Airlangga: ETF Emas Mampu Perkuat Pasar Keuangan Indonesia Secara Luas

Airlangga: ETF Emas Mampu Perkuat Pasar Keuangan (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 10 Agustus 2026 | 13:10:44 WIB

JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menganggap peluncuran exchange traded fund (ETF) emas sebagai langkah strategis guna memperdalam sektor keuangan Indonesia.

Instrumen tersebut dipandang tak sekadar menambah variasi investasi, melainkan berpeluang mendongkrak likuiditas pasar emas nasional.

Airlangga menyampaikan keberadaan ETF emas sanggup mempertemukan beragam pelaku pada ekosistem keuangan, berawal dari manajer investasi, bank kustodian, bank bullion, dealer, sampai Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Saya harapkan memang produk ini menghubungkan antara manajer investasi, custodian bank, bank bullion, dealer, dan bursa efek. Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas,” kata Airlangga dalam peluncuran ETF emas, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).

Berdasarkan penuturan Airlangga, ETF emas turut memberi kesempatan buat industri asuransi untuk menanamkan modal pada emas lewat instrumen pasar modal.

Sebelumnya, sektor asuransi mempunyai keterbatasan guna berinvestasi secara langsung di bullion.

"Dengan ETF, maka asuransi bisa investasi emas. Sebelumnya asuransi tidak bisa investasi di bullion. Jadi ini salah satu yang kami akan terus dorong,” ujarnya.

Airlangga memandang potensi perluasan ETF emas Indonesia sangat besar.

Ia mengungkapkan nilai ETF emas dunia sudah menyentuh kisaran US$4.047 miliar, dengan Amerika Serikat sekitar US$526 miliar, China US$45 miliar, serta India US$17,5 miliar.

Pada sisi lain, total emas yang dikelola Pegadaian menyentuh angka sekitar 153 ton atau senilai kira-kira US$20 miliar.

Menurut Airlangga, tingginya potensi ini membuka celah bagi Indonesia demi mengejar pasar ETF emas negara lain di kawasan.

"India sebetulnya bisa kami balap dengan waktu cepat. Jadi kami akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura. Dan dengan demikian tentu kami lebih dalam lagi," ujar dia.

Airlangga turut menganggap kehadiran Electronic Gold Receipt (EGR) sebagai bagian krusial pada pengembangan ETF emas.

Ia memberikan apresiasi kepada OJK yang memfasilitasi EGR dicatatkan sebagai efek di dalam portofolio ETF emas.

Menurut dia, pihak pemerintah pun sedang mengkaji perlakuan pajak terhadap transaksi EGR, mencakup Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.

“Harapannya bisa meningkatkan transaksi dan setara dengan transaksi yang lain, terutama yang di bursa,” ujarnya.

Airlangga membeberkan, pengembangan ETF emas berjalan di tengah fundamental ekonomi Indonesia yang dipandang tetap kokoh.

Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29% pada triwulan II 2026 serta mencatatkan kenaikan 5,45% pada semester I 2026.

Pertumbuhan itu berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia yang berada di kisaran 3%.

Di samping itu, investasi Indonesia tumbuh 7,2% secara tahunan dengan angka melampaui Rp 1.000 triliun.

Airlangga menilai situasi ini wajib dipertahankan lantaran keperluan pembiayaan ekonomi Indonesia diprediksi melonjak dari sekitar Rp 7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029.

“Harapannya dengan produk baru ETF, kami akan terus memperkuat Indonesia punya kedalaman sektor keuangan,” kata Airlangga.

Ia mengimbuhkan penguatan pasar keuangan pun mesti diimbangi reformasi supaya sektor keuangan Indonesia kian terpercaya, inovatif, serta berdaya saing.

Reporter: Moch Febrianto