Rilis Data Ekonomi Nasional Mampu Menyokong Nilai Tukar Rupiah Hari Ini
JAKARTA - Kurs mata uang rupiah mengalami apresiasi selama tiga hari transaksi secara beruntun hingga akhir pekan. Jumat (7/8), nilai tukar rupiah pada pasar spot terangkat Rp 26 atau 0,15% menuju Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam periode sepekan, posisi rupiah spot berhasil membukukan kenaikan 0,69% dibanding angka Rp 18.022 per dolar AS. Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor naik sebesar Rp 6 atau 0,03% pada tingkat Rp 17.913 per dolar AS.
Bila dihitung sepekan, kurs rupiah Jisdor terkerek 0,80% dari kedudukan Rp 18.058 per dolar AS pada Jumat (31/7). Keluarnya indikator ekonomi pada pekan ini turut menopang daya tahan rupiah.
Laju inflasi tercatat mereda di level 2,88% YoY di bulan Juli dibanding Juni yang berada di kisaran 3,34% YoY. Sementara itu, defisit neraca transaksi perdagangan Juni membaik menjadi US$ 450,5 juta jika dibandingkan bulan sebelumnya senilai US$ 1,61 miliar.
Capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,29% YoY pada triwulan kedua masih terbilang lebih melampaui estimasi di bawah 5,20% walau melambat ketimbang kuartal awal.
Teranyar, Bank Indonesia (BI) merilis jumlah cadangan devisa bulan Juli 2026 yang tercatat sebesar US$ 145,34 miliar.
Angka ini hanya terpangkas tipis jika disandingkan dengan periode bulan sebelumnya senilai US$ 145,59 miliar.
Penguatan mata uang garuda saat ini sejalan dengan arah pergerakan mata uang kawasan Asia.
Won Korea melonjak 0,49%.
Baht Thailand menanjak 0,21%.
Dolar Singapura menguat 0,19%.
Yen Jepang menguat 0,04%.
Rupee India terangkat 0,02%.
Yuan China naik 0,01%.
Sejumlah mata uang regional Asia tertekan terhadap dolar AS jelang penutupan pekan.
Peso Filipina tergerus 0,23%.
Dolar Taiwan melemah 0,17%.
Ringgit Malaysia tergerus 0,02%.
Dolar Hong Kong tertekan 0,004%.
Indeks dolar yang mencerminkan performa dolar AS atas mata uang utama dunia saat ini terkoreksi tipis 0,01% di posisi 99,92.
Indeks dolar parkir di bawah batas 100 pada tujuh hari transaksi secara beruntun.
Data inflasi AS bulan Juni memperlihatkan tingkat 3,50%, melandai dibandingkan bulan lalu yang berada di rentang 4,20%.
Melambatnya tingkat inflasi ini sedikit mengurangi tekanan bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan.