Pelaku Pasar Keuangan Pantau Pidato Prabowo Subianto Dan Nota APBN '27
JAKARTA - Pasar keuangan nasional ditutup bergerak variatif. IHSG mengalami pelemahan akibat pengumuman rebalancing MSCI, sementara nilai tukar rupiah serta SBN justru menguat di tengah perhatian terhadap sidang tahunan MPR dan nota keuangan RI.
Pasar keuangan dalam negeri diperkirakan bakal sangat bergantung pada arah kebijakan yang bakal disampaikan pada sidang tahunan MPR dan nota keuangan di Gedung DPR RI hari ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi di zona merah pada perdagangan Kamis (13/8/2026).
IHSG tertekan hingga hampir hinggap pada kisaran level 6.200-an.
Berdasarkan data dari Sumbernya, IHSG mengakhiri perdagangan di level 6.301,77, merosot 72,08 poin atau 1,13% dibanding penutupan sebelumnya pada level 6.373,85.
IHSG sempat mengawali sesi pada posisi 6.388,23 dan menyentuh puncak tertinggi 6.390,33.
Namun, maraknya aksi jual menyeret indeks ke titik terendah 6.281,57 sebelum akhirnya finis di 6.301,77.
Kondisi IHSG yang berbalik arah kemarin turut dialami oleh sebagian besar saham.
Pagi harinya jumlah emiten yang berada di area hijau masih lebih banyak bila dibandingkan dengan yang mengalami koreksi.
Pada penutupan perdagangan terdapat 186 saham menguat, 474 saham melemah, dan 303 saham lainnya bergerak stagnan.
Nilai kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp11.050 triliun.
Transaksi kemarin membukukan nilai sebesar Rp13,61 triliun dengan volume mencapai 26,78 miliar lembar saham.
Frekuensi perdagangan tercatat mencapai 1,91 juta kali.
Dalam perdagangan kemarin, terlihat pihak asing mencatatkan net foreign outflow sebesar Rp1,41 triliun di seluruh pasar serta membukukan net foreign sell pada pasar reguler sebesar Rp1,39 triliun.
Sehingga jika data dihimpun secara year-to-date pasar saham mengalami net foreign outflow senilai Rp71,84 triliun di pasar secara keseluruhan dan Rp96,56 triliun di pasar reguler.
Dari deretan emiten yang menjadi pemberat langkah IHSG, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan paling dominan dengan kontribusi negatif 7,48 poin, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 7,14 poin.
Selanjutnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menahan IHSG sebesar 5,25 poin, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 3,93 poin, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 3,40 poin.
Sementara itu, beberapa saham tercatat memberikan dorongan positif meski dengan beban yang terbatas.
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) menjadi penopang paling besar yaitu 1,91 poin.
Berikutnya terdapat PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) senilai 1,56 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 1,04 poin, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 0,75 poin.
Dari sisi sektoral, tidak semua sektor utama yang terdaftar di bursa berakhir di zona merah.
Sektor properti terangkat 0,24% dan teknologi naik 0,08%.
Di sisi lain, bahan baku menjadi sektor yang mengalami penurunan terdalam, yakni 3,18%.
Selanjutnya sektor utilitas merosot 2,62%, energi tergerus 1,28%, konsumer non-primer terkoreksi 1,12%, dan sektor industri melemah 1,01%.
Sektor keuangan turut merosot 0,74%, sedangkan sektor kesehatan menyusut 0,33%.
Tekanan terhadap IHSG terjadi selepas MSCI merilis hasil evaluasi periode Agustus.
Dalam keputusan tersebut, tidak ada emiten Indonesia yang ditambahkan dalam MSCI Global Standard Indexes.
Malah sebaliknya, GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turun tingkatan dari Global Standard ke Global Small Cap.
Sembilan emiten lainnya juga turut dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Beralih ke mata uang garuda, nilai tukar rupiah berhasil melepaskan tekanan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi Kamis (13/8/2026).
Mengacu pada data dari Sumbernya, rupiah menyelesaikan perdagangan dengan apresiasi tipis 0,03% menuju level Rp17.860/US$.
Penguatan ini sekaligus menghentikan tren penurunan yang sempat terjadi dalam dua hari perdagangan berturut-turut.
Rupiah sebenarnya memulai transaksi di zona merah lewat penurunan 0,06% ke posisi Rp17.875/US$.
Mata uang Garuda lantas berbalik arah dan menguat 15 poin dari angka pembukaan sampai penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terlihat melemah tipis 0,03% ke posisi 99,984.
Penyehatan rupiah berjalan seiring melemahnya dolar AS setelah tingkat inflasi Negeri Paman Sam memperlihatkan pelandaian.
Inflasi AS secara tahunan merosot jadi 3,4% pada Juli dari 3,5% pada Juni, sementara inflasi inti melandai jadi 2,5% dari posisi 2,6%.
Data tersebut memperkecil peluang bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar saat ini memperhitungkan peluang kenaikan tingkat suku bunga pada September sebesar 40%, turun dari 44% sebelum angka inflasi dirilis dan 55% pada pekan sebelumnya.
Sedangkan dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), yield obligasi 10 tahun Indonesia mencatatkan penurunan.
Kondisi ini menandakan aktivitas transaksi lebih didominasi oleh investor yang melakukan aksi beli daripada aksi jual di pasar.
SBN bergerak menuju posisi 7.151% pada transaksi kemarin, di mana pada hari sebelumnya yield SBN 10 tahun juga terpantau mengakhiri sesi pada angka 7.226%.
Dari pasar ekuitas Amerika, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 mengukir rekor tertinggi intraday baru pada Kamis, seiring merosotnya harga minyak dan investor mencerna rilis data inflasi paling gres.
Indeks S&P terangkat 0,65% dan untuk kali pertama menembus level 7.800.
S&P 500 juga menorehkan rekor penutupan pada level 7.798,99.
Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,81% menuju level 26.803,03, terdorong oleh penguatan saham Meta Platforms, Micron Technology, dan Netflix.
Dow Jones Industrial Average terangkat tipis 0,13%, atau 69,72 poin, ke posisi 53.839,99.
Harga minyak dunia melorot lebih dari 2%.
Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 2% dan mengakhiri sesi di level US$87,07 per barel.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga tergerus lebih dari 2% menuju posisi US$81,25 per barel.
Pelemahan harga minyak terjadi saat para pelaku pasar mempertimbangkan melesunya permintaan minyak, di tengah konflik AS-Iran yang masih berjalan.
Inflasi AS terlihat lebih melandai.
Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk bulan Juli tidak mencatatkan perubahan alias 0% secara bulanan.
Capaian ini lebih rendah dibandingkan estimasi ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memproyeksikan PPI naik 0,2%.
Di luar harga pangan dan energi yang fluktuatif, core PPI naik 0,2%, sedikit di bawah estimasi para ekonom sebesar 0,3%.
Keluarnya data PPI yang lebih rendah dari perkiraan ini hadir sehari usai rilis Indeks Harga Konsumen (CPI).
CPI AS pada Juli naik 0,1% secara bulanan, selaras dengan perkiraan pasar.
Tingkat inflasi yang terbilang jinak ini turut mendorong penguatan S&P 500 setelah sebelumnya melemah selama dua sesi beruntun.
Informasi tersebut juga membuat para investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
"Gambaran inflasi saat ini belum cukup untuk menggagalkan pasar yang pada dasarnya masih didorong oleh kinerja laba perusahaan," kata Bill Merz, kepala riset pasar modal di U.S. Bank Asset Management, dikutip dari Sumbernya.
Menurut pandangannya, pasar masih menunggu perihal bagaimana The Fed di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh akan mengartikan data inflasi tersebut dan menetapkan langkah berikutnya.
Namun demikian, ia menilai bahwa peredaan bertahap pada angka CPI dan PPI saat ini merupakan iklim yang positif bagi pasar.
Saham Cisco mengalami tekanan.
Saham Cisco Systems menjadi salah satu pemberat utama pasar pada Kamis.
Saham perusahaan itu anjlok melebihi 8% usai rilis laporan keuangan kuartal terbarunya tidak mampu memenuhi ekspektasi para investor.
Saham Cerebras juga tergerus hampir 12%, sedangkan Coherent melemah sekitar 8% usai keduanya mengumumkan hasil kinerja terbaru.
Hari ini menjadi momentum krusial bagi pasar keuangan tanah air menyusul agenda penting yaitu Pidato Kenegaraan serta pemaparan Nota Keuangan dalam Sidang Tahunan MPR RI di Gedung DPR RI yang dijadwalkan mulai pukul 08.30 WIB.
Rapat Bersama DPR, MPR, dan DPD RI ini bermakna penting karena Presiden Prabowo Subianto akan membawakan Pidato Kenegaraan sekaligus menerangkan arah kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun anggaran 2027.
Tak seperti pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya yang diselenggarakan tanggal 16 Agustus, Rapat Bersama tahun ini dimajukan dua hari lantaran tanggal 16 Agustus 2026 bertepatan pada hari Minggu.
Prabowo dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan pada pagi hari.
Pada siang harinya, Presiden akan memaparkan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 serta Nota Keuangan.
Dua pidato itu akan menjadi petunjuk penting bagi pergerakan pasar.
Lewat Pidato Kenegaraan, Prabowo bakal memaparkan pencapaian 2026 beserta agenda prioritas pemerintah mendatang.
Masyarakat menantikan program unggulan apa saja yang bakal dijadikan pilar utama pada 2027.
Program prioritas semisal Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi salah satu hal yang dinantikan.
Pasalnya, agenda itu bukan cuma berkaitan dengan pembelanjaan negara, melainkan juga berhubungan erat dengan daya beli warga, penyerapan produk lokal, hingga aktivitas perekonomian daerah.
Kendati demikian, fokus utama para pelaku pasar bakal tertuju pada RAPBN 2027.
Melalui Nota Keuangan, pihak pemerintah bakal memperlihatkan seberapa besar anggaran yang akan dibelanjakan negara, dari mana pendapatan diperoleh, serta bagaimana cara membiayai bermacam program prioritasnya.
Sejumlah indikator makro juga akan menyita perhatian, mulai dari target pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, kurs rupiah, lifting minyak dan gas, hingga asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP).
Torehan angka tersebut bukan cuma sebatas angka di atas kertas.
Bagi kalangan pemodal, angka ini menjadi cerminan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah.
Bagi entitas bisnis, angka tersebut menjadi acuan terkait arah proyeksi permintaan, investasi, beban usaha, hingga peluang perdagangan pada 2027.
Sebelumnya pada Rapat Paripurna DPR RI ke-23 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, DPR menyampaikan bahwa dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, Badan Anggaran DPR (Banggar) dan pemerintah menyepakati RAPBN 2027, di mana pihaknya menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2027 mencapai sekitar 5,8% hingga 6,5%.
"Dengan sasaran dan indikator pembangunan tahun 2027, telah disepakati, sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 mencapai 5,8% sampai 6,5%," kata Wihadi dalam Rapat Paripurna, dikutip dari Sumbernya.
Pasca tercapainya kesepakatan ini, pemerintah nantinya akan menggunakan rentang ukuran rancangan awal RAPBN 2027 sebagai bahan untuk menetapkan angka usulan awal Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) beserta Nota Keuangannya pada 16 Agustus 2026.
RUU APBN 2027 itu bakal ditelaah lebih mendalam bersama Komisi XI DPR sebelum akhirnya disahkan menjadi UU pada penghujung Oktober 2026.
Dalam kesepakatan awal, pihak pemerintah bersama Banggar DPR menyetujui sejumlah panduan dasar dalam perancangan RAPBN 2027, mulai dari asumsi ekonomi makro, sasaran pembangunan, hingga postur makro fiskal.
Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan turut menjadi ujian signifikan bagi pasar saham tanah air.
Para investor ingin membuktikan apakah kebijakan fiskal pemerintah sanggup memulihkan kepercayaan serta menarik kembali modal asing setelah aksi jual bersih yang masif sepanjang 2026.
Kemarin, MSCI telah menerbitkan August 2026 Index Review.
Namun, reviu tersebut bukanlah penetapan ulang sikap terhadap Indonesia karena keputusannya sudah disahkan sejak 6 Juli.
Penilaian yang lebih menentukan baru tertuju pada November 2026.
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 1,13% ke posisi 6.301,77 usai sempat menyentuh level 6.390,33.
Seirama dengan pelemahan indeks, investor asing mencatatkan net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar dan Rp1,39 triliun di pasar reguler, setelah sebelumnya mencetak net buy Rp725,4 miliar pada hari Rabu.
Dalam tiga hari transaksi setelah 10 Agustus, aliran modal asing yang keluar (foreign outflow) menyentuh kisaran Rp1,37 triliun.
Pembalikan arah ini menghapus sinyal awal dari aksi beli bersih dua hari sebelumnya, sementara net sell asing sepanjang tahun 2026 sudah menembus Rp71,84 triliun di seluruh pasar.
Arus Keluar Modal Asing Masih Menjadi Beban.
Dari total 144 hari perdagangan hingga 13 Agustus, investor asing cuma membukukan net buy pada 50 hari dan mencatatkan net sell selama 94 hari.
Ini menandakan bahwa hampir dua dari setiap tiga hari transaksi tahun ini diwarnai aksi jual bersih oleh investor asing.
Bulan Juli membuktikan bahwa IHSG mampu naik tanpa sokongan pembelian asing yang merata.
Indeks melesat 10,51%, biarpun pihak asing mencatatkan net sell dalam 16 dari 23 hari transaksi.
Namun, surplus modal asing pada Juli sangat bergantung pada aksi net buy Rp8,97 triliun di tanggal 29 Juli.
Tanpa adanya transaksi jumbo tersebut, bulan Juli sebenarnya masih mencatatkan net sell berkisar Rp7,35 triliun.
Artinya, likuiditas dalam negeri sanggup memicu kenaikan jangka pendek.
Namun untuk menciptakan tren yang lebih berkesinambungan dan merata, IHSG tetap memerlukan foreign inflow yang stabil.
Hasil MSCI Agustus Sudah Final, Evaluasi November Jadi Ujian Besar.
MSCI secara resmi mempublikasikan August 2026 Index Review pada 12 Agustus waktu setempat atau 13 Agustus dini hari waktu Indonesia yang akan diberlakukan mulai 1 September.
Hasilnya, tak ada saham asal Indonesia yang dimasukkan ke dalam MSCI Global Standard Indexes.
Pihak MSCI menetapkan bahwa penyesuaian Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares bagi saham Indonesia tetap dibekukan.
Tidak ada penambahan emiten Indonesia ke Investable Market Indexes maupun kenaikan tingkat dari Small Cap menuju Standard Index.
Dampak risiko Agustus sudah tampak secara teknis, yaitu GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, CPIN turun kelas dari Global Standard menjadi Global Small Cap, serta sembilan emiten dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes.
Perubahan ini berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus atau efektif mulai 1 September.
Ujian yang lebih krusial terdapat pada bulan November.
MSCI bakal menilai apakah langkah reformasi transparansi kepemilikan, pengawasan konsentrasi pemegang saham, serta pembenahan free float sudah dijalankan secara konsisten.
Bila progress Indonesia dinilai belum memadai, MSCI bisa saja mempertimbangkan opsi lanjutan, termasuk membuka dialog soal peluang perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Kendati begitu, Indonesia tidak serta-merta turun kelas pada November.
Dengan demikian, Nota Keuangan menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengukuhkan kepercayaan investor selama tiga bulan menjelang evaluasi tersebut.
Sentimen Domestik Menopang Pasar, Arus Asing Tetap Dibutuhkan demi Rally.
Pasar saham Indonesia tidak seluruhnya disokong investor ritel semata.
Data transaksi dan kepemilikan memperlihatkan peran dominan dari lembaga domestik.
Investor dalam negeri sanggup menahan kejatuhan dan memicu pemulihan.
Meski demikian, foreign inflow tetap diperlukan sebab kepemilikan asing pada saham-saham berkapitalisasi jumbo masih sangat besar dan menentukan arah IHSG.
Secara fundamental, kinerja emiten sejatinya tergolong mendukung.
Dari 763 perusahaan dalam data semester I, sekitar 65,4% membukukan pertumbuhan pendapatan dan 60% mencetak perbaikan laba atau sukses berbalik untung.
Ganjalan utama pasar bukan sekadar performa perusahaan, melainkan belum tersedianya suntikan dana yang cukup besar untuk memicu penyesuaian harga.
IHSG Pernah Melesat ke 8.000 Saat Pidato Kenegaraan 2025, Bagaimana Potensinya Tahun Ini?
Pengalaman 2025 memperlihatkan bahwa pidato Nota Keuangan mampu membangkitkan optimisme, namun tidak menjamin penguatan yang bertahan lama.
Pada 15 Agustus 2025 persis ketika Prabowo hendak menyampaikan Pidato Kenegaraan, IHSG sempat menyentuh level 8.017 secara intraday, tetapi pada akhirnya ditutup merosot 0,41% ke posisi 7.898,38.
Dari titik 6.301,77, IHSG memerlukan kenaikan sekitar 2,4% demi menggapai level 6.450 hari ini.
Tingkat tersebut paling memungkinkan dicapai bila tekanan teknis usai reviu MSCI mulai menyurut, nilai rupiah terjaga stabil, serta Nota Keuangan menyajikan program yang kredibel, defisit yang terjaga, dan pembiayaan utang yang terencana.
Walau demikian, kunci utamanya tetap berada pada foreign inflow.
Capaian net buy Rp1,56 triliun sepanjang 1-12 Agustus merupakan pijakan awal yang kokoh, namun net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar pada 13 Agustus mengindikasikan arus tersebut belum konsisten.
IHSG memerlukan foreign inflow bernilai jumbo dan tangguh pada hari ini agar sanggup finis di atas level 6.450 sekaligus membentuk pola candle mingguan yang positif.
Penutupan mingguan di atas batas tersebut sangat krusial guna memperkuat dorongan kenaikan dan membuka peluang reli berlanjut pada IHSG, mengingat memori manis di masa yang sama tahun lalu sewaktu IHSG sempat menyentuh angka 8.000 untuk kali pertama dalam sejarah.
Pasar keuangan Indonesia pada Jumat (14/8/2026) akan merespons penurunan inflasi produsen Amerika Serikat (AS), lonjakan klaim pengangguran, serta hasil evaluasi indeks MSCI bagi emiten Indonesia.
Fokus selanjutnya bakal tertuju pada angka penjualan ritel AS dan rilis data PDB Kawasan Eropa.
Laju Inflasi Produsen Jepang Melambat.
Tingkat inflasi produsen Jepang periode Juli yang dirilis Kamis kemarin tumbuh 7,2% secara tahunan, melandai dari posisi 7,3% pada Juni dan lebih rendah dibanding konsensus 7,4%.
Secara bulanan, Producer Price Index (PPI) cuma terangkat 0,1%, jauh di bawah proyeksi 0,6% serta melambat dari lonjakan 0,5% pada bulan sebelumnya.
Angka tersebut menandakan bahwa tekanan biaya yang ditanggung manufaktur Jepang mulai berkurang.
Kondisi ini dapat menekan risiko kenaikan harga yang lebih agresif ke tingkat konsumen sekaligus mengurangi desakan terhadap Bank of Japan untuk segera memperketat arah kebijakan moneter.
Walau begitu, pertumbuhan tahunan sebesar 7,2% terhitung masih tinggi.
Ini artinya, korporasi masih menghadapi kendala beban bahan baku dan impor, khususnya jika mata uang yen kembali tertekan.
Bagi pasar, torehan yang lebih rendah dari perkiraan cenderung menahan penguatan yield obligasi Jepang dan membatasi apresiasi yen.
Inflasi Produsen AS Lebih Rendah Dibanding Proyeksi.
PPI AS periode Juli yang diumumkan kemarin tidak mencatatkan kenaikan secara bulanan atau 0%, lebih rendah dibanding estimasi lonjakan 0,2%.
Data bulan Juni direvisi menjadi minus 0,1%.
Secara tahunan, inflasi produsen melandai tajam menjadi 4,7% dari 5,5% dan berada di bawah perkiraan 4,9%.
PPI inti turut merosot menjadi 4,2% secara tahunan dibanding 4,7%, sesuai ekspektasi pelaku pasar.
Secara bulanan, PPI inti naik 0,2%, sedikit di bawah proyeksi 0,3%.
Harga barang produsen terkoreksi 0,7%, termasuk penurunan harga energi sebesar 3,1%.
Sedangkan harga di sektor jasa tetap naik 0,2%.
Rincian data ini mengindikasikan beban harga di tingkat produsen mulai mereda, biarpun inflasi inti masih menetap di level yang tinggi.
Capaian tersebut cenderung direspons positif bagi instrumen berisiko sebab dapat meredam kekhawatiran bahwa tekanan biaya akan kembali dibebankan kepada konsumen.
Klaim Pengangguran AS Alami Kenaikan.
Pada momen bersamaan, klaim awal tunjangan pengangguran AS merangkak naik menjadi 209.000 pada pekan yang berakhir 8 Agustus.
Capaian tersebut lebih tinggi dibanding perkiraan 202.000 dan angka pekan sebelumnya yang disesuaikan menjadi 200.000.
Kenaikan klaim awal mengindikasikan lonjakan pekerja yang kehilangan mata pencaharian.
Namun demikian, klaim lanjutan justru menyusut menjadi 1,777 juta dari 1,799 juta dan berada di bawah estimasi 1,8 juta.
Paduan dari kedua rilis data tersebut menghadirkan estimasi yang seimbang.
Gelombang PHK mulai merangkak naik, tetapi angka penerima tunjangan lanjutan menurun sehingga belum memperlihatkan kerentanan berat di pasar tenaga kerja.
Bagi pergerakan pasar, kenaikan klaim awal yang berjalan searah dengan melandainya PPI mampu mempertegas harapan bahwa The Federal Reserve tidak perlu menetapkan kebijakan yang terlampau ketat.
Situasi ini berpeluang menekan kurs dolar serta yield obligasi AS sekaligus memberi celah penguatan buat rupiah maupun aset negara berkembang.
Penjualan Ritel AS Menjadi Penentu Berikutnya.
Agenda paling krusial pada Jumat yakni rilis penjualan ritel AS periode Juli yang diumumkan pukul 19.30 WIB.
Pertumbuhan penjualan diprediksi melambat menjadi 0,1% secara bulanan dari 0,2% pada Juni.
Namun demikian, penjualan di luar moda transportasi diproyeksikan berbalik tumbuh 0,2% usai sempat melorot 0,2%.
Sementara kelompok kontrol penjualan ritel, yang merupakan salah satu variabel dalam perhitungan konsumsi terhadap produk domestik bruto, diperkirakan terangkat 0,3% usai tumbuh 0,5%.
Data yang terlampau kuat sanggup kembali memicu kenaikan yield obligasi dan mata uang dolar AS sebab mengindikasikan tingkat konsumsi masih berdaya tahan menghadapi suku bunga tinggi.
Sebaliknya, realisasi yang moderat dapat menjadi skenario yang lebih baik bagi IHSG: inflasi produsen mereda tanpa diiringi pelemahan konsumsi yang kelewat dalam.
Secara umum, iklim global untuk Jumat cenderung lebih kondusif usai PPI AS melandai.
Akan tetapi, pergerakan ekuitas Indonesia berpotensi lebih selektif mengingat pasar mulai mengantisipasi pergeseran arus modal akibat perubahan indeks MSCI.
PDB Kawasan Euro Kembali Mengalami Pertumbuhan.
Dari benua Eropa, taksiran kedua pertumbuhan ekonomi Kawasan Euro kuartal II diumumkan pada Jumat pukul 16.00 WIB.
Pasar mengestimasi pertumbuhan terkonfirmasi sebesar 0,4% secara kuartalan, setelah ekonomi stagnan atau 0% pada kuartal I.
Secara tahunan, produk domestik bruto diproyeksikan tumbuh 1%, terangkat dari 0,5% pada kuartal sebelumnya.
Proyeksi awal memperlihatkan pemulihan disokong oleh beberapa negara, termasuk Spanyol yang tumbuh 0,7%, Jerman 0,2%, Prancis 0,2%, serta Italia 0,2%.
Irlandia membukukan pertumbuhan 3,9%, namun perekonomiannya cenderung fluktuatif sehingga mampu memengaruhi angka agregat kawasan.
Seandainya pertumbuhan terkonfirmasi atau direvisi naik, pasar dapat menilai perekonomian Eropa mulai pulih usai stagnasi di awal tahun.
Keadaan tersebut berpotensi memperkuat mata uang euro sekaligus memangkas keperluan Bank Sentral Eropa untuk bergegas melonggarkan kebijakan.
Sebaliknya, koreksi ke bawah bakal mengindikasikan pemulihan yang masih rapuh.
Pelemahan euro sanggup menguatkan indeks dolar AS dan secara tidak langsung menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Oleh sebab itu, rilis data ini bakal menjadi perhatian sebelum pelaku pasar beralih pada data penjualan ritel AS nanti malam.
Di bawah ini adalah deretan agenda beserta rilis data yang dijadwalkan pada hari ini:
Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD dalam Rangka HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.
Rapat Paripurna DPR dalam Rangka Pembacaan RUU APBN TA 2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.
Konferensi Pers terkait Nota Keuangan RUU APBN TA 2027 di Aula Cakti Buddhi Bakti, kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan.
Penjualan Ritel AS Juli 2026.
Pertumbuhan PDB Kawasan Eropa Q2 2026.
Neraca Perdagangan Kawasan Eropa Juni 2026.
Inflasi Prancis Juli 2026.
Inflasi Argentina Juli 2026.
Berikut daftar agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX).
Pemberitahuan RUPS Rencana Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI).
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK).