Harga Emas Melonjak Melesat Usai The Fed Mempertahankan Suku Bunga AS.
JAKARTA - Nilai emas kembali menguat usai bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed memilih menahan suku bunga utamanya.
Kebijakan itu memberikan tekanan terhadap nilai mata uang dolar AS.
Mengutip dari Sumbernya, nilai emas pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026) berada pada level US$ 4064,98 per troy ons.
Nilainya tercatat terangkat sebesar 0,94%.
Laju positif ini bertolak belakang dibanding penurunan sebesar 1,18% pada hari Senin.
Banderol emas tetap melonjak tinggi pada hari ini.
Dalam sesi transaksi hari ini, Kamis (30/7/2026), komoditas emas menanjak 0,69% menuju posisi US$ 4092,99 per troy ons.
The Fed mengambil langkah untuk menahan tingkat suku bunga.
Meski demikian, keputusan ini diprediksi memunculkan semakin banyak keraguan terkait cara Ketua The Fed Kevin Warsh merealisasikan janjinya menekan inflasi ke sasaran 2%.
Kurs dolar AS merosot seiring rilis kebijakan itu, yang menjadikan emas lebih terjangkau untuk para pembeli berpembayaran valuta lain.
Pada waktu bersamaan, hasil imbal obligasi pemerintah AS jangka 10 tahun turut mengikis apresiasi yang diraih sebelumnya.
"Logam mulia memimpin reli moderat di berbagai aset meski Warsh secara keseluruhan terdengar cukup hawkish. Ini terasa seperti reli akibat kelegaan setelah The Fed mempertahankan suku bunga," kata Tai Wong, analis logam independen, dikutip dari Sumbernya.
Akan tetapi, Tai Wong memberi peringatan bahwa kondisi pasar dapat berbalik dengan sigap.
Hal itu disebabkan para pelaku pasar, baik institusi maupun investor, masih ragu terhadap sinyal The Fed.
"Belum jelas berapa lama reli ini akan bertahan. Pilihan kata Warsh cukup canggih dan kompleks sehingga pasar bisa saja mengubah penilaiannya setelah mencermati pernyataannya lebih dalam," imbuhnya.
Warsh menekankan bahwa bank sentral AS terus bertekad mencapai sasaran inflasi rentang panjang sebesar 2%, walau menetapkan untuk menahan suku bunga di tengah laju inflasi yang masih membumbung.
"Pasar obligasi sedang panik dan menyeret saham turun menjelang penutupan perdagangan. Kekhawatiran terhadap inflasi membuat emas berkinerja lebih baik," tambah Wong, merujuk fungsi klasik emas sebagai instrumen pelindung nilai inflasi.
Para pemain pasar saat ini memproyeksikan probabilitas kenaikan suku bunga di bulan September mencapai 64%, berkurang dari kisaran 81% sebelum pengumuman sikap kebijakan The Fed dipublikasikan, menurut sarana FedWatch kepunyaan CME Group.
Penanam modal sekarang menantikan angka Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat periode Juni yang diterbitkan pada hari Kamis, guna memperoleh acuan lanjutan terkait arah kebijakan moneter.
Di samping itu, Bank of England (BoE) serta Bank of Japan (BoJ) disinyalir bakal menahan suku bunga pekan ini, sembari mengingatkan lonjakan potensi inflasi imbas konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.