Posisi Cadangan Devisa Juli 2026 Menyusut, Waspadai Lonjakan Impor

Posisi Cadangan Devisa Juli 2026 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:44:50 WIB

JAKARTA - Jumlah cadangan devisa Indonesia terpantau mengalami penurunan kembali pada kurun akhir Juli 2026.

Meskipun merosot tipis menjadi US$ 145,3 miliar dari angka US$ 145,6 miliar pada Juni, taraf tersebut dinilai masih tangguh dalam menopang ketahanan eksternal.

Namun, pengamat ekonomi mengingatkan tantangan yang kian berat justru bersumber dari melebarnya defisit transaksi berjalan lantaran pertumbuhan impor yang jauh melampaui ekspor.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan, besaran cadangan devisa pada kurun akhir Juli 2026 dipengaruhi oleh penerimaan sektor pajak dan jasa serta peluncuran obligasi global pemerintah.

Di sisi lain, cadangan devisa juga dipakai untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah intervensi BI guna menjaga ketahanan nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan dunia yang meningkat.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan, posisi cadangan devisa saat ini masih berada di level yang sangat mencukupi.

"Cadangan devisa tetap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Ramdan, Jumat (7/8/2026).

Cadangan devisa sebesar US$ 145,3 miliar ini setara dengan pemenuhan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor berikut pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Tingkat tersebut tercatat masih berada jauh di atas tolok ukur kecukupan internasional yakni sekitar tiga bulan impor.

BI turut meyakini ketahanan sektor eksternal tetap aman berkat ketersediaan cadangan devisa yang memadai, disokong oleh prospek aliran modal asing yang tetap positif sejalan dengan daya tarik investasi Indonesia.

Otoritas moneter juga bakal terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah demi memelihara stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menganggap penurunan cadangan devisa senilai US$ 0,3 miliar pada Juli bukan petunjuk melemahnya kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan devisa.

Menurut pandangannya, penurunan ini lebih merefleksikan penggunaan cadangan devisa sebagai sarana peredam gejolak nilai tukar rupiah.

Dia memproyeksikan posisi cadangan devisa sampai akhir tahun 2026 berada pada rentang US$ 143 miliar hingga US$ 147 miliar, lebih rendah dari capaian akhir 2025 yang berada di angka US$ 156,47 miliar.

Memperhatikan posisi terkini, ruang pergerakan tergolong relatif terbatas, yaitu berpeluang menguat sekitar US$ 1 miliar sampai US$ 2 miliar atau melemah sekitar US$ 2 miliar tergantung pada situasi global dan domestik.

Berdasarkan penjelasan Josua, peluang cadangan devisa merangkak naik ke kisaran US$ 147 miliar terbuka bilamana tensi geopolitik mereda, harga minyak mentah melandai, rupiah kian terkendali sehingga kebutuhan intervensi BI berkurang, modal asing kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, serta penerimaan devisa dari ekspor maupun penerbitan utang global meningkat.

Sebaliknya, cadangan devisa berisiko turun mendekati atau bahkan menembus batas US$ 143 miliar bilamana rupiah kembali dalam tekanan, harga minyak melonjak tajam, terjadi aliran modal keluar, dan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah meningkat.

Meskipun begitu, Josua menilai perhatian utama bukan bertumpu pada susutnya cadangan devisa, melainkan dinamika struktur perdagangan Indonesia.

Selama periode Januari–Juni 2026, ekspor cuma tumbuh sebesar 4,13%, sedangkan angka impor melambung 18,69%.

Bahkan pada Juni 2026, besaran impor mencapai US$ 25,91 miliar, mengungguli perolehan ekspor sebesar US$ 25,46 miliar.

Tingginya impor terutama disumbang oleh bahan baku serta penolong yang naik 18,38% dan impor barang modal yang bertambah 20,50%.

Fenomena ini mencerminkan tingginya aktivitas manufaktur dan investasi, tetapi dalam jangka pendek ikut membengkakkan kebutuhan devisa.

Bilamana peningkatan impor tidak diimbangi kenaikan kapasitas produksi serta ekspor, tekanan terhadap transaksi berjalan dan cadangan devisa diperkirakan akan kian hebat.

Lantaran itu, Josua memprediksi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia meluas menjadi sekitar 1%–2% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026, berbanding 0,11% PDB saja pada 2025.

Melebarnya defisit tersebut diperkirakan terdorong oleh kuatnya konsumsi domestik yang memacu impor, tatkala laju ekspor kembali normal usai melonjak pada 2025.

Situasi tersebut juga diperburuk oleh perlambatan ekonomi Tiongkok, perselisihan dagang, serta ketegangan di Timur Tengah.

Di samping faktor perdagangan, stabilitas cadangan devisa juga amat bergantung pada pergerakan modal asing.

Kondisi global yang tidak pasti, evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada November, serta perubahan outlook Moody's dan Fitch menjadi negatif dinilai masih mendorong pemodal bersikap hati-hati atas aset Indonesia.

Josua memperkirakan nilai tukar rupiah hingga akhir 2026 bergerak di kisaran Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar AS sehingga BI masih berpotensi memanfaatkan sebagian cadangan devisa guna merawat stabilitas kurs.

Dalam kurun menengah, dia menilai pemerintah perlu memperkokoh pasokan devisa yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan devisa hasil ekspor agar mengendap lebih lama di dalam negeri, memicu investasi langsung berbasis ekspor, menekan ketergantungan atas impor energi, memperkuat industri substitusi impor, serta menjaga kredibilitas fiskal agar tingkat kepercayaan investor tetap terpelihara.

Reporter: Moch Febrianto