Prospek Emas Terangkat Ketika Minyak Anjlok, Pasar Tunggu Arah The Fed

Prospek Emas Terangkat Ketika Minyak Anjlok (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 28 Juli 2026 | 10:12:32 WIB

JAKARTA - Banderol emas merangkak naik pada Senin (27/7/2026) setelah penurunan tensi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong harga minyak mentah merosot hingga ke posisi terendah dalam satu pekan.

Situasi ini mengurangi kecemasan inflasi sekaligus memperbesar peluang bahwasanya Federal Reserve (The Fed) akan memiliki kelonggaran lebih untuk memangkas suku bunga, sehingga menyokong daya tarik logam mulia.

Harga emas terkerek 0,9% menjadi US$ 4.087,59 per ons, sedangkan kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk penyerahan Agustus menguat 0,5% ke posisi US$ 4.090 per ons.

Laju emas juga ditopang oleh penurunan indeks dolar AS sebesar 0,1%.

Merosotnya nilai dolar membuat komoditas emas yang ditransaksikan dalam mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi pembeli internasional sehingga memacu permintaan.

"Pada dasarnya yang kami lihat adalah pasar minyak turun dari lebih dari US$ 100 minggu lalu menjadi US$ 90, dan ini mendorong prospek suku bunga lebih rendah," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities dilansir dari Sumbernya.

Harga minyak sebelumnya melorot sekitar 6% dan menyentuh posisi terendah dalam sepekan setelah AS dan Iran menghentikan aksi saling gempur di akhir pekan.

Penghentian bentrokan yang tercipta seusai konflik selama dua minggu memberikan harapan bahwa penyelesaian diplomatis dapat diwujudkan dan kegiatan pelayaran di Selat Hormuz kembali berjalan normal.

Melandainya harga energi ikut menekan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Kondisi ini mengurangi dugaan bahwa bank sentral AS perlu mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Walaupun emas populer sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, lonjakan suku bunga biasanya menurunkan daya tarik logam mulia sebab tidak menawarkan imbal hasil seperti produk keuangan lainnya.

Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Perhatian para pelaku pasar saat ini terfokus pada pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve yang rencananya digelar pada Rabu (29/7/2026).

Merujuk pada data CME FedWatch, sekitar 66% pelaku pasar menduga bank sentral AS bakal membiarkan suku bunga acuannya tetap.

Walau demikian, pasar tetap memperhitungkan peluang sekitar 79% bahwa Federal Reserve bakal mulai menaikkan suku bunga pada September, tergantung pada tren inflasi serta kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Selain dari keputusan suku bunga, investor juga menunggu rilis data pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi acuan bagi Federal Reserve, yang akan diumumkan pada Kamis.

Data itu diprediksi menjadi acuan penting terkait arah kebijakan moneter dalam kurun beberapa bulan ke depan.

Di sisi lain, data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong yang diterbitkan pada Senin menunjukkan impor emas bersih China lewat Hong Kong pada Juni terangkat lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kendati demikian, volumenya tetap mengalami penurunan lebih dari 5% jika dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada pasar logam mulia lainnya, harga perak merangkak naik 1,3% menjadi US$ 58,92 per ons.

Platinum menguat 2,3% menjadi US$ 1.625,31 per ons, sementara paladium melambung 3,4% menjadi US$ 1.285,79 per ons.

Reporter: Moch Febrianto