Prediksi Kurs Rupiah atas Dolar AS Hari Ini Senin Tiga Agustus 2026
JAKARTA - Pergerakan kurs rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan melaju secara dinamis dengan potensi menguat pada transaksi hari ini, Senin (3/8/2026), di tengah semakin tingginya harapan penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Merujuk pada data Doo Financial Futures, saat penutupan bursa Jumat (31/7/2026), rupiah meningkat 0,49% pada posisi Rp18.022 per dolar AS.
Dalam waktu bersamaan, indeks dolar AS (DXY) terkoreksi 0,06% menuju kisaran 99,80.
Pengamat Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan peningkatan rupiah selaras dengan dominasi mata uang kawasan Asia yang sama-sama terapresiasi terhadap dolar AS.
Penurunan dolar terdorong oleh sederet indikator ekonomi AS yang meleset dari perkiraan, sehingga memperbesar kesempatan pelonggaran strategi moneter oleh The Fed dalam rentang beberapa bulan ke depan.
"Rupiah dan mata uang regional umumnya menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi cukup tajam oleh data ekonomi yang mengecewakan," ujar Lukman.
Walau begitu, laju pasar tetap terbayangi oleh faktor ketidakpastian dunia.
Di samping arah kebijakan tingkat bunga The Fed, para pemodal turut mengamati dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang berpotensi memicu gejolak harga komoditas energi sekaligus menaikkan dorongan atas aset safe haven, termasuk dolar AS.
Sektor domestik menunjukkan fokus para pelaku pasar tetap tertuju terhadap proses pergantian pimpinan Bank Indonesia (BI).
Para penanam modal secara konsisten memantau figur yang bakal menempati posisi Gubernur BI mendatang mengingat arah kebijakan bank sentral memiliki andil vital guna merawat stabilitas kurs beserta inflasi.
Berdasarkan paparan Lukman, pergerakan fluktuatif rupiah berpeluang melonjak sepanjang minggu ini seiring maraknya agenda publikasi data ekonomi dari Indonesia, Amerika Serikat, hingga China.
Sektor AS bakal menyajikan data kinerja manufaktur beserta jasa, laporan kesempatan kerja JOLTS, sampai data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) yang menjadi acuan kunci kondisi ekonomi Negara Paman Sam.
Sementara itu dari China, para investor hendak memantau data manufaktur serta bidang jasa guna mengukur daya pemulihan ekonomi kawasan tersebut.
Adapun pada ranah lokal, pelaku pasar menantikan rilis data neraca komersial, tingkat inflasi, indeks manufaktur, hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II/2026.
Lewat pertimbangan beraneka ragam sentimen tersebut, Lukman menaksir rupiah bergerak variatif dengan kecenderungan menanjak pada rentang Rp17.850 hingga Rp18.150 per dolar AS pada sesi transaksi Senin (3/8/2026).