Rupiah Bertahan di Bawah Rp18.000, Tertekan Sentimen Luar dan Dalam Negeri
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah berhasil naik tipis di bawah titik psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring penurunan indeks dolar dunia, kendati laju penguatannya cenderung terganjal oleh rentetan sentimen dalam negeri serta besarnya risiko luar negeri.
Merujuk pada data Bloomberg pada Jumat (17/7/2026), mata uang Garuda di pasar spot mengakhiri perdagangan dengan menguat 0,36% ke posisi Rp 17.921 per dolar AS.
Adapun data Trading Economics mencatat rupiah berfluktuasi di kisaran Rp17.946 per dolar AS, atau mengalami penguatan sekitar 0,74% dalam sepekan terakhir.
Baca Juga: IHSG Kembali Dibayangi Penutupan Selat Hormuz, Saham Energi Berpotensi Curi Perhatian
Di samping itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan kenaikan rupiah menuju Rp 17.944 per dolar AS dari hari sebelumnya yang sempat tertahan di angka Rp 18.041 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menganggap rupiah saat ini merasakan efek jeda ketimbang pergerakan mata uang negara tetangga lantaran lebih dikuasai oleh faktor dalam negeri daripada pergerakan murni dolar global.
Berdasarkan penuturan Dipo, aksi jual investor asing pada instrumen saham maupun obligasi akibat masalah tata kelola dan peninjauan indeks MSCI menjadi ganjalan bagi pemulihan portofolio nasional.
"Pelemahan dolar global memberi ruang napas, tapi faktor domestik (outflow asing, kebutuhan valas musiman, dan sentimen risk-off) masih kuat," ujar Dipo dari Sumbernya, Jumat (17/7/2026).
Senada, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menerangkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tertekan defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 mencapai 1,1% PDB dan defisit neraca perdagangan Mei sebesar US$ 1,61 miliar lantaran tingginya impor migas.
"Level di bawah Rp18.000 dapat bertahan jika pasokan devisa ekspor membaik, investor asing kembali masuk ke SBN dan saham, serta konflik geopolitik mereda," jelas Syafruddin dari Sumbernya, Jumat (17/7/2026).
Untuk memperkokoh nilai tukar ritel dan makro, Bank Indonesia diproyeksikan pasar akan mengambil langkah pengetatan dengan menaikkan lagi BI-Rate sebesar 25 basis poin pada Juli 2026 mencapai level 5,75%.
Untuk kurun waktu pendek, Dipo memperkirakan mata uang Garuda akan berfluktuasi di rentang Rp17.800 sampai Rp18.200 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Menguat 4,24% dalam Sepekan, Transaksi Harian BEI Melonjak 36,25%
Di sisi lain, Syafruddin memprediksi rentang kuartal III-2026 ada di posisi Rp17.800 sampai Rp18.400 per dolar AS, dengan kecenderungan risiko terdepresiasi menuju Rp18.300 pada akhir September seandainya pasokan devisa perdagangan belum kembali normal.
Pengamat Ekonomi CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa otoritas moneter saat ini memikul beban biaya ekonomi yang kian meningkat apabila terus mengandalkan intervensi modal, cadangan devisa, dan tingkat suku bunga tinggi untuk menstabilkan kurs.
"Penguatan jenis kedua (ditopang fundamental ekonomi dan masuknya devisa) tentu jauh lebih sehat dan berkelanjutan," tutup Yusuf.