Airlangga Ungkap Strategi Penguatan Pasar Modal Nasional Makin Berkualitas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:01:55 WIB

JAKARTA - Pihak pemerintah mulai menggeser arah pembangunan pasar saham tanah air dari sebelumnya sekadar mengejar kenaikan jumlah investor maupun emiten menuju pemantapan mutu, likuiditas, dan kepercayaan pelaku pasar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa peningkatan mutu pasar saham sangat krusial di tengah tingginya ketidakpastian global.

Menurutnya, tingkat kepercayaan investor merupakan kunci utama dalam mempertahankan laju investasi serta perluasan bisnis di pasar domestik.

"Perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh sebesar 5,45% pada Semester I-2026 di tengah berbagai gejolak global. Kondisi tersebut juga didukung oleh inflasi yang relatif rendah sebesar 2,88% serta kemampuan Indonesia memitigasi dampak gejolak harga energi," kata Airlangga dalam Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Beliau menjelaskan bahwasanya fondasi ekonomi yang stabil telah memicu pertumbuhan pasar finansial nasional.

Sampai kurun waktu Juni 2026, total investor pasar modal menyentuh angka 28,9 juta orang, sedangkan jumlah emiten yang terdaftar menyentuh 957 perusahaan dengan kapitalisasi pasar mencapai kisaran Rp9.897 triliun.

Dalam skala regional, Indonesia bahkan berada di peringkat teratas sebagai negara dengan kuantitas investor pasar modal terbanyak di ASEAN.

Di samping itu, Indonesia turut menempati urutan kedua dalam hal jumlah korporasi terdaftar, urutan ketiga untuk nilai kapitalisasi pasar, dan urutan kedua untuk rata-rata transaksi harian terbesar di wilayah tersebut.

Kendati demikian, Airlangga menilai tantangan masa depan bukan lagi perihal menambah kuantitas investor atau emiten, melainkan mempertinggi mutu pasar keuangan agar makin dalam serta efisien.

Melihat dari pasokan emiten, hingga periode Juli 2026 baru ada tujuh korporasi yang melakukan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan akumulasi dana terkumpul lewat penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp2,16 triliun.

Keadaan tersebut menandakan masih besarnya kesempatan dalam memperkuat deretan emiten berkualitas serta memperluas opsi pembiayaan jangka panjang untuk sektor usaha.

Di sisi lain, kalangan pemodal kini kian memperhatikan berbagai elemen mendasar seperti likuiditas lembar saham, struktur kepemilikan, porsi saham beredar di masyarakat (free float), keterbukaan, tata kelola korporasi, hingga mutu transparansi informasi.

Lantaran hal itu, pemerintah bersama regulator dan pelaku industri terus memacu transformasi pasar modal.

Upaya tersebut ditempuh melalui kolaborasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Bank Indonesia (BI), dan bermacam pihak terkait lainnya.

Beberapa langkah yang sedang direalisasikan meliputi perancangan instrumen investasi baru seperti PINTAR Reksa Dana dan ETF Emas, serta akselerasi tahapan demutualisasi Bursa Efek Indonesia.

Selain memantapkan pasar saham, pemerintah juga berikhtiar mendongkrak iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi dan penyelesaian kendala bisnis lintas kementerian maupun lembaga.

Melalui Satuan Tugas Debottlenecking, hingga tanggal 30 Juli 2026 pihak pemerintah telah menerima 170 aduan dari pelaku dunia usaha.

Dari angka tersebut, sebanyak 124 aduan telah berhasil dituntaskan, mencakup masalah perizinan, perpajakan, kepabeanan, tata ruang, logistik, sampai persoalan energi.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menuturkan bahwa pengukuhan kepercayaan pemodal harus disertai dengan perbaikan kualitas korporasi terdaftar.

"Perusahaan tercatat perlu memperkuat tata kelola, transparansi, dan keterbukaan informasi agar penghimpunan dana dapat semakin optimal mendukung ekspansi usaha, investasi, inovasi, dan produktivitas," ujar Haryo.

Berdasarkan pandangan Sumbernya, gabungan antara fondasi ekonomi yang kuat, pembenahan pasar modal, serta perbaikan iklim investasi bakal menjadi modal penting guna menjaga aliran modal dan mengukuhkan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gejolak internasional yang dinamis.

Reporter: Moch Febrianto