Nilai Tukar Rupiah dan SBN Anjlok Akibat Ketidakpastian Kebijakan RI
JAKARTA - Beban terhadap mata uang rupiah kian berat di tengah meningkatnya keraguan kebijakan di dalam negeri.
Pihak dari Sumbernya beranggapan penurunan rupiah belakangan ini bukan sekadar terimbas sentimen global, melainkan turut disulut ketakutan pasar terhadap keberlanjutan kebijakan moneter tanah air.
Pada Selasa (28/7) kemarin, rupiah masih berada di atas batas psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dengan pelemahan menyentuh kisaran 1% secara month to date (MtD) dan 8,5% sejak awal tahun atau year to date (YtD).
Hal tersebut menjadikan rupiah sebagai mata uang yang mengalami pelemahan paling dalam di kawasan.
Pengamat dari Sumbernya membeberkan, meskipun konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah sempat mereda seusai terdapat jeda sementara pertikaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, ketidakjelasan masih tinggi.
Negara Iran membantah keberadaan gencatan senjata resmi dan menyatakan dialog dengan AS belum kembali bergulir.
Pada sisi lain, perhatian investor tetap terpusat ke Selat Hormuz yang masih disekat, sementara aktivitas militer di wilayah tersebut masih berlanjut.
Meskipun harga minyak meluncur lebih dari 2% akibat perkiraan berkurangnya potensi gangguan pasokan, prospek geopolitik dinilai masih sangat meragukan.
Dari domestik, pemerintah pun melonggarkan ketentuan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) untuk pengiriman barang ke AS, China, Australia, dan Kanada.
Para eksportir tambang yang memenuhi kriteria saat ini hanya diharuskan menyimpan minimal 30% dana hasil ekspor di rekening khusus dalam negeri selama tiga bulan, dibanding regulasi sebelumnya yang mengharuskan penyimpanan 100% selama 12 bulan.
"Meski kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan likuiditas eksportir dan menjaga daya saing perdagangan, relaksasi tersebut berpotensi mengurangi likuiditas valas domestik dan melemahkan dukungan struktural terhadap stabilitas Rupiah," ungkap Jessica dalam riset Rabu (29/7).
Analis tersebut juga menilai penurunan tajam rupiah terutamanya dipicu oleh ketakutan pelaku pasar terkait kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
"Depresiasi rupiah yang tajam terutama didorong oleh kekhawatiran atas isu pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo yang meningkatkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan kebijakan, kredibilitas institusi, dan tata kelola," terangnya.
Beban juga tampak di pasar obligasi.
Hasil investasi Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,39%, sementara yield tenor dua tahun relatif konstan di angka 7,11%.
Situasi ini mengindikasikan para pemodal masih mengutamakan surat utang berdurasi pendek di tengah tingginya keraguan.
Selain itu, premi risiko tanah air turut merangkak naik.
Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun terangkat menuju 93 basis poin, angka tertinggi dalam durasi satu bulan terakhir, yang menggambarkan lonjakan persepsi risiko pada aset dalam negeri.
Ke depan, pihak dari Sumbernya memperkirakan pemodal bakal tetap memilih bersikap wait and see hingga ada kepastian mengenai penetapan Gubernur BI yang baru serta langkah regulator dalam menjaga kebijakan.
Daya tarik obligasi diperkirakan masih berfokus di tenor pendek, sementara haluan sentimen pasar bakal sangat tergantung pada kemampuan pemerintah memastikan peralihan pimpinan berjalan mulus serta merawat kepercayaan terhadap sistem kebijakan moneter nasional.