Lonjakan Harga Emas Dan Perak Dipicu Oleh Meredanya Ketegangan AS Iran

Lonjakan Harga Emas Dan Perak (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 28 Juli 2026 | 10:12:32 WIB

JAKARTA - Banderol emas merangkak naik usai jeda bentrokan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong harga minyak mentah merosot ke tingkatan terendah dalam sepekan.

Kerosotan nilai minyak meredakan kecemasan inflasi mendekati penetapan tingkat suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan ini.

Mengutip Refinitiv, nominal emas pada sesi penutupan perdagangan Senin (27/7/2026) berada pada level US$4075,16 per troy ons. Angkanya terangkat 0,58%. Lonjakan ini meneruskan tren positif emas yang menguat 0,7% dalam dua hari belakangan.

Nilai emas mengalami sedikit penurunan pada hari ini. Pada Selasa (28/7/2026) pukul 06.42 WIB, harga emas menyusut 0,07% menuju US$ 4072 per troy ons.

Kelesuan emas didorong oleh melemahnya nilai minyak serta mata uang dolar AS.

Pada Senin, kontrak minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman September meluncur 8,7% menjadi US$88,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 7,5% dan berakhir di angka US$82,61 per barel.

"Yang terutama kami lihat adalah harga minyak turun dari di atas US$100 pekan lalu menjadi sekitar US$90, dan itu mendorong ekspektasi suku bunga menjadi lebih rendah," kata dari Sumbernya.

Banderol minyak Brent meluncur setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada para wartawan bahwa AS sedang melangsungkan diskusi yang positif bersama Iran.

Kedua negara membekukan sementara aksi saling gempur sepanjang akhir pekan seusai dua pekan berseteru.

Tindakan tersebut memunculkan ekspektasi akan jalan keluar diplomasi yang mampu meredakan ketegangan sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Penurunan nilai energi membantu meringankan tekanan inflasi serta mengurangi perkiraan bahwa suku bunga tinggi bakal bertahan lebih lama.

Walaupun emas dipahami sebagai instrumen pelindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga umumnya menekan daya pikat logam mulia lantaran tidak memberikan imbal hasil.

Para pelaku pasar saat ini menantikan kepastian suku bunga Federal Reserve pada Rabu. Sesuai perkiraan CME FedWatch, pasar memprediksi probabilitas 62% bahwa The Fed bakal mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan kali ini.

Namun, para pelaku pasar turut memproyeksikan peluang berkisar 82% bahwa bank sentral AS bakal kembali menaikkan suku bunga pada September.

Di samping itu, investor juga menanti pemaparan data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode Juni pada Kamis. Data inflasi yang menjadi patokan utama The Fed tersebut bakal memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter.

Sementara itu, data dari Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong memperlihatkan impor bersih emas China melewati Hong Kong pada Juni melonjak lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Walau demikian, volumenya tetap terkoreksi lebih dari 5% dibandingkan bulan sebelumnya.

Harga perak turut semakin berkilau.

Mengutip Refinitiv, nominal perak pada penutupan sesi perdagangan Senin (27/7/2026) menguat ke level US$58,41 per troy ons. Angkanya melonjak 0,85%.

Lonjakan ini memperpanjang tren positif emas yang terangkat 1,3% dalam dua hari belakangan.

Pada Selasa (28/7/2026) pukul 06.44 WIB, nilai perak terkikis 0,02% menuju US$ 58,39 per troy ons.

Reporter: Moch Febrianto