Dampak Evaluasi MSCI serta Inflasi AS Bagi IHSG Maupun Pergerakan Rupiah

Dampak Evaluasi MSCI serta Inflasi AS Bagi IHSG (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:49:21 WIB

JAKARTA - Perdagangan pasar keuangan finansial domestik ditutup secara bervariasi. Pasar modal mengalami kenaikan, instrumen surat berharga negara (SBN) cenderung tidak berubah, sedangkan nilai mata uang rupiah melemah akibat bayang-bayang rebalancing MSCI serta dinamika geopolitik global yang membayangi pasar keuangan nasional.

Pergerakan pasar finansial Indonesia diprediksi masih menjumpai tantangan pada hari ini terutama terdorong oleh rebalancing MSCI dan sentimen agenda nota keuangan di akhir pekan nanti.

Informasi lengkap mengenai ramalan pasar hari ini dapat disimak pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan pada sesi perdagangan Rabu (12/8/2026), usai mengalami penurunan drastis pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), penutupan sesi transaksi pukul 16.00 WIB menampilkan IHSG di tingkat 6.373,85 atau melompat 1,69% dari posisi penutupan terdahulu.

Nilai transaksi tercatat Rp 17,36 triliun bersama kuantitas perdagangan 32,68 miliar lembar saham lewat 2,07 juta kali transaksi.

Sebanyak 474 saham tercatat naik, 185 saham merosot, serta 304 saham stagnan.

Pada transaksi kemarin, investor asing mencatatkan net foreign inflow sebesar Rp 725,21 miliar pada seluruh pasar dan membukukan net foreign sell pada transaksi reguler berjumlah Rp 482,79 miliar.

Sehingga jika ditinjau secara year-to-date pasar saham mencatat net foreign outflow sejumlah Rp 70,43 triliun pada seluruh pasar dan Rp 95,17 triliun pada transaksi reguler.

Dalam rentang perdagangan kemarin, pergerakan IHSG berada pada kisaran 6.272 (+0,08%) sampai level tertinggi di posisi 6.373 (+1,69%).

Sebagian besar sektor saham mengalami kenaikan, dengan pertumbuhan paling tinggi dicetak oleh sektor utilitas, teknologi serta barang baku.

Sementara sektor properti menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan kemarin.

Apabila dirinci, saham-saham emiten grup konglomerasi terlihat serentak menguat mendekati pengumuman MSCI, terutama jajaran emiten yang terhimpun pada Grup Barito kepunyaan konglomerat Prajogo Pangestu.

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tampil sebagai tiga emiten utama yang mendongkrak laju indeks.

Di sisi lain, emiten lain yang turut menyumbang pergerakan positif meliputi PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Menilik pasar valuta asing, kurs rupiah kembali menutup sesi di zona merah sewaktu berhadapan dengan dolar Serikat Amerika (AS).

Kelemahan ini memperpanjang periode tekanan pada mata uang Garuda selama dua hari berturut-turut.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terkoreksi 0,20% menempati angka Rp17.865/US$ pada penutupan Rabu (12/8/2026).

Padahal pada sesi sebelumnya, nilai rupiah sudah terdepresiasi sebesar 0,45% ke posisi Rp17.830/US$.

Tekanan bagi rupiah kian meluas jika dibandingkan titik pembukaan.

Rupiah mengawali sesi lewat pelemahan tipis 0,06% pada posisi Rp17.840/US$, lalu merosot 25 poin hingga sesi berakhir.

Di lain pihak, indeks dolar AS (DXY) yang memantau kekuatan mata uang greenback menghadapi enam mata uang utama dunia, hingga pukul 15.00 WIB terpantau merangkak naik tipis 0,03% menuju 99,856.

Arah rupiah masih terpengaruh kecenderungan waspada dari para pelaku pasar menyongsong pengumuman angka inflasi konsumen AS periode Juli pada Rabu waktu setempat.

Rilisan ini bakal menjadi indikator baru untuk menerka arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Kondisi data tenaga kerja AS yang tampil lebih lemah dibanding proyeksi awal memberikan kelonggaran bagi The Fed guna mempertahankan tingkat suku bunga.

Kendati begitu, bahaya inflasi yang bertahan tinggi menjadikan pelaku pasar belum sepenuhnya mengesampingkan peluang peningkatan suku bunga.

Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyampaikan otoritas moneter saat ini lebih mengkhawatirkan laju inflasi yang terlalu tinggi ketimbang kelesuan pasar tenaga kerja.

Pasar kini menaksir peluang mencapai 62% bahwasanya The Fed bakal menahan tingkat suku bunga pada September, sementara proyeksi kenaikan sebesar 25 basis poin berada di kisaran 38%.

Di sisi instrumen Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia tidak bergerak.

Perkembangan tersebut menandakan investor tidak menunjukkan minat khusus untuk mentransaksikan obligasi pada pasar tersebut.

Yield SBN bertengger di posisi 7.226% pada sesi kemarin, yang mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN durasi 10 tahun juga tercatat berakhir pada angka 7.226%

Beralih ke bursa saham Amerika Serikat, lantai perdagangan Wall Street ditutup bervariasi pada transaksi Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Mayoritas indeks utama terangkat usai laporan inflasi AS memperlihatkan tekanan harga relatif terkontrol.

Aksi beli turut ditopang saham-saham sektor teknologi, khususnya emiten yang berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti CoreWeave serta Super Micro Computer.

Indeks S&P terangkat 0,26% dan mendarat di posisi 7.748,50.

Sementara indeks Nasdaq Composite melonjak 0,54% menempati level 26.588,49.

Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average meluncur tipis 0,04% atau 21,58 poin menuju 53.770,27.

Indeks harga konsumen (CPI) AS pada bulan Juli tampil selaras ekspektasi.

Laju inflasi umum merangkak 0,1% secara bulanan, sedangkan tingkat inflasi secara tahunan menyentuh 3,4%.

CPI inti, yang tidak menghitung komoditas pangan dan energi, naik 0,2% pada Juli dan 2,5% secara tahunan.

Tingkat inflasi tahunan bagi CPI umum maupun inti menunjukkan sedikit penurunan dari periode Juni.

Informasi tersebut mengemuka ketika Federal Reserve (The Fed) sedang menaruh perhatian besar pada imbas kenaikan harga terhadap masyarakat AS.

Dalam pertemuan terakhir, tiga pejabat The Fed berbeda pandangan dan memilih menaikkan tingkat suku bunga.

Kekhawatiran itu belum mereda sepenuhnya.

Harga minyak mentah AS menembus US$83 per barel pada Rabu, seiring makin redupnya prospek pembukaan jalur Selat Hormuz.

Namun, pasca rilis data inflasi, kans The Fed menahan suku bunga bulan depan mengalami peningkatan.

Kontrak berjangka suku bunga The Fed saat ini memperlihatkan peluang berkisar 60% untuk bank sentral menahan suku bunga acuannya pada rentang 3,50%-3,75%, mengutip perkiraan CME FedWatch.

Prosentase ini melompat dari kisaran 45% pada sepekan sebelumnya.

"Inflasi yang sesuai ekspektasi akan mempertahankan narasi bahwa tidak ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga, yang muncul setelah laporan tenaga kerja pekan lalu," kata Ellen Zentner, Chief Economic Strategist Morgan Stanley Wealth Management, dikutip dari Sumbernya.

"Masih akan ada satu putaran data inflasi sebelum rapat FOMC September, sehingga situasinya masih bisa berubah. Namun, kecuali data tersebut menunjukkan kondisi yang jauh berbeda, The Fed kemungkinan masih berada dalam posisi untuk mempertahankan suku bunga bulan depan," ujarnya.

Pada saat yang sama, rilis laporan keuangan triwulanan serta panduan terbaru dari CoreWeave dan Super Micro Computer meyakinkan para investor bahwa kebutuhan terhadap pembangunan sarana AI masih stabil.

Nilai saham CoreWeave melesat 19% setelah margin laba operasional yang disesuaikan pada triwulan II sebesar 5% melampaui perkiraan.

Perolehan pendapatan perusahaan juga berlipat ganda dibanding periode yang sama tahun lalu.

Saham Super Micro Computer ikut melonjak 19% setelah entitas tersebut membagikan estimasi laba serta pendapatan triwulan I yang solid.

Saham korporasi lain yang bergerak di ranah AI turut menguat.

Dell Technologies terangkat hampir 10%, sementara Micron Technology menanjak mendekati 5%.

Cisco Systems menguat hampir 3%.

Di samping itu, saham penyedia jasa neocloud asal Belanda yang melantai di AS, Nebius, meroket hingga 34%.

Pasar keuangan Indonesia pada Kamis (13/8/2026) bakal mencerna rilis inflasi Amerika Serikat (AS) yang melandai sesuai perkiraan.

Atensi berikutnya tertuju pada indikator inflasi produsen serta klaim pengangguran AS yang dirilis pada Kamis malam.

Ketiga laporan data tersebut akan menjadi rangkaian penting guna membaca arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Inflasi tingkat konsumen mengindikasikan tekanan harga mulai menyusut, namun pelaku pasar tetap memerlukan kepastian bahwa biaya tingkat produsen dan kondisi pasar kerja turut mendukung pelonggaran kebijakan.

Di samping data AS, terdapat PPI Jepang yang menjadi perhatian utama pemerintah setempat.

Sementara dari lingkup domestik, pasar akan berhadapan dengan hasil evaluasi MSCI yang dipublikasikan dini hari tadi.

Berikut perincian lengkap serta hasil keputusan kemarin maupun agenda pengumuman hari ini:

Perkembangan Perang: AS-Iran Masih Buntu, Selat Hormuz Tetap Tertutup

Iran bersama Amerika Serikat (AS) belum menemukan titik temu untuk mengakhiri perselisihan di kawasan Teluk.

Narasumber senior Iran menyatakan belum ada progres berarti dalam upaya menghidupkan kembali pemufakatan sementara yang pernah diraih pada Juni.

Kesepakatan tersebut mulanya mencakup penghentian aksi militer serta pembukaan kembali jalur Selat Hormuz.

Namun, pihak AS mengklaim Iran tidak memenuhi janji, sementara Teheran menganggap Washington melanggar kesepakatan lantaran tetap memblokade pelabuhan dan membekukan dana aset Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan AS memegang kendali penuh atas kawasan Selat Hormuz.

Namun, otoritas Iran menegaskan jalur perairan tersebut tetap diblokade dan tidak bakal dibuka sebelum tuntutan Teheran dipenuhi.

Kondisi konflik kembali bergejolak menyusul serangkaian insiden serangan terhadap kapal di perairan Teluk.

Situasi ini menjadikan pergerakan harga minyak tetap volatil.

Minyak jenis Brent berada pada kisaran US$88 per barel, sedangkan tipe WTI menduduki kisaran US$83 per barel.

Sebelum pecah konflik, jalur Selat Hormuz mengalirkan sekitar seperlima volume perdagangan minyak dan LNG dunia.

Hasil Rebalancing MSCI

Pengumuman rebalancing MSCI dirilis pada Kamis dini hari.

Para pelaku pasar pada hari ini diprediksi mencermati hasil rekapitulasi indeks MSCI yang diumumkan dini hari tadi.

Dalam rilis tersebut, tidak ada saham Indonesia yang melenggang masuk ke MSCI Global Standard Index, sementara dua saham dikeluarkan, yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Meski begitu, nasib keduanya tidak sama.

CPIN dipindahkan langsung ke MSCI Indonesia Small Cap sehingga penyesuaian ini lebih pas dikategorikan sebagai penurunan tingkatan dari Standard menjadi Small Cap.

Sementara untuk GOTO, pengeluarannya tidak cuma berlaku dari MSCI Indonesia Standard.

Pihak MSCI memastikan emiten tersebut turut dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index memakai kalkulasi harga sistem terendah, yaitu 0,00001 dari denominasi mata uang saham.

Langkah khusus ini diambil mengingat timbulnya kendala replikasi indeks akibat tingkat likuiditas GOTO yang amat rendah usai harga sahamnya mengendap di batas minimum Rp50 sejak penutupan transaksi 13 Mei 2026.

MSCI turut mengeliminasi sembilan saham dari kategori Indonesia Small Cap.

Dikarenakan saat ini Indonesia sedang mengalami kebijakan pembekuan, maka tidak ada penambahan untuk emiten Indonesia sampai pengumuman lanjutan sebelum tanggal efektif rebalancing MSCI November 2026 mendatang.

Gelar penyesuaian ini berlaku penuh pasca penutupan sesi perdagangan 31 Agustus 2026.

Penataan ulang portofolio oleh passive fund umumnya mengalami perubahan mendekati penutupan pada tanggal efektif sejak perdagangan hari ini sampai penutupan 31 Agustus mendatang.

Sebab itu, emiten yang terdepak berpotensi berjumpa tekanan jual dan lonjakan volume dalam beberapa hari mendatang hingga sebelum tanggal efektif rebalancing berlaku.

MSCI tidak mengeluarkan pernyataan tambahan mengenai Indonesia pada laman resmi Index Announcement MSCI, sehingga para investor masih wajib menanti hasil pertimbangan MSCI terkait status pembekuan dan hal lainnya hingga rilis lanjutan sebelum rebalancing MSCI November 2026 mendatang.

Prabowo Serahkan Daftar Nama 4 Calon Dewan Gubernur Bank Indonesia

Presiden Prabowo Subianto mengajukan empat nama untuk mengampu posisi Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).

Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan Surat Presiden seputar calon Dewan Gubernur BI telah diserahkan kepada pimpinan DPR oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Empat nama yang direkomendasikan mencakup Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI, Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI, Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI, dan Anwar Bashori sebagau calon Deputi Gubernur BI..

Saat ini, Destry mengemban amanat Deputi Gubernur Senior BI, Aida menjabat Deputi Gubernur BI, Solikin bertugas selaku Asisten Gubernur BI, serta Anwar memimpin Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI.

Puan mengemukakan proses penetapan bakal diselenggarakan lewat mekanisme DPR sesudah masa persidangan dimulai pada 14 Agustus 2026.

Inflasi AS Melandai Sesuai Ekspektasi

Statistik inflasi AS yang dipublikasikan pada Rabu menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa mulai berkurang, sehingga berpotensi menekan dorongan bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Berdasarkan laporan Bureau of Labor Statistics (BLS), indeks harga konsumen (CPI) menanjak 0,1% secara bulanan pada Juli.

Sementara itu, CPI inti di luar komponen pangan dan energi terangkat 0,2%.

Secara tahunan, inflasi masing-masing berdiri di level 3,4% dan 2,5%, melandai 0,1 poin persentase dibandingkan Juni.

Seluruh pencapaian angka ini sejalan dengan perkiraan konsensus Dow Jones.

Walaupun tetap berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, kenaikan harga yang moderat pada dua bulan belakangan mengindikasikan tekanan akibat lonjakan harga energi mulai mereda.

Akan tetapi, harga barang masih rawan bergejolak mengingat dinamika di wilayah Timur Tengah terus bergerak.

Tren penurunan inflasi tahunan menandakan tekanan harga secara perlahan mulai berkurang.

Namun demikian, inflasi masih melampaui batas sasaran The Fed yakni 2%, sedangkan Kenaikan bulanan memperlihatkan harga kembali meningkat setelah sempat turun pada Juni.

Pencapaian ini dapat mengurangi kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga lanjutan, tetapi belum cukup untuk mendorong pemangkasan bunga secara agresif.

Untuk pasar modal Indonesia, inflasi yang sesuai perkiraan cenderung memberikan sentimen positif terbatas.

Laju tekanan pada dolar AS dan yield obligasi berpotensi mereda sehingga menopang pergerakan rupiah serta IHSG.

Inflasi Produsen Jepang

Hari ini, para pelaku pasar akan mengamati indeks harga barang perusahaan (PPI) Jepang periode Juli yang dijadwalkan rilis pagi ini.

Metrik ini merefleksikan perubahan harga barang yang ditransaksikan antar entitas bisnis dan menjadi tolok ukur tekanan biaya di tingkat produsen.

Secara tahunan, inflasi produsen Jepang diproyeksikan merangkak naik menjadi 7,4% dari 7,1% pada Juni.

Secara bulanan, harga tingkat produsen diperkirakan terangkat 0,6%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada periode sebelumnya.

Kenaikan tersebut mengindikasikan perusahaan-perusahaan di Jepang masih menanggung beban biaya bahan baku, energi, dan barang impor.

Depresiasi mata uang yen juga berpotensi menaikkan beban impor yang berlanjut pada penyesuaian harga jual ke tingkat konsumen.

Angka realisasi yang lebih tinggi dari estimasi dapat memperkuat argumen Bank of Japan guna melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.

Langkah ini berpotensi mengangkat kurs yen, namun dapat memicu tekanan bagi saham-saham eksportir Jepang serta menambah volatilitas pasar Asia.

Sebaliknya, angka PPI yang lebih rendah mengindikasikan beban biaya mulai melandai.

Kondisi demikian dapat meredakan ekspektasi lonjakan suku bunga Jepang sekaligus memberi sentimen positif bagi pasar saham regional, walau pelemahan yen berpotensi kembali terjadi.

Inflasi Produsen AS

Menyusul rilis inflasi konsumen kemarin, perhatian pasar bergeser pada indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS periode Juli yang diumumkan malam ini.

Rilisan data ini krusial lantaran menggambarkan perubahan beban biaya produsen sebelum dibebankan kepada konsumen.

PPI secara tahunan diproyeksikan melambat menuju 4,9% dari posisi 5,5% pada Juni.

Secara bulanan, harga tingkat produsen diperkirakan naik 0,2% setelah pada periode sebelumnya terkoreksi 0,3%.

Inflasi produsen inti diprediksi melandai ke tingkat 4,2% secara tahunan dari 4,7%.

Meski begitu, secara bulanan PPI inti diproyeksikan naik 0,3%, sedikit lebih tinggi jika dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juni.

Bila hasilnya lebih rendah dari proyeksi, pelaku pasar dapat menilai tekanan beban perusahaan ikut melandai mengikuti penurunan inflasi konsumen.

Skenario ini berpotensi menekan dolar dan yield obligasi AS sekaligus memberi keleluasaan bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan.

Sebaliknya, angka PPI yang melambung akan memperlihatkan tekanan biaya produksi masih kuat serta berisiko berlanjut pada kenaikan harga konsumen.

Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar, menaikkan yield obligasi, serta memberi tekanan pada rupiah maupun IHSG.

Klaim Pengangguran AS

Pada saat yang bersamaan, pasar menantikan klaim awal tunjangan pengangguran AS untuk pekan yang berakhir 8 Agustus.

Klaim diperkirakan merangkak naik menjadi 202.000 dari 199.000 pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, klaim lanjutan diproyeksikan berada pada angka 1,8 juta, relatif stabil dibandingkan 1,801 juta sebelumnya.

Klaim lanjutan memperlihatkan jumlah warga yang tetap menerima tunjangan usai mengajukan klaim pertama.

Pertambahan klaim awal secara terukur dapat memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai mengendur tanpa memicu pelemahan tajam.

Situasi tersebut tergolong positif bagi pasar karena mampu menekan beban upah dan inflasi sekaligus memberi ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga.

Namun, klaim yang melonjak jauh melampaui estimasi bisa memicu kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi dan bertambahnya pemutusan hubungan kerja.

Sebaliknya, klaim yang kembali menyusut bakal menandakan kondisi pasar tenaga kerja tetap ketat.

Kondisi itu berpotensi membuat The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama karena tekanan inflasi dari upah masih berisiko bertahan.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

Digital Banking Forum 2026 dengan tema "Membangun Ekosistem Perbankan Digital Masa Depan", pada Kamis, 13 Agustus, pukul 12.00 WIB

Presiden menghadiri peresmian motor listrik nasional di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat

BPS aka merilis Publikasi Statistik Perumahan Tahun 2026 oleh Badan Pusat Statistik dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukinan di Ruang Rapat Gedung 1 Lantai 1, kantor pusat BPS, Jakarta Pusat

Impact Investment Festival 2026 di Main Hall BEI, Jakarta Selatan

Menteri Keuangan menghadiri penggalan penyelundupan emas secara ilegal di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten

Press Briefing Kementerian Luar Negeri mengenai Perkembangan Isu Terkini Polugri di Ruang Palapa, kantor Kemlu RI, Jakarta Pusat

Peluncuran Program Akselerasi Produk Lokal di Caping Gunung, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Turut hadir antara lain Menteri Perdagangan dan manajemen Shopee Indonesia.

PPI Jepang Juli 2026

Inflasi Saudi Arabia Juli 2026

Pertumbuhan PDB Inggris Q2 2026

Inflasi Spanyol Juli 2026

PPI AS Juli 2026

Jobless Claims Minggu Pertama Agustus 2026

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

Pemberitahuan RUPS Rencana Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC)

Pemberitahuan RUPS Rencana PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO)

Pemberitahuan RUPS Rencana PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk (KMDS)

Pemberitahuan RUPS Rencana PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN)

Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)

Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR)

Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK)

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan Sumbernya Research.

Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait.

Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Reporter: Moch Febrianto