Dolar AS Melemah ke 99,6 Rupiah dan Pasar RI Berpeluang Menguat Hari Ini

Dolar AS Melemah ke 99,6 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 10 Agustus 2026 | 13:10:46 WIB

JAKARTA - Indeks mata uang Paman Sam bergerak dinamis pada kisaran angka 99,6 di perdagangan awal pekan Usai mengalami penurunan mendalam pada putaran sebelumnya. Penurunan mata uang Amerika Serikat tersebut disebabkan oleh data tenaga kerja domestik yang tercatat lebih rendah dibandingkan prediksi para analis.

Kondisi merosotnya indeks valuta Negeri Paman Sam ini menghadirkan ruang lega bagi sektor keuangan tanah air karena berpeluang menekan beban terhadap kurs garuda sekaligus mencegah keluarnya dana asing dari bursa domestik.

Laporan dari Sumbernya menunjukkan kemunduran indeks terjadi Usai rilis non-farm payrolls secara mendadak memperlihatkan pemotongan sebanyak 23.000 lapangan kerja sepanjang Juli 2026. Laporan ketenagakerjaan itu pun disertai perbaikan angka ke bawah yang cukup dalam pada dua bulan terdahulu sehingga kian memperjelas pelemahan situasi lapangan kerja di sana.

Situasi ini berpengaruh secara langsung pada penurunan proyeksi pasar mengenai kenaikan biaya pinjaman utama oleh otoritas moneter AS, The Federal Reserve, pada periode mendatang.

Peluang peningkatan suku bunga The Fed senilai 25 basis poin untuk September mendatang saat ini terperosok menuju kisaran 44 persen. Nilai ini meluncur drastis bila disandingkan dengan estimasi pekan terdahulu yang sempat menembus angka 67 persen.

Para penanam modal mancanegara sekarang menggeser fokus mereka menuju data laju inflasi AS yang direncakan rilis minggu ini demi mendapatkan petunjuk lanjutan mengenai arah panduan moneter selanjutnya.

Pada saat yang bersamaan, para pemain pasar terus mengamati perkembangan gejolak wilayah Timur Tengah. Iran dengan keras menampik telah melakukan dialog secara langsung dengan pihak AS, walau rezim Washington menyatakan bahwa pemufakatan kedua belah pihak sudah kian mendekat.

Pihak Teheran terus mendesak penghentian embargo armada laut AS, penghapusan sanksi finansial, serta pembagian ganti rugi atas kerusakan konflik sebelum menyetujui kesepakatan apa pun.

Reporter: Moch Febrianto