Bobot Saham Indonesia di MSCI Turun, Aliran Modal Asing Terancam Turun

Bobot Saham Indonesia di MSCI Turun (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 22 Juli 2026 | 11:23:28 WIB

JAKARTA - Pihak dari Sumbernya (kode broker YP) membeberkan tren kemerosotan bobot Indonesia pada indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Emerging Markets yang dianggap ikut memicu arus dana asing ke pasar saham dalam negeri.

Research Analyst dari Sumbernya Wilbert Arifin menyatakan bahwa tren penurunan bobot Indonesia pada kelompok Emerging Markets sudah berjalan selama dua dekade belakangan.

Hingga Juni 2026, bobot Indonesia berada di level 0,4%, merosot dibanding 1,2% pada Desember 2025 atau berkurang kisaran 63% secara year-to-date.

Merujuk pada data yang dikumpulkan dari Sumbernya, bobot Indonesia pada MSCI Emerging Markets pernah menyentuh kisaran 1,5% di Juni 2006 serta mencatatkan rekor tertinggi sebesar 3,2% di Juni 2012.

Pada Juni 2026, Indonesia menduduki urutan ke-17 dalam grup Emerging Markets dengan bobot 0,4%, sejajar dengan Chile (urutan ke-16), Peru (ke-18), serta Turki (ke-19).

Di posisi atas Indonesia ada Qatar (urutan ke-15), Yunani (ke-14), dan Kuwait (ke-13) yang mana tiap-tiap negara mempunyai bobot 0,5%.

Pada wilayah Asia Tenggara, Malaysia menempati posisi ke-12 lewat bobot 0,9%, sementara Thailand pada peringkat ke-11 dengan bobot 1%.

“Dengan bobot kami yang menurun, ini juga berdampak terhadap posisi investor asing. Kami lihat secara year-to-date, sudah terjadi arus modal keluar sekitar US$5 miliar, baik pasif maupun aktif. Di sini terlihat pentingnya bobot kami di MSCI atau penyedia indeks,” kata Wilbert dalam Media Gathering secara daring, Selasa (21/7/2026).

Di samping bobot indeks, Wilbert turut memberi perhatian pada kemerosotan kepemilikan pemodal asing pada pasar saham Indonesia selama kurun satu dekade terakhir.

Di Juni 2017, bobot Indonesia pada MSCI Emerging Markets masih berada di angka 2,5%, namun per Juni 2026 susut menjadi 0,4%.

Seiring hal tersebut, porsi kepemilikan pemodal asing di pasar saham Indonesia turut berkurang, dari kisaran 54,6% di Juni 2017 menjadi 40,6% per Juni 2026.

Menurut Wilbert, kans pasar saham Indonesia turun kasta menuju kelompok Frontier Markets tetap terbuka bilamana beragam masalah struktural tidak segera ditangani.

Ia menyampaikan pemodal asing masih mengamati beberapa aspek, seperti halnya porsi saham beredar di publik (free float), keterbukaan data, serta kualitas tata kelola pasar.

“Mungkin mereka menduga adanya potensi goreng-goreng saham. Mereka [MSCI] memberikan pengumuman, meminta harus ada perbaikan dan memberikan ancaman bila tidak ada perubahan, maka kami berpotensi mengalami antara, satu penurunan bobot di Emerging Market, kedua reklasifikasi ke Frontier Market,” ujar Wilbert.

Wilbert menerangkan, dana kelolaan yang berpatokan pada indeks MSCI Emerging Markets menyentuh kisaran US$1,8 triliun, jauh lebih melimpah jika dibandingkan Frontier Markets yang sekadar di kisaran US$15 miliar.

“Kami perkirakan, skenario terburuk kami pindah ke Frontier, maka sekitar Rp80 triliun, ada dana asing yang mungkin keluar itu terjadi. Ini sudah memperhitungkan berapa dana yang keluar dari Emerging Market dan dana yang masuk dari Frontier Market,” lanjutnya.

Selama tahun ini, modal asing yang hengkang dari pasar saham Indonesia telah menyentuh kisaran Rp90 triliun.

Apabila Indonesia sungguh-sungguh direklasifikasi menuju Frontier Markets, potensi tambahan aliran dana keluar sekitar Rp80 triliun diperkirakan sanggup memberi tekanan hebat bagi pasar.

Kendati begitu, Wilbert mengungkapkan MSCI tetap memberi tenggat hingga November 2026 bagi Indonesia guna memperlihatkan perbaikan, sembari tetap menjaga status pasar saham Indonesia pada kelompok Emerging Markets.

“Memang berita bagusnya kami bertahan di Emerging Market, tapi dengan syarat dan ketentuan, mereka melihat pasar modal kami sudah mengalami reformasi... tapi yang mereka perhatikan adalah konsistensinya. Mereka tidak mau hanya melihat data perubahan sekejap,” tutup Wilbert.

Reporter: Moch Febrianto