Emas Dunia Merosot Tipis Terbayang Isu Konflik Geopolitik dan Inflasi
NEW YORK - Banderol emas internasional terkoreksi tipis pada penghujung sesi perdagangan Senin (3/8/2026) waktu setempat atau Selasa (4/8/2026) pagi WIB, di tengah ketidakpastian perselisihan di Timur Tengah dan kian besarnya kekhawatiran terkait inflasi.
Di samping itu, para pelaku pasar pun sedang menantikan sederet data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pekan ini sebagai acuan arah keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, banderol emas spot terkikis 0,3 persen menjadi 4.030,34 dollar AS per ons.
Adapun banderol kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,4 persen menuju rentang 4.090,50 dollar AS per ons.
Analis Marex Edward Meir menerangkan banderol emas masih berjalan pada rentang yang cukup terbatas selama lebih dari satu bulan terakhir, yaitu sekitar 4.000-4.200 dollar AS per ons.
"Penopangnya adalah ekspektasi pasar bahwa inflasi dapat kembali meningkat, terutama pada Juli ketika data terbaru kemungkinan akan membalikkan sebagian besar penurunan inflasi pada Juni," ujar Meir.
Kecemasan terhadap lonjakan inflasi kembali menguat usai tiga pejabat The Fed yang pekan lalu berbeda pandangan dalam rapat keputusan, menegaskan penundaan kenaikan suku bunga berisiko membiarkan inflasi tetap bertengger di atas target 2 persen bank sentral.
Kepala Federal Reserve Bank of New York John Williams juga memastikan bank sentral siap kembali mendongkrak suku bunga apabila tekanan inflasi tidak berkurang.
Pada aspek lain, harga minyak yang melonjak menyusul memanasnya perselisihan antara AS dan Iran ikut memperkuat proyeksi bahwa suku bunga bakal bertahan tinggi lebih lama.
Sepanjang Juli, harga minyak Brent telah melambung lebih dari 20 persen usai bentrokan kembali pecah, serta penyerangan terhadap sejumlah kapal tanker di area Oman turut memperbesar kekhawatiran keamanan.
Suku bunga yang konsisten tinggi umumnya menjadi sentimen kurang menguntungkan bagi emas lantaran logam mulia tersebut tidak menghasilkan imbal hasil.
Pada saat bersamaan, ketidakpastian geopolitik masih terus berlanjut.
Iran pada Senin menegaskan tidak ada negosiasi yang tengah berlangsung ataupun rencana tatap muka dengan AS.
Pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebutkan negosiasi akan dilaksanakan sehingga menjadi alasan penundaan aksi serangan terhadap Iran.
Para pelaku pasar kini menanti deretan data ketenagakerjaan AS yang hendak dipublikasikan pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP serta data nonfarm payrolls, guna memperoleh petunjuk lanjutan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sementara di transaksi logam mulia lainnya, harga perak spot bertahan di angka 57,63 dollar AS per ons.
Sedangkan harga platinum menyusut 1,6 persen menjadi 1.615,25 dollar AS per ons dan palladium tergerus 1,7 persen menuju level 1.252,62 dollar AS per ons.