Prospek Rupiah Pekan Depan di Tengah Ancaman Kenaikan Minyak Mentah

Badai ekonomi menghantam! Konflik Timur Tengah mendorong harga minyak menembus USD100 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 21 Juli 2026 | 10:47:35 WIB

JAKARTA - Posisi mata uang rupiah diselesaikan dengan kenaikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sesi perdagangan Jumat (17/7/2026).

Walaupun begitu, laju nilai tukar rupiah pada pembukaan pekan depan tetap terancam oleh dinamika global, utamanya memanasnya pertikaian di Timur Tengah yang berpeluang menahan harga minyak mentah internasional tetap tinggi.

Berdasarkan pencatatan Bloomberg, pada Jumat (17/7/2026) nilai rupiah di pasar spot merangkak menguat Rp 65 atau 0,36% menuju level Rp 17.921 per dolar AS.

Dalam periode satu minggu, kurs rupiah spot tercatat terapresiasi 0,80% dari angka Rp 18.065 per dolar AS pada Jumat (10/7).

Kurs transaksi rupiah di Jisdor juga terpantau menguat Rp 97 atau 0,54% menjadi Rp 17.944 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Capaian nilai tukar rupiah pada Jisdor turut menorehkan apresiasi dalam empat hari transaksi secara berturut-turut.

Secara mingguan, kurs rupiah Jisdor terhitung menguat 0,69% jika dibandingkan angka Rp 18.069 per dolar AS pada penutupan pekan lalu.

Pengamat pasar keuangan dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan penguatan nilai tukar rupiah dipicu oleh hadirnya dorongan positif dari dalam negeri, terutama usai Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa geliat dunia usaha pada kuartal II-2026 mengalami kenaikan.

Mengutip data Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), besaran Saldo Bersih Tertimbang (SBT) berhasil menyentuh 12,97%, menguat jika dibandingkan dengan posisi 10,11% pada triwulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut ditopang oleh penguatan kinerja di bermacam sektor primer, seperti pertanian, konstruksi, pertambangan, serta akomodasi dan penyediaan makan minum seiring momen perayaan keagamaan dan masa libur sekolah.

Tak hanya itu, angka kapasitas produksi terpakai juga tercatat menguat menjadi 73,8% dari angka 73,33% di periode lalu.

Lonjakan kapasitas produksi terpakai ini utamanya disumbang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, serta LU Pengadaan Listrik.

"Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah," ujar Ibrahim, Jumat (17/7/2026).

Namun demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa faktor dari luar negeri masih memegang peranan kunci yang menekan pergerakan rupiah.

Ketegangan di Timur Tengah kembali bergejolak pasca Amerika Serikat melakukan gempuran pada sejumlah titik di Iran, yang balasan resminya dilakukan Teheran melalui peluncuran rudal dan drone ke pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Kondisi tersebut memantik kecemasan terhambatnya rantai pasok minyak dunia dan berpotensi mempertahankan harga bahan bakar di tingkatan tinggi.

Ancaman ini turut dikhawatirkan sanggup memicu kembali lonjakan inflasi di ranah global.

Berdasarkan pandangan Ibrahim, melambungnya harga minyak dunia dapat menghambat upaya bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk segera melonggarkan suku bunga, kendati laporan inflasi AS terbaru memperlihatkan laju kenaikan harga yang mulai mendingin.

Reporter: Moch Febrianto