yang berakhir 8 Agustus.
Angka itu lebih tinggi dari konsensus 202.000 dan capaian pekan sebelumnya yang direvisi menjadi 200.000.
Kenaikan klaim awal mengindikasikan bertambahnya pekerja yang terkena PHK.
Namun demikian, klaim lanjutan justru turun jadi 1,777 juta dari 1,799 juta dan lebih rendah dari estimasi 1,8 juta.
Kombinasi data ini memberikan gambaran yang seimbang.
Aksi PHK mulai naik, tetapi penerima tunjangan lanjutan berkurang sehingga belum menunjukkan pelemahan tajam di pasar tenaga kerja.
Bagi pasar, kenaikan klaim awal beserta melandainya PPI memperkuat estimasi bahwa The Fed tak perlu mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama.
Kondisi ini berpotensi menekan dolar dan yield obligasi AS sekaligus memberi ruang penguatan buat rupiah dan aset negara berkembang.
Penjualan Ritel AS Menjadi Penentu Pergerakan Berikutnya.
Agenda utama pada Jumat yakni penjualan ritel AS Juli yang diumumkan pukul 19.30 WIB.
Pertumbuhan penjualan diproyeksikan melambat jadi 0,1% secara bulanan dari 0,2% pada Juni.
Namun, penjualan di luar moda transportasi diperkirakan berbalik tumbuh 0,2% usai turun 0,2%.
Sementara kelompok kontrol penjualan ritel yang menjadi komponen perhitungan PDB diproyeksikan terangkat 0,3% usai tumbuh 0,5%.
Data yang terlampau kuat sanggup kembali mendorong yield obligasi dan dolar AS karena menandakan tingkat konsumsi masih kuat menghadapi suku bunga tinggi.
Sebaliknya, realisasi yang moderat menjadi skenario positif bagi IHSG: inflasi produsen melandai tanpa disertai kemerosotan konsumsi yang dalam.
Secara keseluruhan, sentimen global Jumat ini cenderung kondusif usai PPI AS melandai.
Namun pergerakan saham Indonesia berpotensi lebih selektif mengingat pasar mulai mengantisipasi pergeseran modal akibat perubahan indeks MSCI.
PDB Kawasan Euro Kembali Tumbuh.
Dari Eropa, estimasi kedua pertumbuhan ekonomi Kawasan Euro kuartal II diumumkan pada Jumat pukul 16.00 WIB.
Pasar memprediksi pertumbuhan terkonfirmasi sebesar 0,4% secara kuartalan, usai ekonomi stagnan pada kuartal I.
Secara tahunan, PDB diproyeksikan tumbuh 1%, terangkat dari 0,5% pada kuartal sebelumnya.
Estimasi awal menunjukkan pemulihan ditopang beberapa negara, meliputi Spanyol yang tumbuh 0,7%, Jerman 0,2%, Prancis 0,2%, serta Italia 0,2%.
Irlandia mencatat pertumbuhan 3,9%, tetapi perekonomiannya volatil sehingga sanggup memengaruhi angka agregat kawasan.
Jika pertumbuhan terkonfirmasi atau direvisi naik, pasar dapat menilai ekonomi Eropa mulai pulih usai stagnan di awal tahun.
Keadaan tersebut berpotensi menguatkan euro sekaligus memangkas kebutuhan Bank Sentral Eropa untuk melonggarkan kebijakan.
Sebaliknya, revisi turun akan mengindikasikan pemulihan masih rapuh.
Pelemahan euro sanggup menguatkan indeks dolar AS dan secara tidak langsung menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Oleh sebab itu, data ini menjadi perhatian sebelum pasar beralih ke rilis penjualan ritel AS nanti malam.
Di bawah ini adalah deretan agenda beserta rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD dalam Rangka HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.
Rapat Paripurna DPR dalam Rangka Pembacaan RUU APBN TA 2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.
Konferensi Pers terkait Nota Keuangan RUU APBN TA 2027 di Aula Cakti Buddhi Bakti, kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan.
Penjualan Ritel AS Juli 2026.
Pertumbuhan PDB Kawasan Eropa Q2 2026.
Neraca Perdagangan Kawasan Eropa Juni 2026.
Inflasi Prancis Juli 2026.
Inflasi Argentina Juli 2026.
Berikut daftar agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX).
Pemberitahuan RUPS Rencana Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI).
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK).