Harga Emas Melonjak Sebesar 1,9 Persen Selepas Kebijakan Suku Bunga Fed!

Harga Emas Melonjak Sebesar 1,9 Persen (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 30 Juli 2026 | 12:30:23 WIB

JAKARTA - Nilai jual emas kembali merangkak naik pada Rabu (29/7/2026) usai Bank Sentral AS (The Fed) menetapkan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan.

Penurunan mata uang dolar AS serta imbal hasil obligasi Pemerintah AS menjadikan emas kian diminati para pemodal internasional di tengah kekhawatiran terkait inflasi.

Banderol emas spot terangkat 1,9% menuju angka US$ 4.101,99 per ons selepas sebelumnya sempat menyentuh US$ 4.116,26 per ons, yang merupakan posisi tertinggi sejak 23 Juli 2026.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus berakhir melemah sekitar 0,1% berada di level US$ 4.036,30 per ons.

Bank Sentral AS menetapkan suku bunga acuannya tetap berada pada level 3,5%-3,75%.

Langkah tersebut menjadi fokus utama pelaku pasar lantaran investor mengamati arah kebijakan bank sentral AS di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, khususnya mengenai upaya menekan kembali inflasi ke sasaran jangka panjang sebesar 2%.

Pilihan tersebut turut memberi tekanan pada dolar AS terhadap euro.

Pelemahan mata uang dolar menjadikan emas yang ditransaksikan menggunakan mata uang AS menjadi relatif lebih terjangkau bagi para pembeli dari mata uang lainnya.

Pada momen yang sama, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun memangkas kenaikan yang terjadi sebelumnya.

Penyusutan imbal hasil surat utang memberi dorongan bagi emas lantaran komoditas tersebut tidak menghasilkan imbal hasil berupa bunga.

“Logam mulia memimpin reli aset yang moderat meskipun Ketua Warsh terdengar cukup hawkish secara keseluruhan, ini terasa seperti reli pemulihan setelah The Fed mempertahankan suku bunga tetap. Tidak jelas berapa lama ini akan berlangsung. Gaya bahasa Warsh canggih dan cukup kompleks, jadi pasar mungkin akan berubah pikiran setelah refleksi yang lebih dalam,” kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen dilansir dari Sumbernya.

Warsh menyampaikan bahwa bank sentral AS tidak memiliki “target lunak” yang lebih tinggi untuk inflasi dan bertekad mencapai target jangka panjang sebesar 2%, meskipun suku bunga tetap tidak berubah di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa The Fed tetap menempatkan penanganan inflasi sebagai fokus utama.

Sikap itu memaksa pasar guna memperhitungkan kembali potensi pergeseran suku bunga dalam kurun beberapa bulan mendatang.

“Pasar obligasi jangka panjang sedang panik dan menyeret saham turun menjelang penutupan. Ketakutan akan inflasi membantu emas berkinerja lebih baik,” tambah Wong, mengutip sifat tradisional emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Fluktuasi proyeksi tersebut tampak dari pasar suku bunga.

Para pelaku pasar memprediksi kans kenaikan suku bunga di bulan September berada pada angka 64%, merosot dari posisi sekitar 81% sebelum rilis kebijakan The Fed, merujuk data perkakas FedWatch milik CME Group.

Divergensi proyeksi tersebut memperlihatkan ketidakpastian pasar atas arah kebijakan moneter AS.

The Fed sebelumnya telah mempertahankan tingkat suku bunga pada rapat Juni, dengan laju inflasi yang masih bertahan di atas sasaran 2% serta tekanan harga energi yang menjadi salah satu pertimbangan bank sentral.

Para investor saat ini mengalihkan perhatian menuju rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures AS periode Juni yang dijadwalkan meluncur pada Kamis (30/7/2026).

Indikator tersebut menjadi acuan krusial bagi pasar guna membaca arah laju inflasi serta garis kebijakan moneter selanjutnya.

Tren positif tidak hanya melanda komoditas emas semata.

Banderol perak terangkat 3,2% menjadi US$58,96 per ons pada sesi perdagangan Rabu (29/7/2026).

Nilai jual platinum turut meningkat 1,9% mencapai US$1.636,10 per ons.

Sementara itu, paladium mencatatkan penguatan 1% ke posisi US$1.281,75 per ons.

Reporter: Moch Febrianto