Nilai Tukar Rupiah Tergerus ke Rp17.869 Dampak Ketegangan Timur Tengah
JAKARTA - Nilai tukar uang rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) melemah saat pembukaan transaksi Rabu, (12/8/2026). Pengamat memperkirakan rupiah pada hari ini berada di fase konsolidasi seiring dinamika politik kawasan Timur Tengah sementara dari dalam negeri, investor menantikan rilis MSCI.
Melansir dari Sumbernya, rupiah atas dolar AS tergelincir 8 poin atau 0,04% menuju level 17.869 per dolar AS jika dibandingkan posisi penutupan kemarin pada Rp17.861 per dolar AS.
“Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam,” tutur Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong dikutip dari Sumbernya.
Menitip dari Sumbernya, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut Iran bersama Amerika Serikat kian mendekati titik temu walaupun dua pihak masih berpendirian keras terkait konflik di Selat Hormuz.
Pihak Pemerintah Pakistan memberitahukan ke dari Sumbernya bahwa Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bakal menyerahkan beberapa rekomendasi baru untuk jajaran pemimpin Iran guna memecah kebuntuan tersebut yang terus memberi efek negatif pada perekonomian dan lalu lintas perdagangan dunia.
“Laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif, sementara Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak meyakinkan sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi,” kata Lukman.
Di lain pihak, para penanam modal dilaporkan cenderung mengambil posisi bersiap sebelum keluarnya data inflasi AS malam nanti.
“Keduanya baik inflasi utama dan inti diperkirakan akan turun, inflasi YoY (year on year) diperkirakan turun dari 2,6% ke 2,5%, sedangkan inti YoY turun dari 3,5% ke 3,4%,” kata dia.
Menyimak sentimen lokal, para investor disebut sedang menanti pengumuman resmi Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Pengumuman MSCI tentunya masih tanda tanya, namun salah satunya adalah tidak akan ada saham baru yang dimasukkan,” kata dia.
Berdasarkan serangkaian faktor itu, rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp 17.750-Rp 17.850 per dolar AS.
Sebelumnya, kurs nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) terjungkal pada akhir transaksi Selasa, (11/8/2026). Pengamat menerangkan, guncangan rupiah terhadap dolar AS dipicu perselisihan AS dan Iran yang memadamkan spekulasi normalisasi Selat Hormuz.
Melansir dari Sumbernya, angka tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok sebesar 106 poin atau 0,60% ke tingkat 17.861 per dolar AS jika dibandingkan penutupan lalu di level 17.755 per dolar AS.
Nilai Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada sore kemarin juga melemah di posisi 17.824 per dolar AS dari hari sebelumnya 17.795 per dolar AS.
"Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini, sehingga memupus harapan kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk kembali membuka Selat Hormuz,” kata dia dikutip dari Sumbernya.
Dua negara terkait dikabarkan melemparkan klaim yang bertolak belakang mengenai kondisi Selat Hormuz. Pihak Washington mengklaim, perairan itu tetap dapat dilalui, di saat Teheran mengklaim telah mengisolasi jalur tersebut dengan peletakan ranjau dan drone.
Selanjutnya, penyerangan milisi Houthi di Yaman pada kilang minyak Jazan kepunyaan Saudi Aramco ikut memperparah ketakutan akan hambatan pasokan.
"Kelompok Houthi mengancam akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan cara menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah. Langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujar dia.
Mencermati sentimen pasar lokal, beban terhadap bursa sedikit tertahan berkat keputusan Presiden RI Prabowo Subianto yang menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjadi calon tunggal suksesor Perry Warjiyo, sehingga meredam keraguan seputar kepemimpinan.
"Namun, pasar juga merespon negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026,” ujar Ibrahim.