Prospek Saham EMAS Target Rp7.400 Hasil Laba Diproyeksi Melonjak Pesat

Saham EMAS (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 30 Juli 2026 | 12:30:12 WIB

JAKARTA - PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memendam peluang ekspansi kinerja finansial secara terakselerasi, sejalan dengan tahapan eksekusi komersial Operasi Pani pada periode ini.

Kondisi tersebut menjadikan instrumen saham EMAS amat prospektif untuk dicermati.

KB Valbury Sekuritas lewat laporan penganalisisan perdana terhadap emiten EMAS menyarankan aksi beli lewat patokan target Rp7.400 tiap lembarnya.

Saran tersebut mengindikasikan peluang apresiasi nilai (upside) berkisar 20,3% dari posisi penutupan terakhir Rp6.175 per lembar pada 27 Juli 2026.

Pandangan optimistis ini berlandaskan peralihan alur EMAS dari fase pembangunan fisik ke ranah pengerjaan komersial di Operasi Pani, yang berstatus sebagai deposit emas murni terbesar di Tanah Air lewat daya tampung cadangan (resources) 7 juta ounce (Moz) serta total deposit terbukti (reserves) menembus 5,2 juta ounce.

dari Sumbernya memandang bahwa Operasi Pani masih menyimpan ruang pengembangan yang amat lapang, lantaran kalkulasi cadangan saat ini baru memetakan area sekitar 135 hektare atau setara 0,9% dibanding total izin kawasan mencapai 14.670 hektare.

Dilihat pada pencapaian neraca keuangan, dari Sumbernya mengestimasi raihan omzet EMAS menyentuh US$ 150 juta pada 2026, serta diprediksi melonjak tajam menuju angka US$ 765 juta di tahun 2028 lewat tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) berkisar 126% di rentang 2026-2028.

Terkait dengan lonjakan perolehan omzet, korporasi diperkirakan mulai mencatatkan surplus pendapatan pada tahun perdana pengoperasian komersial.

EMAS ditargetkan sanggup membukukan laba bersih US$ 14 juta pada 2026, membalikkan keadaan dari posisi defisit bersih US$ 27 juta pada 2025.

Bukan cuma itu, perolehan EBITDA diproyeksikan menembus US$ 45 juta lewat margin mendekati 30% serta perolehan laba kotor ditaksir mencapai US$55 juta bersama rasio kotor 37,1%.

Berdasarkan paparan dari Sumbernya, pemesatan ini bakal disokong dimulainya pengolahan komersial menerapkan teknik heap-leach pada 2026, sebelum sarana carbon-in-leach (CIL) aktif beroperasi penuh di tahun 2028.

Perolehan komoditas emas perdana berhasil dibukukan pada Februari 2026 berjumlah 1.818 ounce, dengan target volume pengolahan bakal dinaikkan mencapai kisaran 50.000 ounce sepanjang 2026.

dari Sumbernya turut menggarisbawahi bahwa laju EMAS mendapatkan dorongan positif dari naiknya konsumsi emas di tingkat dunia.

Tingkat kebutuhan emas internasional melonjak dari 3.703 ton pada 2020 menuju 5.025 ton pada 2025 yang dipicu maraknya aktivitas investasi serta akuisisi oleh bank-bank sentral.

Proporsi pengadaan oleh bank sentral pada total penyerapan emas mengalami peningkatan dari 7% di tahun 2020 menjadi 17% pada 2025, lewat rata-rata akuisisi mendekati 1.000 ton tiap tahunnya sepanjang empat tahun terakhir.

Kecenderungan ini terus berlanjut pada triwulan I-2026, di mana porsi pengadaan bank sentral menyerap 20,4% dari keseluruhan kebutuhan emas dunia atau berkisar 1.196 ton.

Di samping itu, sebanyak 89% partisipan survei World Gold Council pada Juli 2026 menargetkan cadangan emas formal dunia bakal kian menguat dalam kurun 12 bulan mendatang.

Mengenai aspek lain, dari Sumbernya menilai performa EMAS mempunyai kerentanan yang teramat peka terhadap pergerakan harga komoditas emas.

Menggunakan patokan harga emas US$4.600 per ounce, tiap pergeseran 1% pada nilai jual emas diperkirakan memicu penyesuaian laba bersih sekitar 2,0%-2,1% menuju arah yang searah.

Sementara itu, faktor pendorong utama bagi emiten EMAS mencakup percepatan pengolahan, kenaikan harga jual emas, beroperasinya sarana CIL pada 2028, serta tingginya penyerapan emas pada ranah teknologi maupun investasi.

Reporter: Moch Febrianto