Tantangan Berat Pergerakan Harga Emas Pekan Ini Dan Prospek Terbarunya

Tantangan Berat Pergerakan Harga Emas (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 27 Juli 2026 | 11:01:15 WIB

JAKARTA - Nilai tukar emas serta perak pada minggu ini bakal menjumpai sejumlah ancaman.

Berdasarkan data Refinitiv, nilai emas pada penutupan sesi perdagangan pamungkas minggu lalu, Jumat (24/7/2026) berakhir di angka US$ 4052,56 per troy ons atau melonjak 0,13%.

Laju penguatan tersebut menjadi angin segar usai nilainya anjlok 2% pada hari Kamis.

Dalam kurun sepekan, nilai emas tercatat masih merangkak naik 0,89% secara mingguan.

Lompatan sepekan ini menghentikan tren negatif di mana emas sempat terperosok dalam dua minggu berturut-turut sebelumnya.

Nilai emas terus bergerak melaju kencang pada hari ini.

Pada Senin (27/7/2026) pukul 06.24 WIB, nilai emas berada di level US$ 4086,64 per troy ons atau melambung 0,85%.

Pada akhir pekan kemarin, tren kenaikan emas mulai kehabisan daya dorong lantaran para pemodal kembali mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), indikator ekonomi, serta potensi risiko geopolitik.

Minggu ini bakal menjadi penentu arah pergerakan emas.

Pasar akan mencermati jalannya forum rapat The Fed, pengumuman produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat (AS), hingga tingkat inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi barometer utama bank sentral AS.

Para pelaku pasar pun kian memperkirakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) bakal kembali mengerek suku bunga pada September, meskipun dalam pertemuan minggu depan tingkat suku bunga diprediksi tetap dipertahankan.

Di samping itu, ketetapan tarif baru dari Presiden Donald Trump bagi kurang lebih 60 negara ikut menyulut kekhawatiran timbulnya inflasi.

Capaian data yang lebih lesu berpeluang memperkuat kans pemangkasan moneter sekaligus melambungkan nilai emas, sedangkan data yang lebih kokoh dapat menguatkan pendirian hawkish The Fed sehingga menekan komoditas logam mulia.

Dilihat dari sisi permintaan, pasokan impor emas China melonjak mencapai kisaran 173 ton pada Juni, angka tertinggi sejak Maret 2024.

Kendati demikian, tingkat permintaan domestik secara keseluruhan masih tergolong lemah sehingga belum mampu menopang tren kenaikan nilai emas secara berkesinambungan.

Di saat bersamaan, otoritas China juga mulai membatasi transaksi derivatif emas khusus bagi pemodal ritel, yang berpotensi mengalihkan sebagian minat ke bentuk emas fisik.

Berdasarkan analisis teknikal, ambang batas US$4.000 menjadi zona penopang (support) yang teramat krusial.

Emas mampu bertahan di atas level tersebut biarpun sempat meluncur hingga berkisar US$3.940.

Malahan, kisaran US$4.100 kini menjadi zona hambatan (resistensi) yang mesti ditembus demi membuka kans kenaikan lebih jauh.

Di luar faktor finansial, perselisihan AS-Iran masih menjadi pemicu ketidakpastian.

Biarpun ketegangan mulai menyusut setelah kedua belah pihak membekukan sementara aksi serangan, potensi eskalasi tetap mampu memicu pemodal kembali memburu instrumen safe haven seperti emas.

Perpaduan ketetapan The Fed, rilis inflasi PCE, pertumbuhan roda ekonomi AS, serta dinamika geopolitik diprediksi bakal membuat pergerakan nilai emas tetap sangat bergejolak sepanjang minggu ini.

Reporter: Moch Febrianto