Rupiah Terangkat Naik Akibat Data PPI Amerika Serikat Lebih Rendah Ini
JAKARTA - Kurs mata uang rupiah atas dolar AS saat awal sesi perdagangan Jumat, mengalami penguatan 4 poin atau 0,02 persen menuju Rp17.873 tiap dolar AS jika dibandingkan posisi penutupan lalu di angka Rp17.877 tiap dolar AS.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menganggap pergerakan rupiah terdorong oleh publikasi Producer Price Index (PPI) AS yang tercatat di bawah proyeksi.
"Secara bulanan, PPI meningkat menjadi 0,0 persen MoM (month on month) dari -0,1 persen MoM, namun berada di bawah konsensus sebesar 0,2 persen MoM," ujarnya dari Sumbernya di Jakarta, Jumat.
Dalam hitungan tahunan, PPI menurun ke 4,7 persen year on year (yoy) dari 5,5 persen yoy, juga di bawah estimasi yakni 4,9 persen yoy.
Laporan PPI yang berada di bawah prediksi menunjukkan bahwasanya tekanan laju inflasi dari sektor energi kian menyusut, sehingga meredam ekspektasi penyesuaian suku bunga dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mendatang.
"Berdasarkan FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada September 2026 turun menjadi 34,8 persen," ungkap Josua.
Menilik sentimen dari dalam negeri, para pelaku pasar sedang memusatkan perhatian pada penyampaian pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto serta pembacaan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Mempertimbangkan kondisi-kondisi itu, nilai rupiah diprediksi bakal bergerak pada rentang Rp17.825-Rp17.950 tiap dolar AS.