Perkembangan Kurs Rupiah Ditutup Menguat Lawan Dolar AS Pada Rp17.910!
JAKARTA - Pergerakan kurs rupiah kembali ditutup naik terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang Indonesia sanggup mempertahankan penguatannya kendati indeks dolar AS berbalik terangkat sedikit pada sesi perdagangan sore ini.
Mengacu pada data Refinitiv, penutupan perdagangan hari Kamis (6/8/2026) mencatat rupiah berhasil menguat 0,08% ke kisaran Rp17.910/US$.
Apresiasi tersebut melanjutkan penguatan drastis pada sesi sebelumnya, saat rupiah ditutup menguat 0,50% menuju taraf Rp17.925/US$ setelah pertumbuhan ekonomi dalam negeri melampaui ekspektasi pasar.
Mata uang rupiah sudah bertengger di zona hijau dari awal sesi transaksi dengan kenaikan 0,14% di angka Rp17.900/US$.
Di sepanjang hari ini, pergerakan rupiah terpantau relatif stabil pada batas level Rp17.890 hingga Rp17.922 per dolar AS.
Walaupun menyusut 10 poin dari posisi awal transaksi, rupiah tetap mengakhiri sesi 15 poin lebih kuat dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur keperkasaan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, pukul 15.00 WIB terlihat berbalik naik tipis 0,07% ke posisi 99,749.
Penguatan mata uang Garuda pada perdagangan hari ini masih didorong sentimen positif pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang berada di atas perkiraan pasar.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi dalam negeri tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal II-2026.
Realisasi ini tercatat lebih tinggi dibanding prediksi konsensus 15 lembaga serta institusi yang memperkirakan angka 5,12%.
Namun demikian, laju tersebut mengalami perlambatan dibandingkan kuartal I-2026 yang menembus 5,61% secara tahunan.
Secara kuartalan, ekonomi berkembang 3,58%, berbalik arah dari kontraksi 0,77% pada kuartal terdahulu.
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan laju ekonomi sepanjang tahun 2026 tetap solid di kisaran 4,9%-5,7% secara tahunan.
Perkiraan tersebut didukung permintaan domestik dan bauran kebijakan pemerintah bersama BI yang ditujukan mendorong aktivitas ekonomi.
"Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," tegas Direktur Eksekutif BI Ramdan Denny, Kamis (6/8/2026).
Melihat aspek eksternal, DXY berbalik menguat tipis pada perdagangan sore hari ini.
Meski demikian, indeks dolar AS masih berada di bawah angka psikologis 100 sesudah tertekan oleh penurunan harga minyak, yang mengakibatkan melesunya ekspektasi inflasi, serta data ketenagakerjaan swasta AS yang di bawah perkiraan.