Arah Kurs Rupiah Berbalik Stabil Bebas Tekanan Level Psikologis Rp18.000

Arah Kurs Rupiah Berbalik Stabil (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 10 Agustus 2026 | 13:10:46 WIB

JAKARTA - Dinamika nilai tukar uang dalam negeri pekan lalu memperlihatkan pergerakan yang jauh lebih tenang dibanding periode Mei–Juni 2026.

Pada kurun waktu tersebut, mata uang rupiah sempat mencatatkan penurunan performa dibanding mayoritas valuta di Asia.

Malahan ketika beberapa kurs kawasan mulai bangkit terhadap dollar AS, mata uang rupiah justru diterpa tekanan berat hingga melampaui angka psikologis Rp 18.000 per dollar AS.

"Kondisi itu sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar dan menjadikan Rupiah sebagai salah satu mata uang yang paling banyak disorot di kawasan pada Mei-Juni," ucap dari Sumbernya, Minggu (9/8/2026).

Sekadar catatan, nilai tukar uang dalam negeri melonjak dan bergerak di kisaran Rp 17.787 usai publikasi data ekonomi AS pada Jumat, (7/8/2026).

Laporan sektor tenaga kerja AS yang memburuk, memancing keraguan kenaikan suku bunga The Fed dan menghimpit Indeks Dolar AS (DXY).

Analisis tersebut menerangkan situasi mata uang dalam negeri sekarang berbalik total.

Himpitan khusus (idiosinkratik) terhadap kurs nasional mulai menyusut.

Mata uang dalam negeri tak lagi berada di belakang, namun telah balik melangkah lebih selaras bersama arah pergerakan kurs regional.

"Hal ini menjadi perkembangan yang sangat konstruktif bagi stabilitas nilai tukar ke depan," jelas dari Sumbernya.

Pendorong global, kejutan data tenaga kerja AS Analisis tersebut membeberkan, kebangkitan dan tren positif susulan mata uang dalam negeri memperoleh dorongan besar dari sektor luar negeri mengekor publikasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls/NFP) periode Juli yang di luar harapan.

Angka ketenagakerjaan AS yang buruk mendatangkan kebimbangan besar di pasar modal mengenai agenda bank sentral AS (The Fed) untuk mendongkrak suku bunga pada pertemuan September nanti.

Indeks dollar AS (DXY) cenderung terdepresiasi setelah publikasi data lantaran estimasi ekonomi negara adidaya tersebut yang meredup.

"Pelemahan dollar akibat data ketenagakerjaan yang buruk justru memberikan ruang penguatan lanjutan yang sangat terbuka bagi rupiah," papar dari Sumbernya.

Pemicu domestik dari pembukaan ekspor mineral strategis Bukan cuma disokong oleh pelemahan dollar dunia, kebangkitan mata uang dalam negeri juga berpeluang mendapat daya dorong kuat dari pemulihan sektor perdagangan domestik.

Di pihak lain, operasional ekspor nikel dan timah yang dibuka kembali berpotensi mengakselerasi aliran masuk Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Perkara ini akan menyumbang modal likuiditas dollar AS baru di pasar nasional demi mendukung penguatan mata uang dalam negeri.

"Kombinasi antara cadangan devisa yang mencukupi serta normalisasi aktivitas ekspor mineral mentah atau hilirisasi diharapkan dapat mempertahankan momentum pergerakan rupiah," pungkas dari Sumbernya.

Reporter: Moch Febrianto