Proyeksi Harga Logam Mulia dan Emas Seminggu Depan Capai 2.82 Juta Per G

Proyeksi Harga Logam Mulia dan Emas (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 10 Agustus 2026 | 13:10:46 WIB

JAKARTA - Pergerakan nilai komoditas emas maupun logam mulia diproyeksikan masih berjalan melandai serta berpotensi terangkat sepanjang satu pekan mendatang. Banderol emas diperkirakan bergerak pada rentang Rp 2,55 hingga Rp 2,82 juta tiap gramnya.

Pakar Moneter dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, lewat kalkulasi teknikal, nilai emas global pada pekan mendatang bertengger di kisaran 4.151 dolar AS per troy ons untuk titik support dan 4.493 dolar AS per troy ons pada titik resistennya.

Sementara pada hari Senin (10/8/2026), besar kemungkinan batas support berada pada angka 4.279 dolar AS per troy ons, serta batas resistennya di posisi 4.405 dolar AS per troy ons.

“Untuk harga logam mulia Sabtu ditutup pada level Rp 2,69 juta per gram. Dalam sepekan (ke depan) kemungkinan besar logam mulia akan ditransaksikan di Rp 2,55 juta per gram, kemudian resisten-nya di Rp 2,82 juta per gram,” tutur Ibrahim dalam rilisnya kepada awak media, Ahad (9/8/2026).

Adapun untuk perdagangan Senin (10/8/2026), diprediksi posisi support logam mulia diperdagangkan di angka Rp 2,67 juta per gram, sementara angka resistennya menyentuh Rp 2,71 juta per gram.

“Jadi ada kemungkinan harga emas dan logam mulia akan menguat. Walaupun rupiah juga menguat tetapi penguatan mata uang rupiah membuat kenaikan harga logam mulia sedikit terbatas,” ungkapnya.

Di momen bersamaan, Ibrahim menyebutkan bahwa harga minyak mentah internasional diperkirakan mengalami tren penurunan dalam rentang sepekan ke depan. Angkanya berada di taraf 65,70 dolar AS per barel sebagai titik support hingga 83,30 dolar AS per barel. Selanjutnya, posisi indeks dolar AS diproyeksikan bergerak di kisaran 98,80 sampai 100,50.

“Apa sih yang membuat harga emas dunia dan logam mulia mengalami kenaikan? Yang pertama adalah tentang masalah geopolitik dimana adanya kesepakatan Iran dan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz yang kemungkinan besar akan segera tercapai satu kesepakatan. Dan ini pun juga sudah dilaporkan ke AS,” paparnya.

Ibrahim menerangkan, lantaran kesepakatan tersebut belum terwujud, Iran melancarkan gempuran ke kapal-kapal Uni Emirat Arab di kawasan Selat Hormuz. Aksi penyerangan oleh Iran tersebut terjadi ketika kapal-kapal tanker Uni Emirat Arab sedang melintasi Selat Hormuz.

“Serangan dari Iran ini rupanya tidak membuat harga minyak kembali mengalami kenaikan, tetapi AS sendiri fokus terhadap perjanjian yang ada diantara Iran dan Oman untuk pengendalian Selat Hormuz.

Ibrahim menjelaskan, keinginan Iran sebenarnya adalah agar pihak Amerika Serikat tidak mengganggu negara tersebut melalui tindakan penyerangan ke area-area krusial di Iran. Pihak Amerika Serikat sendiri terus meracik anggaran pertempuran di Kongres yang bakal dibahas pekan depan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump diketahui mengemukakan bahwa bilamana pihak Amerika Serikat menyerang Iran lewat jalur udara memakai pesawat, mustahil tercapai sebuah kompromi perang di kawasan Timur Tengah. Lantaran hal itu, Amerika Serikat kemungkinan mengeksekusi gempuran darat demi menentukan pemenang pertempuran tersebut.

“Ini membuat ketegangan tersendiri walaupun sampai saat ini belum ada letupan-letupannya. Jadi, faktor geopolitik di Timur Tengah masih cukup dominan,” terangnya.

Di luar krisis Timur Tengah, konflik bersenjata di Eropa Timur turut menjadi pemicu yang memengaruhi pergerakan komoditas dunia. Sampai hari ini, Rusia masih gencar melakukan penyerangan memakai roket jarak jauh ke Ibu Kota Ukraina di Kyiv hingga jatuh korban jiwa.

“Sasaran utama dari Rusia sekarang bukan lagi wilayah-wilayah pinggiran tetapi adalah Ibu Kota Kyiv agar Zelenskyy (Presiden Ukraina) menyerah tanpa syarat terhadap Rusia, dan memberikan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Rusia untuk diakui oleh Ukraina. Nah ini pun juga membuat ketegangan tersendiri terhadap harga minyak mentah. Itu dari segi geopolitik ya,” lanjutnya.

Selanjutnya, pemicu lainnya berasal dari kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat. Ibrahim menyampaikan, kabar terbaru data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tren positif, yakni angka tenaga kerja Amerika Serikat mengalami penyusutan 23 ribu pada Juli 2026, lebih rendah dari perkiraan awal sebanyak 85 ribu.

Rincian data tersebut menandakan Bank Sentral Amerika Serikat dalam rapat mendatang akan tetap mempertahankan kenaikan suku bunga. Selaras dengan perkiraan para pengamat bahwa kenaikan suku bunga melandai 40 persen pada September, Ibrahim memaparkan, bisa saja nantinya nilai minyak kian merosot di bawah 60 dolar AS per barel dan mendorong laju inflasi di Amerika Serikat kembali turun.

“Ada harapan bahwa terjadinya penurunan harga minyak akan membuat investor secara global yang akan mengalihkan dananya dari dolar dan atau dari minyak mentah ke emas sebagai safe haven,” katanya.

Reporter: Moch Febrianto