Proyeksi Mata Uang Rupiah Minggu Depan Lemah Tembus Rp 18.000 Dolar AS
JAKARTA - Kurs mata uang rupiah berpeluang mengalami penurunan sampai melewati angka di atas Rp 18.000 per dolar AS pada transaksi sepekan mendatang.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan kurs rupiah bahkan dapat menyentuh tingkat Rp 18.200 per dolar AS.
Depresiasi mata uang nasional ini didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang sudah melewati ambang batas APBN senilai USD83 per barel.
Situasi harga minyak yang melewati perkiraan anggaran negara itu secara langsung mendongkrak keperluan dolar AS pada pasar domestik.
Eskalasi permintaan dolar AS kian tinggi seiring berlangsungnya triwulan kedua yang merupakan batas waktu pembayaran deviden.
Tingginya kebutuhan mata uang Paman Sam itu diprediksi tetap menekan rupiah walaupun Bank Indonesia sudah membatasi transaksi sebesar USD 25 ribu per hari.
Di sisi lain, pergerakan rupiah semakin terbebani oleh penguatan indeks dolar AS yang pada penutupan pekan berada di level 101,47.
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS bakal bergerak di antara level support 100,40 sampai resistance 102,40 sepanjang sepekan mendatang.
"Jadi, range untuk sepekan ke depan indeks dolar itu 100,40 dan 102,40," kata Ibrahim dalam pesan suara, Minggu (26/7).
Takanan terhadap mata uang diproyeksi makin tajam mendekati rapat Bank Sentral Amerika Serikat pada pekan mendatang.
Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan bakal mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada posisi tinggi guna menekan potensi lonjakan inflasi.
Uniknya, penurunan nilai tukar rupiah yang substansial ini malah diprediksi berefek menahan laju penurunan harga emas batangan domestik.
Kombinasi ketidakpastian geopolitik internasional dan faktor ekonomi dalam negeri menjadi rintangan utama bagi stabilitas rupiah dalam jangka pendek.